Tag Archives: #UK

Hingga akhirnya mengantongi tiket Piala Dunia 2018

Masih menyambung tulisan sebelumnya. Saya akan mencoba menjabarkan proses pembelian tiket dan pengurusan dokumen penunjang Piala Dunia 2018 di Rusia kali ini.

IMG_1302

Tiket pertandingan Jepang vs Polandia, Group H Match, Volgograd Arena, Rusia, 28 Juni 2018.

Semua bermula di November 2017 lalu. Saat itu sepanjang periode 16 – 28 November 2017, melalui website resmi FIFA dibuka lah gelombang “First Come First Served” pertama. Antrian dibuka pada pukul 09.00 BST (karena saya memang tinggal di Leeds, jadi waktunya saya sesuaikan dengan tempat saya berada). Setelah masuk dalam antrian, saya harus menunggu sekitar 3 jam untuk bisa mengakses laman pembelian tiket.

Screenshot (2)

Antrian yang terpampang saat mengakses laman pembelian tiket World Cup 2018

Perlu diingat saat berniat membeli tiket pertandingan, kita sudah harus memiliki akun di website resmi FIFA. Setelahnya tinggal log in dan mengikuti arahan sebagaimana yang tertera pada website.

Namun rejeki ternyata tidak berpihak pada saya. Saat saya berhasil mengakses laman pembelian, tiket yang tersisa tinggal kategori 1 dan 2 yang mana jauh di atas budget saya. Sayangnya, saya tidak bisa ingat berapa harga tiketnya saat itu.

Peruntung kedua pun saya lakukan dengan mengikuti “Random Selection Draw” fase kedua periode 5 Desember 2017 – 31 Januari 2018. Prosesnya adalah kita tinggal memilih pertandingan yang ingin kita tonton, lalu melakukan request. Nantinya FIFA akan mengumumkan apakah kita mendapatkan tiket yang kita ajukan. Setelah itu baru pembayaran akan dilakukan dengan langsung menarik dana dari rekening tabungan yang sudah kita daftarkan.

Lagi, rejeki belum berpihak pada saya. Kala itu saya mengajukan request untuk Match ke – 51 yang jika dilihat sekarang adalah pertandingan Spain vs Russia di Moscow pada babak 16 besar lalu.

Saya tidak putus semangat. Memasuki periode 13 Maret – 3 April 2018, FIFA kembali mengadakan “First Come First Served” fase kedua. Saya dan teman-teman pun mencoba peruntungan sekali lagi.

Kali ini rejeki berpihak pada kami. Setelah mengantri sekitar 2 jam dan menunggu dengan cemas, akhirnya kami berhasil mengantongi tiket kategori 3, Jepang vs Polandia untuk tanggal 28 Juni 2018 di Volgograd Arena. Harga tiket sendiri adalah 115 USD atau sekitar 72 GBP.

Rencana awal kami memang mengincar pertandingan di kota Moscow atau St. Petersburg sehingga akan meminimilasir budget perjalanan ke kota lainnya. Namun persaingan untuk kedua kota tersebut sangat ketat. Sehingga sebagai gantinya kami menghemat biaya akomodasi selama perjalanan dan memilih menghabiskan waktu di perjalanan selama trip kali ini.

Setelah tiket berhasil dikantongi. Langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah membuat FAN ID. Hanya saja, pada tahap ini kami sedikit lengah. Mengingat waktu yang bertepatan dengan libur musim semi. Kami semua sibuk menikmati liburan dan meninggalkan kewajiban untuk membuat FAN ID.

Screenshot (3)

Website untuk pembuatan FAN ID

Kebutuhan membuat FAN ID ini berkaitan dengan kemampuan untuk memilih dan mereservasi tiket transportasi gratis antar kota di Rusia dari FIFA. Singkat cerita, kami baru membuat FAN ID sekitar akhir April 2018.

Pembuatan FAN ID terhitung mudah. Kita tinggal mengakses website FAN ID, lalu memasukkan nomer tiket pertandingan yang sudah kita miliki kemudian mengisi data diri pada kolom-kolom yang tersedia. FAN ID ini juga berlaku sebagai visa Rusia bagi warga internasional.

Sebagai informasi, visa Rusia berbeda dari Schengen. Meski terletak di kawasan Eropa namun untuk berkunjung ke Rusia kita membutuhkan visa tersendiri. Proses pengajuan visanya sendiri (dari UK) memakan waktu sekitar 1 bulan dengan biaya 90 USD. Selain itu, bagi warga negara Indonesia hanya dapat mengajukan visa single entry. Sehingga pilihan ini cukup menguras isi kantong.

Untungnya, FIFA memberikan solusi dengan mengeluarkan kebijakan FAN ID. Halaman depan FAN ID berbentuk seperti tanda pengenal pada umumnya, dengan nama dan foto diri. Sedangkan pada halaman belakangnya terdapat visa resmi Rusia bagi sang pemilik data diri.

Keuntung lainnya memiliki FAN ID adalah kita bisa melakukan multiple entry ke Rusia sepanjang 5 Juni – 25 Juli 2018 (atau selama World Cup berlangsung ditambah 10 hari di awal dan 10 hari di akhir).

Imbas dari keterlambatan membuat FAN ID, transportasi gratis antar kota yang kami incar dari Moscow – Volgograd sudah full booked. Kami pun menunggu hingga akhir Mei 2018, berharap ada penonton yang membatalkan tiketnya sehingga tersisa kursi kosong bagi kami. Namun, karena tak ada tanda-tanda menjelang awal Juni 2018 kami pun memutuskan membeli tiket kereta sebagai salah satu alternatif termurah ke Volgograd.

Tiket kereta kami beli melalui website resmi perusahaan kereta api milik negara Rusia atau RZD Russian Railways. Mengingat perjalanan memakan waktu sekitar 24 jam, kami memutuskan membeli tiket dengan tempat tidur seharga sekitar 30 GBP.

Kelar urusan transportasi, dibutuhkan waktu sekitar 1  – 2 minggu hingga akhirnya FAN ID sampai ke rumah. Pilihan lainnya, FAN ID bisa diambil di FAN ID Center yang tersebar di seluruh kota pertandingan di Rusia. Namun mengingat FAN ID ini merupakan visa untuk masuk ke Rusia maka kami memilih dikirim ke rumah. Tanpa biaya tambahan.

Sedangkan untuk tiket pertandingannya sendiri juga dikirim ke rumah dan baru tiba di awal Juni 2018 lalu. Keduanya harus dibawa serta kemana pun kita berada saat masuk ataupun berada di Rusia.

Masih banyak keuntungan yang bisa didapat dari penggunaan FAN ID. Tapi akan diceritakan dalam tulisan selanjutnya ya. Meski Piala Dunia 2018 sudah sisa beberapa pertandingan, semoga tulisan ini cukup memberikan gambaran jika kalian berencana membeli tiket Piala Dunia 2022 di Qatar.

Pelajaran dari semuanya, sebaiknya mencari informasi sebanyak-banyaknya terlebih dahulu sebelum fase pembelian tiket dibuka. Setelah itu, banyak membaca dan mencari tahu kebutuhan penunjang lainnya. Mulai dari visa, tiket transportasi hingga akomodasi. Sebagai gambaran, hampir semua tiket transportasi dan akomodasi di Rusia terutama di kota-kota yang menyelenggarakan pertandingan, harganya naik 2 – 3 kali lipat dari harga biasa.

Maka ada baiknya perjalanan disusun dari jauh hari. Semakin cepat perencanaan dilakukan, maka eksekusi membeli tiket dan menyewa hotel atau airbnb bisa dilakukan dengan segera. Tidak sedikit para penonton asing yang kehabisan tiket transportasi antar kota atau harus membayar berkali lipat demi tempat tinggal. Tentunya lebih hemat akan lebih baik kan?

32A7723B-535F-4AB3-8710-A0606116BBB1

FAN ID

Saint Petersburg, 4 Juli 2018. – NDN.

Berikut link tiket FIFA, pembuatan FAN ID dan tiket kereta antar kota Rusia:

FIFA: https://www.fifa.com/worldcup/

FAN ID: https://www.fan-id.ru/

RZD: http://www.rzd.ru

Advertisements

Sambut Idul Fitri Tanpa Kumandang Takbir dan Sepasukan Keluarga Nainggolan

Ternyata yang berat itu bukan puasa 18 jam di negeri orang, tapi melewati malam lebaran tanpa takbiran dan sepaket keluarga yang selama ini tidak pernah terlewatkan. Percayalah, puasa sepanjang itu tidak ada artinya daripada melewati malam jelang Hari Raya Idul Fitri dalam keramaian tanpa suara takbir berkumandang dan hangatnya kebersamaan di ruang tamu keluarga.

Saya sudah berkali-kali tinggal jauh dari rumah, melewati malam di kamar kos atau kamar asrama sendirian juga pernah. Tapi satu yang saya sadari, saya tak pernah sekalipun lebaran sendirian. Apalagi kini di luar negeri. Di negara yang suara Adzan pun tak boleh berkumandang nyaring.

Ada satu titik di hati yang terasa kosong. Saya memilih menanggalkan perasaan nelangsa itu dengan memutar suara takbir dari YouTube. Bahkan rasanya tergetar hati ketika mendengar suara takbir yang berkumandang dari rekaman teman-teman di tanah air melalui aplikasi instastory di Instagram. Dari lubuk hati anak rantau ini saya ingin mengucapkan terima kasih yang besar bagi teman-teman yang mungkin tidak pernah berpikir sejauh itu. Bahwa takbir yang kalian rekam sudah berhasil menghangatkan hati saya dan mungkin juga teman-teman lainnya di belahan dunia manapun.

Saya selalu menikmati suara takbir yang berkumandang, saat-saat rusuh bangun tidur pagi dan berburu ke masjid dekat rumah untuk ikut Sholat Idul Fitri, bergegas pulang dan membantu mama menghangatkan tauco, balado, lontong dan sayur lodehnya, mengantri berbaris untuk saling bermaaf-maafan dengan Papa, Mama, Igon, Biela dan Putri, berbagi lontong dengan tetangga dan para satpam di sekitar komplek hingga berebutan foto lebaran di dalam rumah.

Bahkan ketika menuliskan ini, perasaan hangat dan rindu itu membuncah hebat. Ternyata, ada satu nikmat lain yang selama ini tidak saya sadari besarnya karena saya terbiasa mendengarnya, yakni, kumandang takbir. Ternyata, lebaran tanpa takbir sekosong ini.

Tapi, ini hari kemenangan. Tak ada nikmat yang luput. Mungkin kali ini tak ada suara takbir yang menggema dan keluarga Nainggolan di sisi, tapi Allah SWT memberikan teman-teman yang rela menghabiskan malam bersama dalam senda gurau, sembari sesekali mendengarkan kumandang takbir dari alat pengeras suara. Sekecil apapun hangat yang mengalir dalam hati mu, itu rejeki yang harus disyukuri.

Ada cerita dan pengalaman lain yang akan menjadi bekal kisah di masa mendatang. Bahwa beruntung dan bersyukur lah siapapun yang menghabiskan malam jelang Idul Fitri dalam balutan gema takbir yang tak putus dari masjid sebelah rumah. Terlebih, saat masih berkesempatan sungkem dan memohon maaf langsung dengan bersimpuh di bawah kaki kedua orang tua mu. Karena nikmat-nikmat yang mungkin selama ini sudah terasa seperti ritual itu akan meninggalkan ruang hampa saat tak sempat dilakukan karena terhalang jarak, ruang dan waktu.

Mohon maaf lahir batin atas segala salah dan khilaf yang sengaja maupun tidak. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439H bagi teman-teman yang merayakan. Selamat berkumpul dengan keluarga dan menikmati lontong nikmat. Selamat liburan semuanya! Semoga kita diberikan kesehatan dan umur yang panjang untuk bertemu dengan Ramadhan di tahun depan. Aamiin. – NDN.

2018-06-14 22_23_26.084

Malam Takbiran Menyambut Idul Fitri 1439H, Leeds, 14 Juni 2018.

Bagi Para Pejuang LDR di Luar Sana

Suatu sore yang cukup terang benderang di Leeds, ada seorang teman dekat yang mengirimkan sebuah tulisan. “Tiba-tiba gue kebayang para pejuang kece LDR dan jadi nulis ini sambil mikirin perjuangan keras Nami dan Emir yang kece juga,” katanya waktu itu melalui pesan singkat.

Tergugah dengan barisan kata-kata indah yang ia hasilkan dari buah pikirannya kala itu, saya pun mengucap janji untuk menayangkannya di blog ini.

Karena sungguh, jauh itu bukan perihal jarak.
Jauh ialah waktu.

Jauh adalah untuk seluruh waktu yang tidak sempat kita habiskan bersama.
Jauh adalah untuk seluruh waktu ketika kamu bersinar bersama rembulan dan aku tersengat matahari yang malu-malu.
Jauh adalah saat-saat kamu letih dan berpeluh karena hidup, sementara aku terbuai di masa lelap yang pekat.

Waktu adalah pudar
Dan jauh itu kamu

Lantas kita menjadi nanar yang pendar
Dan perlahan hilang bersama waktu

Leeds, 1 May 2018
Daina.

Tulisan ini pantas disebarkan, tidak hanya bagi saya, tapi bagi siapapun di luar sana yang sedang menerjang perbedaan waktu dan jarak. Karena mungkin ruang tak lagi kita bagi bersama, tapi tak lantas hati berhak mengalah.

Terima kasih, Daina! 🙂

IMG_9367

Manisnya Coklat dan Kota York

York. Sebuah kota yang terletak di bagian Timur Laut Inggris ini merupakan salah satu destinasi favorit pelajar Leeds. Selain jaraknya yang terbilang dekat, tiket kereta ke York terhitung ramah di kantong mahasiswa. Sedikit gambaran, dari Leeds Train Station ke York Train Station berdasarkan keterangan Google berjarak 383,02 km atau sekitar 23,8 miles.

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.00 (1)

Pemandangan saat berjalan dari York Station ke York Minster

Biasanya mahasiswa dengan keanggotan railcard hanya perlu membayar kisaran £3 – £5 untuk sekali perjalanan (semua bergantung waktu keberangkatan). Bahkan ketika perjalanan ke kota lain harus dibeli jauh hari untuk mendapatkan harga yang lebih murah, ke York hal tersebut nyaris tidak perlu dilakukan. Walau bukan tidak mungkin terjadi hal-hal anomali seperti saat harga tiket berada di atas kisaran £7 untuk sekali jalannya atau ketika tiket kereta nyaris penuh di setiap keberangkatan.

Ditambah lagi, perjalanan ke York hanya memakan waktu kurang lebih 30 menit. Sehingga tidak perlu bangun terlalu pagi untuk bisa menikmati hari di York.

Meski tidak bisa dipungkiri, ada nilai lain yang harus dibayar dengan mudah dan murahnya perjalanan ke York. Tempat-tempat menarik untuk dikunjungi seperti York Minster, York Castle, Yorkshire Museum, York’s Chocolate Factory dan Jorvik Viking Centre memiliki tarif tiket masuk yang biasanya mayoritas museum di UK free of charge. Sehingga biasanya dijadikan alternatif adalah mengunjungi tempat-tempat tersebut dan hanya berfoto di bagian luarnya.

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.03

York Castle

Untuk Yorkshire Museum memiliki area taman yang cukup luas di bagian depannya, jika sudah sampai di sana tidak ada ruginya berhenti sesaat, membeli kopi atau coklat hangat dan bersantai di sudut taman. Pemandangannya menenangkan khas taman dan bangunan-bangunan Britania Raya.

Satu yang terngiang pasti saat berkunjung ke York, wangi coklat yang menguar di udara dengan mudahnya tercecap oleh indera penciuman. Hal ini terhitung wajar karena disepanjang city centre York, mata kita akan dimanjakan dengan deretan toko-toko yang menjual coklat dan makanan manis lainnya.

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.01

Jika menilik dari keterangan yang dimuat di laman York’s Chocolate Factory, disampaikan bahwa jika mayoritas kota-kota bagian Utara Inggris dikenal sebagai penghasil wol, kapas dan baja maka York menjadi satu-satunya kota yang menjadikan coklat sebagai tulang punggung perekonomiannya (York’s Chocolate Story).

Salah satu merk coklat no. 1 di York adalah Rowntree’s yang berjaya di awal tahun 1920-an. Setahun setelahnya dikenal sebagai masa kejayaan coklat di York dengan hadirnya beberapa merk coklat terkenal di bawah Rowntree’s seperti Black Magic Blackbox (1934), KitKat (1935), Aero (1935), Dairy Box (1937), dan Smarties (1937) yang waktu itu membawa coklat menjadi icon penting kota York (YorkMix, 2014). Beberapa nama coklat tersebut tentu tidak lagi asing di telinga kita hingga saat ini.

Pastikan, ketika berkunjung ke York untuk membeli coklat atau setidaknya membeli makanan manis untuk menuntaskan selera yang sudah terusik sejak melangkah keluar dari stasiun kereta York. Salah satu daerah yang banyak memberikan pilihan coklat di York adalah Shambles.

Selain membeli coklat, bagi pecinta Harry Potter mungkin akan menemukan surga kecil di beberapa toko di ujung jalan Shambles yang menjual aksesoris beratribut sang penyihir kebanggaan UK tersebut. Salah satu toko yang menjadi incaran turis yang berkunjung ke York adalah The Shop That Must Not Be Named. Konon berdasarkan penuturan seorang teman yang menyukai Harry Potter nama ini mengingatkan ia pada Lord Voldemort yang dikenal sebagai He Who Must Not Be Named. (Sebagai disclaimer, saya bukan lah penggemar Harry Potter bahkan belum pernah sekali pun menonton film atau membaca buku Harry Potter hingga tuntas).

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.01.59 (1)

The Shop That Must Not Be Named, Shambles York

Biasanya ketika berkunjung ke toko tersebut, saya selalu menyempatkan melirik toko teh disebrangnya. “Hebden Tea Company” namanya. Setiap harinya mereka menawarkan dua hingga tiga rasa teh yang bisa dicicip secara gratis. Jika ingin membeli segelas pun harganya cukup terjangkau yakni sekitar £1,20 – £1,50. Bagi pecinta teh juga bisa membeli dalam ukuran lebih banyak dengan hitungan per gram.

Informasi lainnya yang banyak disampaikan oleh teman-teman penggemar Harry Potter, Shambles adalah kawasan yang menjadi inspirasi dari terciptanya Diagon Alley yang tersohor (BBC UK, 2017). Jadi, jangan heran kawasan sempit sarat toko ini akan semakin penuh sesak dengan jejeran orang-orang yang berlomba foto di lorongnya yang mirip Diagon Alley ini.

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.01.59

Shambles, York

Bagi mereka yang mungkin seperti saya (walau kemungkinannya begitu kecil), bukan penggemar Harry Potter, tempat ini sangat cantik dan menarik untuk dikunjungi. Ditambah lagi, kita bisa melanjutkan perjalanan ke Shambles Market York. Kawasan pasar ini menjajakan mulai dari buah, sayur, kue, kopi, sandwich hingga pernak pernik unik yang sayang untuk dilewatkan. Pasar ini buka setiap hari dari pukul 7 am – 5 pm (Shamblesmarket.com).

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.01.58

Shambles Market, York

Alternatif lain, kita bisa berkunjung ke salah satu museum yang menjadi andalan York namun kali ini tanpa biaya masuk alias gratis yakni National Railway Museum. Awalnya, saya berpikir tidak akan banyak waktu yang bisa dihabiskan di sana, namun nyatanya alokasi waktu sejam terhitung kurang.

Banyak hal menarik untuk dilihat selain juga area museum yang cukup luas membuat kita membutuhkan waktu untuk berpindah dari satu area ke area lainnya. Bagian yang paling menarik minat saya selain area Great Hall adalah Station Hall. Dengan tampilan khas stasiun-stasiun kereta api di UK, koleksi gerbong yang pernah digunakan keluarga dan staff kerajaan hingga tersedianya area kafetaria di bagian tengahnya. Suasana yang kental dengan nuansa Britania Raya membuat ruangan ini langsung menjadi favorit saya dari keseluruhan area museum.

 

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.04

Station Hall, National Railway Museum, York

 

Karena pusat kotanya yang terhitung kecil maka akan banyak waktu untuk bersantai dan menikmati keindahan kota dengan duduk santai disalah satu coffee shop. Saran saya, jika berkunjung di musim semi atau panas, sebaiknya manfaatkan cuaca yang cukup hangat (meski tentu tidak ada yang menjamin suhu udara di UK), untuk menyesap segelas kopi atau teh atau hanya duduk di sepanjang kanal yang membentang di tengah kota York.

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.02 (1)

Saya pribadi sangat menikmati momen tersebut. Ada titik di mana riuh rendah kota berpadu dengan ketenangan pemandangan yang indah membawa kesenangan yang tidak terkatakan. Relaksasi sederhana dan tidak menuntut banyak energi. Bahkan bisa dilakukan seorang diri.

 

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.00

York Minster

 

Jika saya memang hanya akan berkunjung ke York biasanya sampai di York pukul 11.00 am dan kembali ke Leeds pukul 17.00 pm sudah lebih dari cukup.

Namun, ada satu tempat lagi yang menjadi incaran para mahasiswa ketika berkunjung ke York yakni York Designer Outlet. Tempat ini menawarkan pilihan brand ternama dengan harga miring sebut saja Fossil, Marks & Spencer, GAP, Next dan Ted Baker. Untuk mencapai York DO maka sebaiknya lakukan saat sampai di York.

Hal tersebut bisa ditempuh dengan menggunakan bus dari halte disebrang stasiun. Bus bernomor 7 dengan tujuan York Designer Outlet adalah pilihan utama. Apabila mengunjungi York saat akhir pekan dan bersama teman-teman, maka sebaiknya membeli tiket bus group seharga £5 untuk 5 orang dan sudah bisa digunakan sebagai tiket pergi-pulang. Namun jika berkunjung seorang diri atau di hari kerja maka tiket pp sekitar £3,10. Harga tiket ini khusus pp ke DO, sebab jika harga tiket harian pp yang berlaku untuk sekitar kota York sekitar £4,20 (getdown.org.uk).

Namun jika hanya ingin menikmati cantiknya kota York, biasanya saya berjalan kaki sepanjang hari. Hal ini karena semua tempat menarik berada dalam jarak yang berdekatan dan tentunya bisa menghemat biaya transportasi.

Saran saya, jika ingin berkunjung ke DO maka sebaiknya sampai di York lebih pagi mungkin sekitar pukul 9.00 – 10.00 am lalu habiskan waktu hingga pukul 3.00 – 4.00 pm di DO dan kembali ke York untuk jalan-jalan di dalam kota sebelum kembali dengan kereta pukul 8.00 – 9.00 pm. Tapi apabila memiliki banyak waktu untuk kembali ke York lagi, ada baiknya memisahkan hari berkunjung ke DO dan mengitari kota York demi menghindari ketergesaan.

Pesan penting: Bagi siapapun yang menikmati coklat sebagaimana saya menikmatinya, maka berkunjunglah ke York dan beli coklatnya!

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.02

References:

BBC UK. 2017. York’s Real Life Diagon Alley Popular with Potter Fans. [Online]. [Accessed 2nd May 2018]. Available from: http://www.bbc.co.uk/news/av/uk-england-york-north-yorkshire-42240392/york-s-real-life-diagon-alley-popular-with-potter-fans.

Get Down. Bus Services in York. [Online]. [Accessed 2nd May 2018]. Available from: http://getdown.org.uk/bus/bus/7.htm.

Shambles Market. Shambles Market About. [Online]. [Accessed 2nd May 2018]. Available from: http://www.shamblesmarket.com.

YorkMix. 2014. 14 Tooth-Achingly Sweet Facts about York and Chocolate. [Online]. [Accessed 2nd May 2018]. Available from: https://www.yorkmix.com/food-drink/fourteen-york-chocolate-facts/.

York’s Chocolate Story. York – The Chocolate City. [Online]. [Accessed 2nd May 2018]. Available from: https://www.yorkschocolatestory.com/the-story/york-the-chocolate-city/.

Aktivasi Identitas Nasional

Demi menjaga konsistensi untuk kembali menulis rutin di blog sendiri maka mari kali ini sedikit membahas kegiatan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Leeds (PPI Leeds) untuk melestarikan budaya Indonesia. Berada jauh dari tanah air sebenarnya justru mengaktivasi kebanggaan warga Indonesia akan budaya tradisional yang ia miliki.

Hal ini pernah dibahas di salah satu kelas yang saya ikuti di semester dua. Bertajuk “Identity, Culture and Technology“, pada salah satu minggunya dibahas mengenai National Identity.

“Attitudes and beliefs that constitute nationality are often hidden away in the deep recesses of the mind brought to full consciousness only by some dramatic event,” (Miller, 1995, p. 18).

Ketika itu di kelas dibahas bahwa salah satu dramatic event yang berpotensi membangkitkan semangat nasionalisme seseorang bisa datang dari perasaan bangga dan keinginan untuk menunjukkan identitas diri ketika berada di tengah lingkungan yang multi-kultur. Tinggal di negeri orang jelas menjadi sentimen yang memicu bangkitnya rasa nasionalisme, selain ingin menunjukkan eksistensi juga terdorong  untuk memamerkan kebudayaan Indonesia yang beragam kepada masyarakat berjangkauan internasional.

 

WhatsApp Image 2018-04-26 at 21.48.21

Indonesian Culture and Arts Festival 2018, Pyramid Theatre, LUU

 

Hal itu mungkin bisa dijadikan landasan teoretis mengapa lantas PPI Leeds tergerak untuk mengadakan Indonesian Culture and Arts Festival (ICAF) 2018. Dalam rangkaian acara yang berlangsung selama dua hari tersebut, PPI Leeds melalui divisi seni budaya mengadakan pameran seni dan pagelaran seni drama serta seni tari tradisi.

Kegiatan ini berlangsung pada 26 dan 27 April 2018 yang mana pada saat penulisan cerita ini, maka ICAF hari pertama baru saja berakhir. Pada pameran yang diselenggarakan di Pyramid Theatre, Leeds University Union, ICAF menampilkan kain batik Nusantara dan memajang sekilas pengetahuan mengenai Indonesia yang dibagi ke dalam kategori Indonesia bagian Barat, Indonesia bagian Tengah dan Indonesia bagian Timur.

WhatsApp Image 2018-04-26 at 21.48.20

Booth Indonesian Bagian Barat, Tengah dan Timur, ICAF 2018, Leeds

Selain kain tradisional, ICAF juga menggelar workshop melukis di atas tote bag dengan latar gambar utama yakni Burung Merak dan Barong Bali. Tidak hanya itu, di bagian permainan tradisional, ICAF menyediakan beberapa permainan dan musik tradisional seperti Gasing, Kalimba dan Angklung yang memberikan kesempatan bagi para pengunjung untuk berpartisipasi dalam permainan atau ikut memainkan alat musik yang tersedia.

Ditambah lagi, acara ini juga memberikan kesempatan bagi siapapun untuk memamerkan karyanya baik berupa film pendek, foto hingga artworks bertema Indonesia. Tujuannya memberikan panggung bagi siapapun yang tertarik untuk memamerkan hasil karyanya untuk diapresiasi bersama.

Pada kesempatan yang sama, dengan batik yang kami kenakan setidaknya secara sederhana kami berupaya untuk menjadi agen budaya. Membawa serta identitas sebagai warga Indonesia sepanjang hari, dilihat baik secara disadari maupun tidak menggunakan sesuatu yang erat kaitannya dengan budaya yang melatarbelakangi identitas sebagai seorang Indonesia.

Sementara untuk teater sendiri, ICAF mengangkat kisah Timun Mas yang legendaris dengan dipadupadankan oleh beberapa tarian daerah mulai dari Tari Kecak (Bali), Tari Naiyak Padi dan Tari Piring (Sumatera Barat), Tari Pakarena (Sulawesi), Tari Nandak Ganjen (Betawi), Tari Bambu (Kalimantan) dan Tari Yosim Pancar (Papua). Yang rencananya akan dilaksanakan pada Jumat, 27 April 2018.

 

WhatsApp Image 2018-04-25 at 11.52.48

Poster ICAF 26 – 27 April 2018, Leeds

 

Tulisan ini dibuat untuk menjadi penanda bahwa pernah suatu waktu, saya terlibat pada proses mengapresiasi dan menjaga kelestarian budaya tradisi Indonesia di Leeds. Proses panjang yang menguras waktu dan tenaga, menyempatkan diri untuk mengambil waktu luang di tengah padatnya antrian deadline yang mengular panjang.

Meski demikian, tidak ada perasaan yang lebih membanggakan ketika ada teman-teman berkebangsaan lain yang datang dan tertarik dengan apa yang disajikan. Meluangkan waktu dan rela membayar untuk menonton pertunjukkan yang diselenggarakan.

Karena sekecil apapun usaha yang dilakukan, setidaknya satu atau dua orang lain sudah mengenal dan mengingat sesuatu mengenai kebudayaan Indonesia. Apa yang dibagikan hari ini mungkin tidak terasa berarti, tapi ketika itu dilakukan terus menerus dan dijadikan rutinitas meski hanya tahunan, akan ada selalu satu orang lain setiap tahunnya yang mengenal lebih akan Indonesia.

Menyampaikan pesan bahwa kita, generasi muda bangsa Indonesia tersebar di seluruh penjuru dunia. Bersiap mengenakan atribut nasionalisme dan menunjukkan identitas sebagai anak bangsa. Setidaknya, kita ada dan turut serta mendendangkan nama Indonesia di kalangan masyarakat yang lebih luas lagi. – NDN.

WhatsApp Image 2018-04-26 at 21.48.19

Suasana ICAF, 26 April 2018, Leeds

 

 

 

 

Happy World Book Day!

Tidak mudah menjalani S2 di negeri yang begitu jauh dari rumah sendiri meski kamu sudah berpengalaman lebih dari 8 tahun menempuh pendidikan dengan tidak tinggal di rumah mu sendiri.

Satu kalimat panjang yang jika dibaca dalam sekali napas akan membuat mu langsung sesak itu adalah ekspresi yang tidak sepenuhnya pas tapi pantas untuk menggambarkan bagaimana sulitnya menjalani hari-hari di sini (terkadang). Karena tentunya kamu tidak bisa lantas menyingkirkan begitu saja hari-hari indah lainnya dalam perjalanan menyabet gelar master yang sedang dilalui ini.

Tulisan ini tidak akan berisi keluhan, tidak juga berhubungan langsung dengan indahnya kenangan yang sudah tercipta dan akan terbentuk di Leeds. Tulisan ini hadir pada tanggal 23 April 2018, hari yang disebut sebagai #WorldBookDay. Meski tulisan ini tidak lah sebuah guratan yang menghasilkan buku, namun setidaknya, sesuatu harus ditulis dan terpampang nyata pada hari ini (meski ketika diunggah, hari telah berganti menjadi 24 April 2018, paling tidak, usaha ini pantas diapresiasi kan ya?).

Sedikit mengulas hari lalu di tengah libur paskah yang berlangsung dari tanggal 17 Maret – 15 April 2018 lalu bagi mahasiswa University of Leeds, dua minggu diantaranya saya habiskan di Jakarta. Keputusan impulsif pun terjadi, membeli beberapa buku di Gramedia dan memutuskan untuk menahan diri tidak membacanya hingga sampai di Leeds.

Padahal niatan awal adalah mengurangi sebanyak mungkin barang dari Leeds sehingga nanti pada masanya hengkang dari Britania Raya, beban bawaan tidak lah terlalu memberatkan. Namun, niatan tersebut malah berbalik drastis. Saya malah menambah beban bawaan ketika kembali ke Leeds dan membawa buku-buku bacaan.

Saya tau, keputusan membeli buku itu tidak pernah masuk kategori sebagai keputusan yang salah dan menimbulkan penyesalan di masa mendatang. Setelah kembali ke Leeds dan dipenuhi dengan deadline yang menghimpit, buku-buku itu pun sebagian besar masih menganggur di atas meja belajar. Belum tersentuh, hanya dipandang hari demi hari.

Hingga entah apa yang menggerakkan hati untuk membacanya. Pilihan jatuh pada novel Resign, karya Almira Bastari. Pagi itu baru menunjukkan pukul 10.50 BST. Jadwal hari ini pun penuh dengan segambreng kegiatan yang memang baru dimulai pada pukul 15.00 BST siang. Saya pikir, daripada bengong atau tidur lagi, ada baiknya mulai membaca novel. Toh, mau memaksa diri mengerjakan tugas, saya sudah kehilangan semangat.

Sejak kembali dari Jakarta, saya mengalami perasaan nelangsa yang aneh. Perasaan sepi menyergap berlebihan, padahal sebelum pulang ke Jakarta saya baik-baik saja. Padahal, Leeds sudah spring dan matahari sudah bersinar terang benderang sejak pukul setengah 7 pagi dan baru tenggelam lepas pukul 20.00 BST setiap harinya.

Orang-orang merasakan gloomy pada saat winter karena memang sepanjang hari langit hanya berwarna abu-abu, suram. Namun, saya justru merasa kosong di hari-hari bermatahari terang. Saya yakin penyebabnya karena saya tidak siap dengan semua tugas yang menanti, tidak siap dengan kenyataan bahwa sesaat lagi saya harus meninggalkan kota ini, terlebih tidak siap dengan fakta bahwa tidak ada lagi lima orang bawel lainnya yang akan menemani hari-hari saya seperti saat di Jakarta, saat saya di rumah.

Terdengar sepele. Saya pun tidak menyangka saya sampai di titik cengeng itu. Sebab, tinggal jauh dari rumah bukan lah hal yang baru, meski ini pengalaman pertama saya tinggal di luar negeri untuk menetap.

Kembali pada keputusan saya mulai membaca pagi tadi, memasuki bab ketiga, saya merasa begitu dekat dengan karakter-karakter yang hadir. Ceritanya ringan, menggunakan bahasa sehari-hari yang renyah, dialog yang dibangun santai, tapi ada sesuatu dalam rangkaian kalimat yang dituliskan Almira yang membuat saya jatuh cinta.

Sedikit bocoran, novel ini berkisah tentang empat pegawai di suatu kantor di Jakarta. Bergelut dengan rangkaian tugas yang padat merayap ditambah tekanan dari bos ganteng nan pintar yang tegas dan nyebelinnya setengah mati. Terdengar begitu sederhana, tapi dirajut dengan sangat apik oleh Almira. Saya, jelas, si hopeless romantic ini tidak bisa lepas tersenyum setiap kali Tigran, sang bos, menunjukkan gelagat manis pada salah satu tokoh utama, Alranita, si pegawai, yang saya ketahui sejak awal ia sukai.

Dalam delapan bulan terakhir, saya kesulitan membaca novel dengan fokus. Satu-satunya pencapaian hebat yang berhasil saya lakukan dalam kurun waktu delapan bulan tersebut adalah menyelesaikan novel Haruki Murakami berjudul Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage yang disarankan oleh seorang teman. Saya berhasil menyelesaikan Colorless dalam 4 hari. Biasanya, saya bisa menghabiskan dua hingga tiga buku dalam sebulan. Jelas, sesuatu yang drastis telah terjadi.

Tapi, Almira, berhasil membawa saya menghabiskan setiap menit tanpa tugas dan kelas yang saya miliki di sepanjang 23 April 2018 dengan melanjutkan kisah Alranita dan pasukannya. Akhirnya, kurang dari 13 jam saya menyelesaikan kisah itu dengan senyum-senyum baper yang tersungging di sudut bibir.

Saya merasa kembali ke masa-masa ketika saya membaca hingga dini hari, rela kurang makan dan kurang tidur karena terlalu larut dalam keseharian tokoh yang ada. Saya merasakan mood nelangsa yang saya alami dalam dua minggu terakhir perlahan digusur oleh semangat yang tumbuh bermekaran seperti bunga-bunga dan dedaunan disepanjang sudut Leeds.

Ketika saya masih larut dalam semangat positif yang ditularkan dari novel Resign!, saat itu saya sadar hari ini adalah #WorldBookDay. Rasanya semua sudah diatur dengan tepat dan pas pada waktunya.

Perasaan ini membawa saya pada titik kesadaran lainnya. Bahwa ketika sedang berada di titik terlemah sekalipun, carilah apa yang dibutuhkan oleh jiwamu. Mungkin ia sedang haus dan butuh istirahat dari pacuan lari panjang yang melelahkan selama ini.

Berhenti sejenak tidak akan membuat mu tertinggal. Ia hanya akan menyuntikkan semangat baru, mengisi bahan bakar sebelum kembali berpacu dan memenangkan perjuangan yang sudah dimulai. Karena bukan tidak mungkin ketika kamu melupakan raungan jiwa mu, saat itu pula raga dan batin memilih berhenti dan tidak membawamu ke mana-mana.

Bagi saya, buku dan membaca adalah pelarian terbaik. Berpetualang di dalam kisah yang dibangun si penulis adalah cara paling murah untuk rekreasi dan sejenak meninggalkan semua kerisauan dan kegelisahan untuk sesaat.

Terbukti, Almira dan Resign!-nya berhasil membuat saya menulis sepanjang ini dengan perasaan menggebu dan bibir menyunggingkan senyum puas setelah sekian lama blog ini menganggur. Pancaran semangat positif ini sudah menjalar. Saya siap kembali berlari kencang, karena perjuangan ini masih panjang dan saya harus berhasil memenangkannya.

Di mana pun kamu berada, semoga akan selalu ada ‘kisah’ yang sedang menemani perjalanan mu. Rajut lah, hidup bersamanya, dan selesaikan hingga titik akhir. Happy World Book Day! – NDN

 

WhatsApp Image 2018-04-24 at 01.25.18

Leeds, 23 April 2018, World Book Day!

 

Bergegas atau Bersiaplah Tenggelam

Karena kamu tidak pernah tau apa yang terbentang di depan sana. Ada masa ketika kamu merasa semuanya berubah mendadak menjadi rentetan kejutan yang tidak pernah kamu antisipasi sebelumnya.

Membuat mu merasa terpojok dan berpikir ulang, apakah aku sudah berada di jalan yang benar? Apakah keputusan yang aku ambil hari ini adalah keputusan tepat?

Semua pertanyaan-pertanyaan penuh keraguan itu bermunculan. Sederhana, karena kita tidak pernah siap dengan penyesalan. Ketakutan akan masa depan menggerogoti dengan sangat. Bahkan beberapa dari kita tidak pernah siap dengan masa depan akibat terlalu sibuknya merangkai begitu banyak skenario yang kita pikir adalah gambaran masa depan nantinya.

Jika saja sesekali kita berhenti. Bernapas dengan tenang. Membiarkan waktu bergulir dengan apa adanya. Tanpa pretensi dan praduga, mungkin saja kita akan menikmati setiap kejutan yang hadir. Membiarkan diri mengikuti ombak kehidupan yang melingkupi. Tidak ada gunanya melawan, karena pada akhirnya kau juga akan tergulung.

Namun bukan dengan cara itu kita dibesarkan. Ada pilihan yang harus dibuat, semua pilihan memikul konsekuensinya sendiri. Ada kejadian yang memang harus dilalui karena ingatlah bahwa kejadian tersebut datang dari keputusan yang pernah kita buat suatu waktu di masa lalu.

Penyesalan mungkin tidak terhindarkan, tapi kenapa harus berlarut di dalamnya. Tidak kah, penyesalan itu bisa menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh di hari esok? Tidak kah, penyesalan itu bagian dari bekal yang siap membawa kita memutuskan dengan lebih baik di hari mendatang?

Sejauh apapun kita terlarut, waktu tidak akan pernah bisa diulang kembali. Tidak pernah ada pilihan untuk mengulang, kesempatan yang kita miliki hanya melangkah maju dengan penyesalan yang bisa saja malah menahan langkah dan membuat kesempatan lain hilang begitu saja, atau berlari kencang dengan bekal yang sudah lebih matang dan hadapi semua yang tersaji di depan mata.

Pada akhirnya, kita hanya akan bergerak mengikuti gulir waktu yang tidak memiliki jeda. Bergegas atau bersiaplah tergulung ombak besar dan tenggelam.