Tag Archives: #Master

Bagi Para Pejuang LDR di Luar Sana

Suatu sore yang cukup terang benderang di Leeds, ada seorang teman dekat yang mengirimkan sebuah tulisan. “Tiba-tiba gue kebayang para¬†pejuang kece LDR dan jadi nulis ini sambil mikirin perjuangan keras Nami dan Emir yang kece juga,” katanya waktu itu melalui pesan singkat.

Tergugah dengan barisan kata-kata indah yang ia hasilkan dari buah pikirannya kala itu, saya pun mengucap janji untuk menayangkannya di blog ini.

Karena sungguh, jauh itu bukan perihal jarak.
Jauh ialah waktu.

Jauh adalah untuk seluruh waktu yang tidak sempat kita habiskan bersama.
Jauh adalah untuk seluruh waktu ketika kamu bersinar bersama rembulan dan aku tersengat matahari yang malu-malu.
Jauh adalah saat-saat kamu letih dan berpeluh karena hidup, sementara aku terbuai di masa lelap yang pekat.

Waktu adalah pudar
Dan jauh itu kamu

Lantas kita menjadi nanar yang pendar
Dan perlahan hilang bersama waktu

Leeds, 1 May 2018
Daina.

Tulisan ini pantas disebarkan, tidak hanya bagi saya, tapi bagi siapapun di luar sana yang sedang menerjang perbedaan waktu dan jarak. Karena mungkin ruang tak lagi kita bagi bersama, tapi tak lantas hati berhak mengalah.

Terima kasih, Daina! ūüôā

IMG_9367

Advertisements

Aktivasi Identitas Nasional

Demi menjaga konsistensi untuk kembali menulis rutin di blog sendiri maka mari kali ini sedikit membahas kegiatan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Leeds (PPI Leeds) untuk melestarikan budaya Indonesia. Berada jauh dari tanah air sebenarnya justru mengaktivasi kebanggaan warga Indonesia akan budaya tradisional yang ia miliki.

Hal ini pernah dibahas di salah satu kelas yang saya ikuti di semester dua. Bertajuk “Identity, Culture and Technology“, pada salah satu minggunya dibahas mengenai¬†National Identity.

“Attitudes and beliefs that constitute nationality¬†are often hidden away in the deep recesses of the mind brought to full consciousness only by some dramatic event,” (Miller, 1995, p. 18).

Ketika itu di kelas dibahas bahwa salah satu dramatic event yang berpotensi membangkitkan semangat nasionalisme seseorang bisa datang dari perasaan bangga dan keinginan untuk menunjukkan identitas diri ketika berada di tengah lingkungan yang multi-kultur. Tinggal di negeri orang jelas menjadi sentimen yang memicu bangkitnya rasa nasionalisme, selain ingin menunjukkan eksistensi juga terdorong  untuk memamerkan kebudayaan Indonesia yang beragam kepada masyarakat berjangkauan internasional.

 

WhatsApp Image 2018-04-26 at 21.48.21

Indonesian Culture and Arts Festival 2018, Pyramid Theatre, LUU

 

Hal itu mungkin bisa dijadikan landasan teoretis mengapa lantas PPI Leeds tergerak untuk mengadakan Indonesian Culture and Arts Festival (ICAF) 2018. Dalam rangkaian acara yang berlangsung selama dua hari tersebut, PPI Leeds melalui divisi seni budaya mengadakan pameran seni dan pagelaran seni drama serta seni tari tradisi.

Kegiatan ini berlangsung pada 26 dan 27 April 2018 yang mana pada saat penulisan cerita ini, maka ICAF hari pertama baru saja berakhir. Pada pameran yang diselenggarakan di Pyramid Theatre, Leeds University Union, ICAF menampilkan kain batik Nusantara dan memajang sekilas pengetahuan mengenai Indonesia yang dibagi ke dalam kategori Indonesia bagian Barat, Indonesia bagian Tengah dan Indonesia bagian Timur.

WhatsApp Image 2018-04-26 at 21.48.20

Booth Indonesian Bagian Barat, Tengah dan Timur, ICAF 2018, Leeds

Selain kain tradisional, ICAF juga menggelar workshop melukis di atas tote bag dengan latar gambar utama yakni Burung Merak dan Barong Bali. Tidak hanya itu, di bagian permainan tradisional, ICAF menyediakan beberapa permainan dan musik tradisional seperti Gasing, Kalimba dan Angklung yang memberikan kesempatan bagi para pengunjung untuk berpartisipasi dalam permainan atau ikut memainkan alat musik yang tersedia.

Ditambah lagi, acara ini juga memberikan kesempatan bagi siapapun untuk memamerkan karyanya baik berupa film pendek, foto hingga artworks bertema Indonesia. Tujuannya memberikan panggung bagi siapapun yang tertarik untuk memamerkan hasil karyanya untuk diapresiasi bersama.

Pada kesempatan yang sama, dengan batik yang kami kenakan setidaknya secara sederhana kami berupaya untuk menjadi agen budaya. Membawa serta identitas sebagai warga Indonesia sepanjang hari, dilihat baik secara disadari maupun tidak menggunakan sesuatu yang erat kaitannya dengan budaya yang melatarbelakangi identitas sebagai seorang Indonesia.

Sementara untuk teater sendiri, ICAF mengangkat kisah Timun Mas yang legendaris dengan dipadupadankan oleh beberapa tarian daerah mulai dari Tari Kecak (Bali), Tari Naiyak Padi dan Tari Piring (Sumatera Barat), Tari Pakarena (Sulawesi), Tari Nandak Ganjen (Betawi), Tari Bambu (Kalimantan) dan Tari Yosim Pancar (Papua). Yang rencananya akan dilaksanakan pada Jumat, 27 April 2018.

 

WhatsApp Image 2018-04-25 at 11.52.48

Poster ICAF 26 – 27 April 2018, Leeds

 

Tulisan ini dibuat untuk menjadi penanda bahwa pernah suatu waktu, saya terlibat pada proses mengapresiasi dan menjaga kelestarian budaya tradisi Indonesia di Leeds. Proses panjang yang menguras waktu dan tenaga, menyempatkan diri untuk mengambil waktu luang di tengah padatnya antrian deadline yang mengular panjang.

Meski demikian, tidak ada perasaan yang lebih membanggakan ketika ada teman-teman berkebangsaan lain yang datang dan tertarik dengan apa yang disajikan. Meluangkan waktu dan rela membayar untuk menonton pertunjukkan yang diselenggarakan.

Karena sekecil apapun usaha yang dilakukan, setidaknya satu atau dua orang lain sudah mengenal dan mengingat sesuatu mengenai kebudayaan Indonesia. Apa yang dibagikan hari ini mungkin tidak terasa berarti, tapi ketika itu dilakukan terus menerus dan dijadikan rutinitas meski hanya tahunan, akan ada selalu satu orang lain setiap tahunnya yang mengenal lebih akan Indonesia.

Menyampaikan pesan bahwa kita, generasi muda bangsa Indonesia tersebar di seluruh penjuru dunia. Bersiap mengenakan atribut nasionalisme dan menunjukkan identitas sebagai anak bangsa. Setidaknya, kita ada dan turut serta mendendangkan nama Indonesia di kalangan masyarakat yang lebih luas lagi. – NDN.

WhatsApp Image 2018-04-26 at 21.48.19

Suasana ICAF, 26 April 2018, Leeds

 

 

 

 

Happy World Book Day!

Tidak mudah menjalani S2 di negeri yang begitu jauh dari rumah sendiri meski kamu sudah berpengalaman lebih dari 8 tahun menempuh pendidikan dengan tidak tinggal di rumah mu sendiri.

Satu kalimat panjang yang jika dibaca dalam sekali napas akan membuat mu langsung sesak itu adalah ekspresi yang tidak sepenuhnya pas tapi pantas untuk menggambarkan bagaimana sulitnya menjalani hari-hari di sini (terkadang). Karena tentunya kamu tidak bisa lantas menyingkirkan begitu saja hari-hari indah lainnya dalam perjalanan menyabet gelar master yang sedang dilalui ini.

Tulisan ini tidak akan berisi keluhan, tidak juga berhubungan langsung dengan indahnya kenangan yang sudah tercipta dan akan terbentuk di Leeds. Tulisan ini hadir pada tanggal 23 April 2018, hari yang disebut sebagai #WorldBookDay. Meski tulisan ini tidak lah sebuah guratan yang menghasilkan buku, namun setidaknya, sesuatu harus ditulis dan terpampang nyata pada hari ini (meski ketika diunggah, hari telah berganti menjadi 24 April 2018, paling tidak, usaha ini pantas diapresiasi kan ya?).

Sedikit mengulas hari lalu di tengah libur paskah yang berlangsung dari tanggal 17 Maret – 15 April 2018 lalu bagi mahasiswa University of Leeds, dua minggu diantaranya saya habiskan di Jakarta. Keputusan impulsif pun terjadi, membeli beberapa buku di Gramedia dan memutuskan untuk menahan diri tidak membacanya hingga sampai di Leeds.

Padahal niatan awal adalah mengurangi sebanyak mungkin barang dari Leeds sehingga nanti pada masanya hengkang dari Britania Raya, beban bawaan tidak lah terlalu memberatkan. Namun, niatan tersebut malah berbalik drastis. Saya malah menambah beban bawaan ketika kembali ke Leeds dan membawa buku-buku bacaan.

Saya tau, keputusan membeli buku itu tidak pernah masuk kategori sebagai keputusan yang salah dan menimbulkan penyesalan di masa mendatang. Setelah kembali ke Leeds dan dipenuhi dengan deadline yang menghimpit, buku-buku itu pun sebagian besar masih menganggur di atas meja belajar. Belum tersentuh, hanya dipandang hari demi hari.

Hingga entah apa yang menggerakkan hati untuk membacanya. Pilihan jatuh pada novel Resign, karya Almira Bastari. Pagi itu baru menunjukkan pukul 10.50 BST. Jadwal hari ini pun penuh dengan segambreng kegiatan yang memang baru dimulai pada pukul 15.00 BST siang. Saya pikir, daripada bengong atau tidur lagi, ada baiknya mulai membaca novel. Toh, mau memaksa diri mengerjakan tugas, saya sudah kehilangan semangat.

Sejak kembali dari Jakarta, saya mengalami perasaan nelangsa yang aneh. Perasaan sepi menyergap berlebihan, padahal sebelum pulang ke Jakarta saya baik-baik saja. Padahal, Leeds sudah spring dan matahari sudah bersinar terang benderang sejak pukul setengah 7 pagi dan baru tenggelam lepas pukul 20.00 BST setiap harinya.

Orang-orang merasakan gloomy pada saat winter karena memang sepanjang hari langit hanya berwarna abu-abu, suram. Namun, saya justru merasa kosong di hari-hari bermatahari terang. Saya yakin penyebabnya karena saya tidak siap dengan semua tugas yang menanti, tidak siap dengan kenyataan bahwa sesaat lagi saya harus meninggalkan kota ini, terlebih tidak siap dengan fakta bahwa tidak ada lagi lima orang bawel lainnya yang akan menemani hari-hari saya seperti saat di Jakarta, saat saya di rumah.

Terdengar sepele. Saya pun tidak menyangka saya sampai di titik cengeng itu. Sebab, tinggal jauh dari rumah bukan lah hal yang baru, meski ini pengalaman pertama saya tinggal di luar negeri untuk menetap.

Kembali pada keputusan saya mulai membaca pagi tadi, memasuki bab ketiga, saya merasa begitu dekat dengan karakter-karakter yang hadir. Ceritanya ringan, menggunakan bahasa sehari-hari yang renyah, dialog yang dibangun santai, tapi ada sesuatu dalam rangkaian kalimat yang dituliskan Almira yang membuat saya jatuh cinta.

Sedikit bocoran, novel ini berkisah tentang empat pegawai di suatu kantor di Jakarta. Bergelut dengan rangkaian tugas yang padat merayap ditambah tekanan dari bos ganteng nan pintar yang tegas dan nyebelinnya setengah mati. Terdengar begitu sederhana, tapi dirajut dengan sangat apik oleh Almira. Saya, jelas, si hopeless romantic ini tidak bisa lepas tersenyum setiap kali Tigran, sang bos, menunjukkan gelagat manis pada salah satu tokoh utama, Alranita, si pegawai, yang saya ketahui sejak awal ia sukai.

Dalam delapan bulan terakhir, saya kesulitan membaca novel dengan fokus. Satu-satunya pencapaian hebat yang berhasil saya lakukan dalam kurun waktu delapan bulan tersebut adalah menyelesaikan novel Haruki Murakami berjudul Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage yang disarankan oleh seorang teman. Saya berhasil menyelesaikan Colorless dalam 4 hari. Biasanya, saya bisa menghabiskan dua hingga tiga buku dalam sebulan. Jelas, sesuatu yang drastis telah terjadi.

Tapi, Almira, berhasil membawa saya menghabiskan setiap menit tanpa tugas dan kelas yang saya miliki di sepanjang 23 April 2018 dengan melanjutkan kisah Alranita dan pasukannya. Akhirnya, kurang dari 13 jam saya menyelesaikan kisah itu dengan senyum-senyum baper yang tersungging di sudut bibir.

Saya merasa kembali ke masa-masa ketika saya membaca hingga dini hari, rela kurang makan dan kurang tidur karena terlalu larut dalam keseharian tokoh yang ada. Saya merasakan mood nelangsa yang saya alami dalam dua minggu terakhir perlahan digusur oleh semangat yang tumbuh bermekaran seperti bunga-bunga dan dedaunan disepanjang sudut Leeds.

Ketika saya masih larut dalam semangat positif yang ditularkan dari novel Resign!, saat itu saya sadar hari ini adalah #WorldBookDay. Rasanya semua sudah diatur dengan tepat dan pas pada waktunya.

Perasaan ini membawa saya pada titik kesadaran lainnya. Bahwa ketika sedang berada di titik terlemah sekalipun, carilah apa yang dibutuhkan oleh jiwamu. Mungkin ia sedang haus dan butuh istirahat dari pacuan lari panjang yang melelahkan selama ini.

Berhenti sejenak tidak akan membuat mu tertinggal. Ia hanya akan menyuntikkan semangat baru, mengisi bahan bakar sebelum kembali berpacu dan memenangkan perjuangan yang sudah dimulai. Karena bukan tidak mungkin ketika kamu melupakan raungan jiwa mu, saat itu pula raga dan batin memilih berhenti dan tidak membawamu ke mana-mana.

Bagi saya, buku dan membaca adalah pelarian terbaik. Berpetualang di dalam kisah yang dibangun si penulis adalah cara paling murah untuk rekreasi dan sejenak meninggalkan semua kerisauan dan kegelisahan untuk sesaat.

Terbukti, Almira dan Resign!-nya berhasil membuat saya menulis sepanjang ini dengan perasaan menggebu dan bibir menyunggingkan senyum puas setelah sekian lama blog ini menganggur. Pancaran semangat positif ini sudah menjalar. Saya siap kembali berlari kencang, karena perjuangan ini masih panjang dan saya harus berhasil memenangkannya.

Di mana pun kamu berada, semoga akan selalu ada ‘kisah’ yang sedang menemani perjalanan mu. Rajut lah, hidup bersamanya, dan selesaikan hingga titik akhir. Happy World Book Day! – NDN

 

WhatsApp Image 2018-04-24 at 01.25.18

Leeds, 23 April 2018, World Book Day!

 

LUU, Tempat Favoritnya Para Mahasiswa

25 September 2017,

Jauh melompat melewati hari. Akibat banyaknya kegiatan yang harus diselesaikan sebelum memasuki minggu pertama perkuliahan, janji untuk menulis lebih rutin pun sempat terbengkalai.

Akan ada masanya aku akan bercerita mengenai bagaimana mencari tempat tinggal di Leeds, membeli jajanan dan bahan makanan yang halal di sekitar kampus dan tempat tinggal hingga transportasi dan bagaimana keseharian di Leeds terlewati.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.16

Salah satu tangga di LUU

Karena ini hari pertama perkuliahan di mulai. Maka sebagai pembuka,

“Selamat datang di Week 1”, begitu kalau kata mereka-mereka yang sudah memasuki week 52 atau akhir dari perkuliahan dan bersiap menyandang titel S2 di pundaknya.

Namun posting-an ini tidak akan bercerita mengenai kegiatan perkuliahan itu sendiri. Ada satu gedung yang menarik dan pasti akan menjadi pusat perhatian saat kalian berkunjung ke University of Leeds, yakni Leeds University Union (LUU).

 

Secara sederhana, gedung ini berlantai 4 dan menjadi tempat terbuka bagi siapa saja mahasiswa/i Leeds yang hendak sekadar bersantai, makan siang hingga bergabung dan melaksanakan aktivitasnya sebagai bagian dari suatu komunitas.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.10

Area makan di depan Wok & Go, LUU

LUU tidak hanya gedung tapi juga pusat kegiatan mahasiswa/i Leeds. Membawahi sekitar 380 komunitas dan memilliki beragam kafe, restoran, coffee shop, ruang serba guna hingga ruangan musholla bagi muslim.

Area bawah LUU adalah bagian terfavorit buat aku sendiri. Selain banyaknya sofa dan kursi serta¬†bean bag yang bebas digunakan kapan saja, di sini juga terdapat sebuah restoran bernama Wok & Go yang menjual “Chinese and Asia Food”. Tentunya memanjakan lidah walau tak selalu ramah di kantong mengingat harga untuk seporsi makanannya berkisar 4,5 – 6,5 poundsterling. Tapi ya untuk sesekali jika malas masak dan membawa bekal ini bisa jadi alternatif.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.12

Sebagai catatan satu porsi makanan di Wok & Go sangat padat dan besar sehingga bisa untuk dua kali makan (buat saya sih) hehehe.

Tidak hanya ada Wok & Go, di sisi lain lantai ini juga terdapat Common Ground Coffee Shop dengan beragam menu minuman mulai dari kopi, susu dan teh yang bisa dijadikan andalan. Begitu juga dengan kue, yogurt atau buburnya. Menu andalan aku adalah chococino (susu coklat yang sebenarnya adalah children menu tapi siapa saja bebas pesan plus sebagai bonus porsinya besar kok). Selain enak, harganya juga sangat murah yakni hanya 50p. Bandingkan dengan rata-rata minuman di Common Ground ukuran dewasa yang berkisara 1 poundsterling (untuk teh) dan 3 poundsterling (untuk kopi dan susu).

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.14

Area tempat duduk Common Ground

Tidak hanya itu, masih di lantai yang sama kita juga bisa menemukan supermarket yang menjual beragam makanan dengan harga murah seperti sandwich dan makanan cepat saji lainnya yang bisa dihangatkan di student kitchen.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.14 (1)

Area student kitchen sendiri terdapat di lantai yang sama. Di sana kita bisa menemukan microwave, tap water dan juga air panas. Jika membeli sesuatu di supermarket (bernama essentials) kita juga bisa meminta sendok atau garpu, jika memang lupa membawanya.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.30.53

Essentials Supermarket LUU

Jika ingin berburu aksesoris khas kampus juga ada di lantai ini. Toko bernama Gear siap menawarkan beragam produk mulai dari kaos, jaket, gelas, hingga pin berlogo University of Leeds. Bagi yang menggemari salad ataupun vegetarian ada toko bernama Salad Box.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.30.51

Gear Store

Mencari kacamata? Silahkan mampir ke toko bernama Bayfields. Selain juga ada cabang bank Santander yang memang merupakan bank resmi kampus serta toko perawatan kuku, rambut dan wajah bagi perempuan bernama Pamper Me. Di bagian lainnya pun terdapat Old Bar yang terkesan klasik namun menarik perhatian untuk sekadar menghabiskan waktu minum kopi. Atau jika memang pecinta makanan Lebanon seperti Humus, ada juga loh Humpit Bar di sebelah Wok & Go.

Puas menjelajah area ini, kita bisa turun lagi dan menemukan Riley Smith Theatre dan Pyramid Theatre yang merupakan tempat diselenggarakannya beberapa acara termasuk konser dan pemutaran film di kampus.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.15

Area menuju Pyramid dan Riley Smith Theatre

Bagian atas adalah lobby dengan beragam sofa warna warni yang tersebar di seluruh ruangan. Di lobby ini juga kita bisa menemukan staff LUU dan menanyakan hal-hal dasar mengenai kampus seperti lokasi gedung perkuliahan hingga acara terbaru yang diselenggarakan komunitas dan membeli tiket acara tersebut secara langsung.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.19

Lobby LUU

Pada lantai yang sama juga ada beberapa restoran dan coffee shop yang bisa dijadikan alternatif seperti Terrace Bar dan Refectory.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.17 (1)

Terrace Bar LUU

Di bagian atas gedung LUU akan ditemukan banyak ruangan kelas dan serba guna yang biasa digunakan komunitas untuk mengadakan pertemuan rutinnya. oh jangan lupa, ada ruangan bernama Rooted, di mana mahasiswa/i bisa ikut aktif bercocok tanam dan aktivitas tersebut sifatnya volunteering loh.

Maka jangan heran jika berkunjung ke LUU maka akan ditemukan ratusan mahasiswa baik yang sedang bersantai maupun mengerjakan tugas, individual dan berkelompok. LUU tidak pernah sepi dari mahasiswa hingga malam menjemput.

Walau sulit mendapatkan tempat yang nyaman di jam ramai, namun kaki ini tetap memilih melangkah ke LUU karena memang lebih nyaman menunggu dan bersantai di sini daripada di sudut-sudut taman kampus yang sedang dingin-dinginnya.. (NDN)

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.18

Sebuah Perjalanan dimulai

30 Agustus 2017,

WhatsApp Image 2017-09-02 at 10.42.23

Leeds Station, 31 Agustus 2017

Menapaki sebuah cerita baru yang akan menjadi langkah awal dari suatu perjalanan panjang. Kesempatan memiliki kehidupan yang berawal dari mimpi.

Bermodal sebuah tiket pesawat berlabel Turkish Airline, langkah bermula ketika kaki memasuki Gate 1 terminal 2D Bandara International Soekarno Hatta, Tangerang, Banten.

19.45 adalah waktu boarding time yang menyeret kaki meninggalkan tanah air. Kaki itu tak lagi terjejak pada tanah negeri yang dicinta. Maka pada detik itu, tugas dan mimpi mengambil alih beban di pundak. Ada kewajiban pulang membawa nilai tambah dari apa yang sudah dipertaruhkan sebelumnya.

Dalam 12 jam perjalanan menuju Istanbul, ibukota negara Turki, dada masih terasa lapang. Penantian lebih kurang 4 jam pun tak berarti banyak.

07.25 waktu boarding yang tertera di kertas. Dengan nomor penerbangan TK 1993, pesawat pun membawa diri membelah lautan ke Manchester, United Kingdom. Tempat yang menjadi objek mimpi sejak belasan tahun silam.

Udara dingin menerpa di pintu keluar Manchester International Airport (MAN). Saat itu suhu udara bertengger di 18 derajat celcius. Cukup ramah dan sesuai harapan seorang anak tropis yang memimpikan hari dengan udara sejuk.

Meski tak pelak, tangan pun bergerak refleks merekatkan jaket yang seadanya. Hati riang tak menjamin tubuh terbiasa dengan kesejukan yang diharap.

Saat melangkah keluar MAN, arah mata langsung mencari tulisan rail station. Bermodal tiket 26,60 poundsterling, kaki menapak kereta tujuan akhir Newcastle.

“Leeds Station” tertera jelas di tengah stasiun bertingkat dua. Bukan pemberhentian akhir bagi sang kereta, tapi jelas ini tempat yang menjadi perhentian ku.

Ketika itu pula lah kenyataan mengetuk pintu hati dan pikiran. Bahwa kini, mimpi itu sudah terganti dengan kenyataan yang harus segera dituntaskan. Karena ada tanggung jawab dan kewajiban yang sudah menanti.

Momen yang tepat untuk segera bergegas dan bersiap diri….

karena kini perjalanan itu sudah dimulai! Selamat datang.

WhatsApp Image 2017-09-02 at 10.42.23 (1)