Tag Archives: #Cafe

Menghabiskan 8 Jam di Riga hanya dengan €20

Melanjut tulisan mengenai perjalanan dan budget yang saya sediakan serta gunakan dalam perjalanan summer break kemarin, kali ini kita bergeser ke kota selanjutnya yakni Riga, Latvia.

Destinasi kedua ini sebenarnya tidak ada dalam daftar perjalanan kami sebelumnya. Karena tujuan awal adalah bergeser dari Warsawa ke Kiev, Ukraina. Namun, di menit terakhir, kami baru menyadari bahwa Ukraina tidak termasuk ke dalam negara Eropa yang bernaung di bawah European Union sehingga visa Schengen kami tidak berlaku di Kiev.

Kenyataan itu kami sadari kurang dari 24 jam perjalanan summer break ini dimulai. Setelah memutar otak dan mengutak-atik segala kemungkinan yang bisa membawa kami selangkah lebih dekat ke Rusia tanpa menghabiskan banyak biaya, maka saya menemukan alternatif untuk naik bus dari Warsawa ke Riga.

Processed with VSCO with c1 preset

Riga Old Town

Jarak tempuhnya pun sebenarnya lebih singkat. Untuk jalur Warsawa – Kiev dengan bus sekitar 15 jam dengan harga tiket £18,57 atau setara Rp355.000 dengan provider bus Lines Polissya. Sedangkan untuk jalur Warsawa – Riga hanya memakan waktu sekitar 9 jam dengan harga tiket senila £23,11 atau setara Rp 441.000 dengan provider bus Lux Express.

Tidak hanya kehilangan satu tiket, kami pun harus merelakan tiket bus Kiev – Moscow seharga £15,71 atau setara Rp300.000 untuk jarak tempuh 16 jam dengan provider bus lokal (yang tulisannya nggak bisa saya baca). Sebagai gantinya, kami harus merogoh kocek lebih dalam untuk tiket bus dengan jalur Riga – Moscow dengan provider bus Ecolines seharga £53 atau setara Rp1.000.000, jarak tempuhnya sendiri selama 14 jam.

Malang tak dapat ditolak, daripada harus berpotensi gagal ke Rusia dan kehilangan lebih banyak uang akibat tidak diterima di Ukraina, maka keputusan cepat pun harus dibuat. Jelang pukul 2.00 dini hari tanggal 24 Juni, ya hari keberangkatan kami, tiket baru dibeli dan itinerary perjalanan pun resmi berbelok.

Ternyata, Allah SWT punya ceritanya sendiri. Salah satu pertanda baik adalah kami tidak perlu menukar uang yang kami miliki dengan Ukrainian hryvnia (mata uang resmi Ukraina). Sebagai informasi, sangat sulit menemukan uang ini di money changer UK. Seharusnya ini menjadi pertanda lain bagi kami, mengingat mudahnya menemukan Russia Ruble, Swedish Krona bahkan Polish Zloty.

Processed with VSCO with c1 preset

Riga, Latvia

Riga sendiri menggunakan mata uang euro yang mana sudah kami persiapkan untuk perjalanan ke Tallinn, Estonia nantinya. Rejeki lainnya adalah keindahan Riga yang tak perlu diragukan. Sejak melangkah kaki memasuki Old Town-nya, Riga menawarkan warni-warni indah yang menarik hati.

Karena waktu yang sangat terbatas, kami memutuskan hanya mengitari Old Town Riga. Berusaha memanfaatkan waktu sebaik mungkin dan mencecap keindahan kota Riga dalam sekali kayuhan.

Dari Riga Bus Station menuju Old Town Riga hanya sekitar 20 menit jalan kaki. Sesampainya di Old Town tujuan utama kami adalah St. Peter’s Church. Sayangnya, untuk masuk ke dalam dibutuhkan tiket masuk yang berbayar, sehingga kami memutuskan untuk berkeliling bagian luar gereja ini saja. Jelas gereja ini indah dan menarik perhatian turis yang sedang berkunjung di Riga, sebab sejak tahun 1997 gereja ini masuk ke dalam list UNESCO’s World Heritage.

Processed with VSCO with c1 preset

St. Peter’s Church dan The Bremen Town Musicians

Di bagian belakang St. Peter’s Church ada patung yang menyedot perhatian turis yakni The Bremen Town Musicians. Katanya ini salah satu simbol politik dan kemerdekaan Latvia karena setahun setelah hadirnya patung ini, Latvia merdeka dan keluar dari Uni Soviet.

Sembari beranjak ke destinasi berikutnya, kami melewati jejeran toko souvenir dan memilih untuk membeli oleh-oleh sebelum melanjutkan perjalanan. Seperti biasa, tujuan utama saya adalah mencari postcards dan magnet kulkas untuk mama di rumah. Saat berada di toko souvenir satu yang menarik hati saya adalah magnet kulkas bergambarkan tiga rumah yang berdempetan dengan warna biru, kuning dan putih yang lucu.

Karena penasaran, saya memutuskan bertanya ke staff di toko souvenir dan ia pun menjelaskan bahwa itu adalah bangunan historis di Riga yakni Three Brothers. Penasaran yang berbuah manis, karena ia pun dengan senang hati menjelaskan posisi Three Brothers tersebut sembari memberi saya peta Latvia secara cuma-cuma.

Saya menghabiskan €1,40 untuk 2 postcards dan €2,50 untuk dua buah magnet kulkas atau total pengeluaran saya untuk souvenir sebesar Rp66.000. Selain bisa membeli souvenir di jejeran toko oleh-oleh yang tersebar di sepanjang Old Town, ada juga Old Town Square yang menyediakan beragam makanan dan souvenir khas kota sebagai referensi dan pembanding dengan yang ditawarkan di toko.

Processed with VSCO with c1 preset

House of The Blackheads

Dalam perjalanan menuju bangunan Three Brothers kami melewati House of The Blackheads yang juga tersohor. Tempat ini biasanya digunakan untuk exhibition, konser hingga event-event yang diselenggarakan baik oleh pemerintah maupun organisasi independen.

Saya hanya sempat melongok sesaat ke dalamnya mengingat ada biaya tiket masuk sebesar €6 sehingga saya hanya memilih untuk melihatnya dari luar. Di sebrang House of The Blackheads berdiri gagah Riga City Hall. Karena memang kedua tempat ini berlokasi di Town Hall Square.

Processed with VSCO with f2 preset

Riga City Hall

Perjalanan pun dilanjutkan ke bangunan Three Brothers. Hanya berjarak sekitar 15 menit dari Town Hall Square kami pun sampai di tempat ikonik Riga lainnya. Tidak diragukan lagi, ramai orang sibuk berfoto dan mengelilingi bangunan ini.

Ketiga gedung ini berlokasi di Maza Pils Street yang merupakan kompleks perumahan tertua di kota Riga. Gedung berwarna putih merupakan bangunan tertua yang dibangun pada abad ke-15, sedangkan gedung berwarna kuning yang berdiri di tengah mendapatkan pengaruh dari arsitektur Belanda sedangkan yang terakhir menampilkan gaya arsitektur abad ke – 17. Kini ketiga gedung tersebut sudah beralih fungsi menjadi Latvian Museum of Architectures.

Processed with VSCO with c1 preset

Three Brothers Riga dan Sepaket Teman Seperjalanan

Lelah berkeliling dan waktu sudah memasuki sore hari, saya dan teman-teman pun memutuskan untuk makan. Kali ini pilihan jatuh ke Lido Alus Seta yang menawarkan makanan khas Latvia dengan harga yang terjangkau. Menariknya, restoran ini memiliki sistem seperti warteg. Jejeran makanan, minuman hingga pencuci mulut sudah disediakan di balik etalase. Kita tinggal memilih yang sesuai selera dan pas di kantong.

Poin plusnya lagi tersedia nasi. Bagi orang Indonesia yang rasanya kurang lengkap kalau nggak makan nasi, saya pun mensyukuri nasi di dalam pilihan menu yang ada. Untuk sepiring nasi seukuran 250 gram, sepotong besar chicken grilled cheese, dan 3 potong chicken wings saya membayar sebesar €6,25 atau setara Rp 105.000.

Kebiasaan saya setelah makan berat selalu mencari hidangan pencuci mulut. Beruntungnya saya di sebelah restoran terdapat bakery yang sayang namanya tidak bisa saya ingat. Saat melangkah masuk, harum toko roti dan kue yang khas langsung menyeruak, menggugah selera.

Ditambah lagi harga yang ramah di kantong memberikan saya kesempatan untuk mencicipi kue-kue di balik etalase yang rasanya sudah memanggil-manggil. Saya membeli sebuah kue seharga €1,70 atau setara Rp28.000.

Sembari menghabiskan waktu kami pun sempat melalui Vecriga, salah satu ruas jalan di Old Town Riga yang menawarkan jejeran bangunan warna-warni yang menarik mata dan indah di foto. Sebagai bekal perjalanan selanjutnya, saya pun memutuskan membeli subway favorit saya yakni Steak and Cheese dengan saus Onion dan Mayo seharga €3,95 atau setara Rp67.000.

Processed with VSCO with c1 preset

Salah satu sudut Riga Old Town

Waktu yang saya habiskan memang terlalu singkat untuk menikmati apa yang ditawarkan Riga. Namun saya mensyukuri perjalanan indah yang tidak direncanakan ini. Saran saya, tinggal lah lebih lama, Riga nampaknya jauh lebih indah dan menawarkan ketertarikan yang lebih besar dari apa yang saya alami.

Saya pun tak menolak jika memiliki kesempatan untuk mengulang pertemuan saya dengan Riga. Tentunya untuk waktu yang lebih lama. Untuk sekarang, saya harus bergegas pamit. Moscow menunggu.

Catatan Tambahan:

Total biaya yang saya habiskan selama kurang lebih 8 jam di Riga yakni sebesar €15,80 atau setara Rp267.000. Angka ini terhitung hemat karena saya tidak mengeluarkan uang untuk transportasi dan penginapan.

Selain itu, jika di Warsawa saya menitipkan barang di loker yang tersedia di stasiun, selama di Riga kami membawa ransel sepanjang perjalanan mempertimbangkan jarak tempuh yang cukup ringkas dan persinggahan yang hanya sesaat.

Jika berkesempatan berkunjung ke Riga dengan catatan waktu yang lebih lama dari saya, jangan lupa mampir ke Riga Castle. Apalagi dari sisi yang bersebrangan dengan Old Town, dari foto-foto yang saya lihat sih, Riga Castle sangat indah.

Sebagaimana perjalanan saya ke Warsawa, saya sudah lebih dahulu menyiapkan itinerary dan rancangan budget saat hendak mengunjungi Riga.

Jika waktu kalian sama singkat dengan saya, tidak perlu khawatir kehilangan indahnya Riga karena waktu delapan jam terasa sangat singkat hanya dengan menghabiskan waktu di sekitar Old Town.

Semoga tidak hanya saya, kalian pun berjodoh dengan Riga yang indah.

Processed with VSCO with c1 preset

Suatu sore yang mendung di Riga, Latvia, 25 Juni 2018

Advertisements

Rangkaian Perjalanan dan Budget Selama 12 Jam di Warsawa, Polandia

Pada perjalanan summer break kali ini, saya dan teman-teman sempat mampir ke-5 negara antara lain Polandia, Latvia, Rusia, Estonia dan Swedia. Dalam rangka ingin berbagi kisah dan pengalaman, maka saya akan membuat rangkain cerita yang runut mulai dari pilihan moda transportasi yang kami gunakan hingga budget yang kami siapkan untuk perjalanan di masing-masing kota.

img_0559.jpg

Modlin Airport, Warsawa, Polandia, 24 Juni 2018.

Kita mulai dari Polandia. Perjalanan di mulai dengan menggunakan pesawat Ryan Air yang membawa kami melintas dari Leeds-Bradford Airport di Leeds, UK menuju Modlin Airport di kota Warsawa, Polandia. Waktu tempuh perjalanan sekitar 2 jam dengan perbedaan waktu antara UK dan Polandia yakni 1 jam lebih cepat di Polandia. Untuk harga tiket pesawatnya sendiri yakni £34,67 atau sekitar Rp650.000.

Sesampainya di Polandia, mata uang yang digunakan adalah Polish Zloty. Untuk 1PLN itu sekitar Rp3.880 atau setara £0,20. Meski tergabung dalam negara di bawah perserikatan Zona Eropa, namun Polandia memiliki mata uang sendiri, sehingga ada baiknya menyiapkan PLN ketika hendak berkunjung ke Polandia, walaupun transaksi dengan menggunakan euro juga tetap bisa. Hanya saja nantinya para pedagang akan mengonversi euro tersebut menjadi PLN dan kembalian yang akan kita terima dalam bentuk pecahan PLN. Demi menghindari kerugian akibat kurs, ada baiknya menyiapkan PLN.

Dari bandara menuju pusat kota Warsawa terhitung mudah. Dari hasil googling dan mencari informasi sebelum perjalanan, maka saya mengetahui bahwa terdapat dua pilihan transportasi yang dapat digunakan untuk menuju pusat kota. Pilihan pertama adalah bus langsung dengan harga 35 PLN atau menggunakan shuttle bus dari bandara ke stasiun kereta lalu melanjutkan dengan kereta hingga ke pusat kota seharga 19 PLN. Keduanya dapat dibeli langsung dari bandara.

img_3547.png

Kereta dari bandara ke pusat kota Warsawa.

Karena tidak mengejar waktu dan mempertimbangkan harga yang lebih murah, kami memilih opsi kedua. Tiket dapat dibeli di counter penjualan tiket yang dapat langsung ditemukan saat melangkah keluar dari pintu kedatangan bandara. Atau bisa juga dengan membeli dari mesin otomatis yang tersedia di dalam area kedatangan.

Shuttle sendiri berwarna hijau kuning dan sudah menanti di depan gerbang kedatangan bandara. Tinggal duduk manis hingga nanti sampai di stasiun kereta. Setelah sampai di stasiun kereta, kita hanya perlu melihat papan petunjuk atau bertanya untuk mengetahui arah kereta yang akan menuju ke pusat kota.

Harga 19 PLN sudah termasuk kedua transportasi di atas sehingga tidak perlu mengeluarkan uang lebih. Selain itu, dari hasil pengamatan kami, warga Polandia menggunakan transportasi umum dengan asas kepercayaan dan kejujuran, sebab tidak ada pengecekan tiket di setiap sarana transportasinya.

Tujuan pertama kami adalah Central Railway Station untuk menitipkan barang-barang di luggage room. Karena memang kami tidak menyewa hostel dan akan berangkat menuju destinasi berikutnya pada malam hari, maka menitipkan barang di stasiun adalah pilihan terbaik. Sebaiknya menitipkan barang di stasiun atau halte terdekat yang akan membawa kita ke tujuan berikutnya.

img_3548.png

Tempat penitipan barang di Central Railway Station Warsawa seharga 10 PLN.

Karena memang bus yang akan membawa kami ke Riga, Latvia terletak persis di depan Central Railway Station, maka kami memutuskan menitipkan barang di situ. Biayanya sebesar 10 PLN untuk 24 jam. Ini juga harus diperhatikan dengan seksama dan ditanyakan dengan detail kepada penjaga tas. Kebanyakan memang penitipan tas berlaku 24 jam, namun ada kalanya penitipan tas memiliki jam operasional. Jangan sampai hal ini menjadi kendala untuk melanjutkan perjalanan.

Setelahnya kami berjalan kaki menuju Plac Europejski atau European Square yang berjarak sekitar 18 menit dengan berjalan kaki. Kebetulan kami sampai saat Inggris vs Panama sedang berlaga. Sembari mengistirahatkan kaki, maka kami bersantai di sana. Dengan tidak lupa membeli Dunkin Donuts yang saat itu sedang promo mengingat malamnya tim nasional Polandia akan bertanding.

IMG_0580

Tempat Nobar gratis di Warsawa

Kelar menonton pertandingan, kami pun bergerak menuju Old Town Square Warsaw yang memang merupakan tujuan utama wisatawan di ibukota Polandia ini. Biaya tiket bus yang kami gunakan untuk sekali jalannya yakni sebesar 2,2 PLN untuk sekali jalannya dan bisa digunakan secara bebas selama 75 menit tanpa perlu membeli tiket lagi. Tiket bus sendiri bisa dibeli langsung di dalam busnya. Lagi-lagi tanpa pengecekan.

IMG_3549

Tiket bus sekali jalan yang bisa dibeli langsung di dalam bus. Hanya saja untuk transaksi ini hanya bisa dilakukan dengan kartu ATM / kredit.

Old Town Square Warsaw tercatat sebagai salah satu UNESCO World Heritage Centre. Memang tidak diragukan lagi keindahannya. Namun, karena memang sudah lapar, maka kami memutuskan mencoba Restauracja Zapiecek yang memiliki banyak cabang di Polandia terlebih dahulu sebelum mengitari alun-alun kota. Berdasarkan hasil googling, ini salah satu tempat makan yang menawarkan makanan khas Polandia dengan harga yang ramah di kantong. Yang ternyata, rasanya pas di lidah.

2018-06-24 18_19_51.835 (1)

Menu sharing di Zapiecek

Untuk berhemat, kami memutuskan sharing pesanan. Tentu dengan tidak lupa mencoba Pierogi, makanan khas Polandia yang wajib dicicipi. Bentuknya seperti dumpling namun dengan varian rasa mulai dari asin hingga yang manis. Hanya saja untuk membeli Pierogi di sini dibutuhkan minimum pemesanan yakni 9 buah. Maka saya dan teman-teman memutuskan membeli 10 sehingga masing-masing dapat mencicipi 2 rasa Pierogi. Dalam catatan saya, kala itu saya membayar 16 PLN saat patungan makan di sini.

2018-06-24 18_58_35.072 (1)

Pierogi, makanan khas Polandia

Saat sedang asyik berfoto di tengah alun-alun kota, seorang perempuan memberikan dua ekor burung yang memperindah foto-foto kami. Selepas berfoto kami pun menawar harga jasa peminjaman burung yang ia berikan. Karena saat itu kami berempat maka dengan segala jurus tawar menawar yang kami miliki maka kami hanya perlu membayar 10 PLN atau 2,5 PLN per orang.

IMG_0719

Old Town Square Market Warsawa

Tentu yang tidak boleh dilupakan adalah berkunjung ke tempat souvenir. Masih dari catatan yang saya buat, saya menghabiskan 32 PLN untuk membeli satu magnet kulkas (13 PLN), satu gelas pajangan (16 PLN) dan tiga buah postcard (3 PLN). Nama tokonya sendiri yakni Souvenir City, tapi sepanjang Old Town banyak berjejer toko oleh-oleh, hanya perlu bersabar untuk mencari yang paling terjangkau.

IMG_3550

Barbican Centre di Old Town Warsawa.

Old Town Square menawarkan banyak hal yang menarik. Mulai dari Old Town Market Square, Historical Museum of Warsaw (berbayar), Sigismund’s Column (Sigismund III Vasa adalah mantan raja Polandia yang berjasa memindahkan ibukota Polandia dari kota Krakow ke kota Warsawa), melongok ke Royal Castle (yang sayangnya juga berbayar) dan tidak boleh ketinggalan mengagumi kemegahan Barbican Warszawski atau tembok Barbican yang menjadi penanda batas antara Old dan New Town Warsawa. Konon katanya tembok ini dulu mengitari seluruh kota Warsawa sekaligus menjadi tembok pertahanan kota.

IMG_0618

Sigismund’s Column terletak di tengah Old Town Square

Puas berjalan-jalan dan berfoto menikmati indahnya Old Town Square, maka dari hasil googling diketahui bahwa ada satu coklat yang wajib dibeli saat mampir ke Warsawa yakni Wedel. Saat dicari, ternyata Wedel juga memiliki restoran yang menjual eskrim dan milkshake serta dessert lainnya. Maka saya dan teman-teman pun memutuskan mencoba Wedel.

Ternyata rekomendasi yang didapat dari Google tidak mengecewakan. Rasanya luar biasa enak dan buat nagih. Selain mencoba dua jenis dessert yang ada, saya juga membeli sebatang coklat Wedel yang khas seharga 4,5 PLN. Untuk dua porsi dessert yang kami sharing bersama, saya menghabiskan 16 PLN.

2018-06-24 21_06_13.484

Sharing Dessert di Wedel

Karena malam sudah menjemput dan kami sudah harus beranjak ke stasiun untuk mengambil tas dan bersiap melanjutkan perjalanan darat ke Riga, Latvia maka perjalanan di Old Town Warsaw pun berakhir. Dengan tiket bus 5 PLN untuk bertiga dengan durasi masa berlaku 50 menit, kami pun menuju Central Railway Station lagi. Ada banyak pilihan jenis tiket transportasi yang bisa digunakan, tinggal disesuaikan dengan kebutuhan saat itu saja untuk mendapatkan yang termurah.

IMG_3551

Coklat khas Polandia yang dijual di Wedel

Warsawa merupakan kota yang ramah turis, dengan biaya transportasi yang murah dan akses yang mudah, menghabiskan waktu 12 jam di Warsawa terasa sangat singkat. Jika memiliki rejeki, saya tidak menolak untuk kembali ke sini. Hanya saja demi menghemat biaya perjalanan terutama dari sisi akomodasi, maka tidur di bus atau di perjalanan adalah opsi terbaik. Jelang tengah malam, bus yang akan kami tumpangi pun datang, siap membawa kami membelah malam dan mencapai Riga, Latvia keesokan harinya.

IMG_1532

Berfoto bersama burung di alun-alun Old Town Square ini berbayar ya

Kisah dan budget untuk kota Riga akan dilanjut di tulisan berikutnya ya. Semoga informasi yang saya bagi ini bermanfaat. Jika ada yang ingin ditanyakan, saya dengan senang hati membantu selama saya bisa.

Catatan Tambahan:

Sepanjang perjalanan di Warsawa, saya menghabiskan sekitar 115 PLN atau setara £23,50 atau Rp450.000. Penting untuk membuat itinerary perjalanan sehingga waktu akan terkontrol dan tujuan sudah lebih jelas daripada menghabiskan waktu untuk googling dan mencari informasi di lokasi. Tentunya dengan penyesuaian dengan kondisi di tempat ya, setidaknya memiliki itinerary akan membantu menjadi panduan selama perjalanan. Terutama bagi yang memiliki waktu dan budget yang terbatas.

Link ini juga berguna untuk referensi transportasi di kota Warsawa.

Selain itu, penting juga untuk mengecek tempat makan murah di daerah yang akan dikunjungi. Tentunya lapar tidak bisa ditunda kan, sementara keinginan untuk mencicipi makanan khas lokal juga bergejolak. Satu tips yang bisa saya bagi untuk mengakali hal ini saat merancang budget di awal adalah mematok budget seharga standar makan di restoran sedang atau menengah ke atas.

Gambaran, saya membuat budget sekali makan sebesar 25 – 30 PLN, nyatanya nanti lebih murah dari itu tentu akan menjadi bekal tambahan untuk membeli souvenir kan hehehe. Budget tersebut jauh di atas harga makanan murah, sebagai patokan, sekali makan di McD yakni paket burger lengkap dengan kentang hanya 6 PLN.

Untuk SIM Card sendiri, saya dan teman-teman tidak perlu membeli SIM Card lokal karena SIM Card UK mayoritas sudah langsung terhubung otomatis dengan negara-negara di zona Eropa tanpa biaya tambahan. Saya sendiri menggunakan SIM Card ID Mobile, dua orang teman menggunakan provider Three (3), seorang menggunakan O2 dan satu lainnya menggunakan Lyca Mobile. Semuanya aktif saat itu juga tanpa terkena biaya tambahan. Hanya perlu memastikan kuota data yang dimiliki cukup.

Siapkan juga google translate yang sudah didownload full dari rumah untuk bahasa yang dibutuhkan. Sehingga bisa digunakan saat offline, selain untuk menghemat paket data, juga berguna untuk menghemat baterai handphone.

Manisnya Coklat dan Kota York

York. Sebuah kota yang terletak di bagian Timur Laut Inggris ini merupakan salah satu destinasi favorit pelajar Leeds. Selain jaraknya yang terbilang dekat, tiket kereta ke York terhitung ramah di kantong mahasiswa. Sedikit gambaran, dari Leeds Train Station ke York Train Station berdasarkan keterangan Google berjarak 383,02 km atau sekitar 23,8 miles.

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.00 (1)

Pemandangan saat berjalan dari York Station ke York Minster

Biasanya mahasiswa dengan keanggotan railcard hanya perlu membayar kisaran £3 – £5 untuk sekali perjalanan (semua bergantung waktu keberangkatan). Bahkan ketika perjalanan ke kota lain harus dibeli jauh hari untuk mendapatkan harga yang lebih murah, ke York hal tersebut nyaris tidak perlu dilakukan. Walau bukan tidak mungkin terjadi hal-hal anomali seperti saat harga tiket berada di atas kisaran £7 untuk sekali jalannya atau ketika tiket kereta nyaris penuh di setiap keberangkatan.

Ditambah lagi, perjalanan ke York hanya memakan waktu kurang lebih 30 menit. Sehingga tidak perlu bangun terlalu pagi untuk bisa menikmati hari di York.

Meski tidak bisa dipungkiri, ada nilai lain yang harus dibayar dengan mudah dan murahnya perjalanan ke York. Tempat-tempat menarik untuk dikunjungi seperti York Minster, York Castle, Yorkshire Museum, York’s Chocolate Factory dan Jorvik Viking Centre memiliki tarif tiket masuk yang biasanya mayoritas museum di UK free of charge. Sehingga biasanya dijadikan alternatif adalah mengunjungi tempat-tempat tersebut dan hanya berfoto di bagian luarnya.

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.03

York Castle

Untuk Yorkshire Museum memiliki area taman yang cukup luas di bagian depannya, jika sudah sampai di sana tidak ada ruginya berhenti sesaat, membeli kopi atau coklat hangat dan bersantai di sudut taman. Pemandangannya menenangkan khas taman dan bangunan-bangunan Britania Raya.

Satu yang terngiang pasti saat berkunjung ke York, wangi coklat yang menguar di udara dengan mudahnya tercecap oleh indera penciuman. Hal ini terhitung wajar karena disepanjang city centre York, mata kita akan dimanjakan dengan deretan toko-toko yang menjual coklat dan makanan manis lainnya.

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.01

Jika menilik dari keterangan yang dimuat di laman York’s Chocolate Factory, disampaikan bahwa jika mayoritas kota-kota bagian Utara Inggris dikenal sebagai penghasil wol, kapas dan baja maka York menjadi satu-satunya kota yang menjadikan coklat sebagai tulang punggung perekonomiannya (York’s Chocolate Story).

Salah satu merk coklat no. 1 di York adalah Rowntree’s yang berjaya di awal tahun 1920-an. Setahun setelahnya dikenal sebagai masa kejayaan coklat di York dengan hadirnya beberapa merk coklat terkenal di bawah Rowntree’s seperti Black Magic Blackbox (1934), KitKat (1935), Aero (1935), Dairy Box (1937), dan Smarties (1937) yang waktu itu membawa coklat menjadi icon penting kota York (YorkMix, 2014). Beberapa nama coklat tersebut tentu tidak lagi asing di telinga kita hingga saat ini.

Pastikan, ketika berkunjung ke York untuk membeli coklat atau setidaknya membeli makanan manis untuk menuntaskan selera yang sudah terusik sejak melangkah keluar dari stasiun kereta York. Salah satu daerah yang banyak memberikan pilihan coklat di York adalah Shambles.

Selain membeli coklat, bagi pecinta Harry Potter mungkin akan menemukan surga kecil di beberapa toko di ujung jalan Shambles yang menjual aksesoris beratribut sang penyihir kebanggaan UK tersebut. Salah satu toko yang menjadi incaran turis yang berkunjung ke York adalah The Shop That Must Not Be Named. Konon berdasarkan penuturan seorang teman yang menyukai Harry Potter nama ini mengingatkan ia pada Lord Voldemort yang dikenal sebagai He Who Must Not Be Named. (Sebagai disclaimer, saya bukan lah penggemar Harry Potter bahkan belum pernah sekali pun menonton film atau membaca buku Harry Potter hingga tuntas).

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.01.59 (1)

The Shop That Must Not Be Named, Shambles York

Biasanya ketika berkunjung ke toko tersebut, saya selalu menyempatkan melirik toko teh disebrangnya. “Hebden Tea Company” namanya. Setiap harinya mereka menawarkan dua hingga tiga rasa teh yang bisa dicicip secara gratis. Jika ingin membeli segelas pun harganya cukup terjangkau yakni sekitar £1,20 – £1,50. Bagi pecinta teh juga bisa membeli dalam ukuran lebih banyak dengan hitungan per gram.

Informasi lainnya yang banyak disampaikan oleh teman-teman penggemar Harry Potter, Shambles adalah kawasan yang menjadi inspirasi dari terciptanya Diagon Alley yang tersohor (BBC UK, 2017). Jadi, jangan heran kawasan sempit sarat toko ini akan semakin penuh sesak dengan jejeran orang-orang yang berlomba foto di lorongnya yang mirip Diagon Alley ini.

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.01.59

Shambles, York

Bagi mereka yang mungkin seperti saya (walau kemungkinannya begitu kecil), bukan penggemar Harry Potter, tempat ini sangat cantik dan menarik untuk dikunjungi. Ditambah lagi, kita bisa melanjutkan perjalanan ke Shambles Market York. Kawasan pasar ini menjajakan mulai dari buah, sayur, kue, kopi, sandwich hingga pernak pernik unik yang sayang untuk dilewatkan. Pasar ini buka setiap hari dari pukul 7 am – 5 pm (Shamblesmarket.com).

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.01.58

Shambles Market, York

Alternatif lain, kita bisa berkunjung ke salah satu museum yang menjadi andalan York namun kali ini tanpa biaya masuk alias gratis yakni National Railway Museum. Awalnya, saya berpikir tidak akan banyak waktu yang bisa dihabiskan di sana, namun nyatanya alokasi waktu sejam terhitung kurang.

Banyak hal menarik untuk dilihat selain juga area museum yang cukup luas membuat kita membutuhkan waktu untuk berpindah dari satu area ke area lainnya. Bagian yang paling menarik minat saya selain area Great Hall adalah Station Hall. Dengan tampilan khas stasiun-stasiun kereta api di UK, koleksi gerbong yang pernah digunakan keluarga dan staff kerajaan hingga tersedianya area kafetaria di bagian tengahnya. Suasana yang kental dengan nuansa Britania Raya membuat ruangan ini langsung menjadi favorit saya dari keseluruhan area museum.

 

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.04

Station Hall, National Railway Museum, York

 

Karena pusat kotanya yang terhitung kecil maka akan banyak waktu untuk bersantai dan menikmati keindahan kota dengan duduk santai disalah satu coffee shop. Saran saya, jika berkunjung di musim semi atau panas, sebaiknya manfaatkan cuaca yang cukup hangat (meski tentu tidak ada yang menjamin suhu udara di UK), untuk menyesap segelas kopi atau teh atau hanya duduk di sepanjang kanal yang membentang di tengah kota York.

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.02 (1)

Saya pribadi sangat menikmati momen tersebut. Ada titik di mana riuh rendah kota berpadu dengan ketenangan pemandangan yang indah membawa kesenangan yang tidak terkatakan. Relaksasi sederhana dan tidak menuntut banyak energi. Bahkan bisa dilakukan seorang diri.

 

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.00

York Minster

 

Jika saya memang hanya akan berkunjung ke York biasanya sampai di York pukul 11.00 am dan kembali ke Leeds pukul 17.00 pm sudah lebih dari cukup.

Namun, ada satu tempat lagi yang menjadi incaran para mahasiswa ketika berkunjung ke York yakni York Designer Outlet. Tempat ini menawarkan pilihan brand ternama dengan harga miring sebut saja Fossil, Marks & Spencer, GAP, Next dan Ted Baker. Untuk mencapai York DO maka sebaiknya lakukan saat sampai di York.

Hal tersebut bisa ditempuh dengan menggunakan bus dari halte disebrang stasiun. Bus bernomor 7 dengan tujuan York Designer Outlet adalah pilihan utama. Apabila mengunjungi York saat akhir pekan dan bersama teman-teman, maka sebaiknya membeli tiket bus group seharga £5 untuk 5 orang dan sudah bisa digunakan sebagai tiket pergi-pulang. Namun jika berkunjung seorang diri atau di hari kerja maka tiket pp sekitar £3,10. Harga tiket ini khusus pp ke DO, sebab jika harga tiket harian pp yang berlaku untuk sekitar kota York sekitar £4,20 (getdown.org.uk).

Namun jika hanya ingin menikmati cantiknya kota York, biasanya saya berjalan kaki sepanjang hari. Hal ini karena semua tempat menarik berada dalam jarak yang berdekatan dan tentunya bisa menghemat biaya transportasi.

Saran saya, jika ingin berkunjung ke DO maka sebaiknya sampai di York lebih pagi mungkin sekitar pukul 9.00 – 10.00 am lalu habiskan waktu hingga pukul 3.00 – 4.00 pm di DO dan kembali ke York untuk jalan-jalan di dalam kota sebelum kembali dengan kereta pukul 8.00 – 9.00 pm. Tapi apabila memiliki banyak waktu untuk kembali ke York lagi, ada baiknya memisahkan hari berkunjung ke DO dan mengitari kota York demi menghindari ketergesaan.

Pesan penting: Bagi siapapun yang menikmati coklat sebagaimana saya menikmatinya, maka berkunjunglah ke York dan beli coklatnya!

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.02

References:

BBC UK. 2017. York’s Real Life Diagon Alley Popular with Potter Fans. [Online]. [Accessed 2nd May 2018]. Available from: http://www.bbc.co.uk/news/av/uk-england-york-north-yorkshire-42240392/york-s-real-life-diagon-alley-popular-with-potter-fans.

Get Down. Bus Services in York. [Online]. [Accessed 2nd May 2018]. Available from: http://getdown.org.uk/bus/bus/7.htm.

Shambles Market. Shambles Market About. [Online]. [Accessed 2nd May 2018]. Available from: http://www.shamblesmarket.com.

YorkMix. 2014. 14 Tooth-Achingly Sweet Facts about York and Chocolate. [Online]. [Accessed 2nd May 2018]. Available from: https://www.yorkmix.com/food-drink/fourteen-york-chocolate-facts/.

York’s Chocolate Story. York – The Chocolate City. [Online]. [Accessed 2nd May 2018]. Available from: https://www.yorkschocolatestory.com/the-story/york-the-chocolate-city/.

Bergegas atau Bersiaplah Tenggelam

Karena kamu tidak pernah tau apa yang terbentang di depan sana. Ada masa ketika kamu merasa semuanya berubah mendadak menjadi rentetan kejutan yang tidak pernah kamu antisipasi sebelumnya.

Membuat mu merasa terpojok dan berpikir ulang, apakah aku sudah berada di jalan yang benar? Apakah keputusan yang aku ambil hari ini adalah keputusan tepat?

Semua pertanyaan-pertanyaan penuh keraguan itu bermunculan. Sederhana, karena kita tidak pernah siap dengan penyesalan. Ketakutan akan masa depan menggerogoti dengan sangat. Bahkan beberapa dari kita tidak pernah siap dengan masa depan akibat terlalu sibuknya merangkai begitu banyak skenario yang kita pikir adalah gambaran masa depan nantinya.

Jika saja sesekali kita berhenti. Bernapas dengan tenang. Membiarkan waktu bergulir dengan apa adanya. Tanpa pretensi dan praduga, mungkin saja kita akan menikmati setiap kejutan yang hadir. Membiarkan diri mengikuti ombak kehidupan yang melingkupi. Tidak ada gunanya melawan, karena pada akhirnya kau juga akan tergulung.

Namun bukan dengan cara itu kita dibesarkan. Ada pilihan yang harus dibuat, semua pilihan memikul konsekuensinya sendiri. Ada kejadian yang memang harus dilalui karena ingatlah bahwa kejadian tersebut datang dari keputusan yang pernah kita buat suatu waktu di masa lalu.

Penyesalan mungkin tidak terhindarkan, tapi kenapa harus berlarut di dalamnya. Tidak kah, penyesalan itu bisa menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh di hari esok? Tidak kah, penyesalan itu bagian dari bekal yang siap membawa kita memutuskan dengan lebih baik di hari mendatang?

Sejauh apapun kita terlarut, waktu tidak akan pernah bisa diulang kembali. Tidak pernah ada pilihan untuk mengulang, kesempatan yang kita miliki hanya melangkah maju dengan penyesalan yang bisa saja malah menahan langkah dan membuat kesempatan lain hilang begitu saja, atau berlari kencang dengan bekal yang sudah lebih matang dan hadapi semua yang tersaji di depan mata.

Pada akhirnya, kita hanya akan bergerak mengikuti gulir waktu yang tidak memiliki jeda. Bergegas atau bersiaplah tergulung ombak besar dan tenggelam.

Menyusuri pusat kota Leeds

Hi, it’s been a while…

Setelah memasuki empat minggu masa perkuliahan ternyata waktu yang tersisa untuk mengumpulkan niat dan menulis tidak sebanyak sebelumnya.

Kalau kemarin udah ngomongin soalnya Leeds University Union, sekarang mari melangkah ke luar dari gedung kampus. Melongok ke jalan raya dan menikmati Leeds dari sudut pandang yang berbeda.

WhatsApp Image 2017-10-18 at 15.13.02

Hyde Park, Leeds

Selain kuliah biasanya keseharian diisi oleh jalan-jalan keliling city centre. Di sini biasa disebut city centre, pusat kota yang menjadi titik tengah aktivitas utama hiburan di Leeds berlangsung.

Mulai dari belanja sayur dan buah, fashion item, stasiun kereta dan halte bus utama hingga club dan bar pun tersedia. Bagi yang biasa tinggal di Jakarta mungkin Leeds nyaris nggak ada istimewanya sebagai tempat hiburan. Ya gimana nggak, di sini kalau Minggu – Kamis mayoritas shopping centre di Leeds udah tutup. Kerasa ramainya cuma Jumat-Sabtu yang mana mall  buka sampai jam 8 pm dan sepanjang jalan ramai anak muda yang sedang bar hopping.

Lantas, Leeds jadi nggak menarik? Nggak juga sih. Setelah tinggal di Jakarta yang sumpek, kadang jalan-jalan sore sendirian di Leeds menyusuri pusat kotanya cukup menenangkan. Suasana baru, kepadatan yang berbeda, minimnya bau polusi dan sejuknya udara di bulan Oktober adalah perpaduan yang pas.

Apa yang biasanya dilakukan mahasiswa di Leeds selain di kampus? Jawabannya tergantung sih, cuma yang paling sering gue lakukan adalah groceries shopping. Nggak ada alasan tertentu sih, tapi dengan menyusuri lorong-lorong supermarket secara nggak langsung itu menyenangkan dan cara melepas penat yang manjur.

 

WhatsApp Image 2017-10-18 at 15.13.04 (1)

Leeds Kirkgate Market

Banyak pilihan groceries shopping di Leeds yang bisa menyebabkan “kecanduan”. Sebut saja morrisons, ASDA, ALDI, atau Sainsbury’s dan TESCO. Kalau memang nggak bisa jauh dari cita rasa tanah air ya wajib mampir ke Sing Kee atau Hang Sing Hong, chinese store yang menjual mulai dari kangkung sampai ikan teri. Atau kalau memang pengen sekalian main ke pasar ya wajib mampir ke Kirkgate Market.

WhatsApp Image 2017-10-18 at 15.13.05

Leeds Kirkgate Market

(Nanti untuk beberapa tempat akan gue buat tulisan sendiri kali ya, mengingat banyaknya yang harus diceritakan dari tempat-tempat itu hehehe. Biar ada bahan tulisan yang mendorong nulis terus juga, jadi biar berasa ditagih-tagih sama diri sendiri).

Selain itu kadang di Jumat malam juga keluar nyobain bar atau club yang ada di tengah kota. Mengintip kegiatan anak muda di sudut barat wilayah Yorkshire ini. Mencoba beragam makanan dari mancanegara seperti hummus-nya Lebanon, felafel-nya Timur Tengah, thai foodpho-nya Vietnam, baklava-nya Turki, sapo tahu-nya China, atau yang pasti Fish & Chips yang merupakan makanan asliny Britania.

Sisanya ngapain? Jalan sih keliling kota-kota di West Yorkshire sekitar Leeds. Untuk itu gue udah pernah mampir ke Otley dan Castleford. Biasanya bisa ditempuh dengan bus sekitar 20-45 menit kok, jadi kalau lagi nggak ada kegiatan di dalam kota, bisa melirik kota-kota lainnya yang jaraknya deket dan transportasinya masih terjangkau di kantong.

WhatsApp Image 2017-10-18 at 15.13.08 (1)

Leeds City Square

Di sini nggak susah untuk jalan-jalan dan nggak perlu bingung mau menggunakan transportasi apa karena google maps udah lebih dari cukup untuk membimbing kita ke jalan yang benar.

Kalau main ke Leeds atau berencana tinggal di sini perlu diingat Leeds itu semacam kota party karena setiap malam pasti ada acara di club atau bar dengan tiket masuk yang sangat terjangkau atau bahkan nggak jarang free. Kalau demen party dan bar hopping, Leeds udah pasti harus jadi salah satu destinasi.

Bagi yang suka ketenangan, Leeds juga juaranya. Jarang terjadi keramaian yang besar, kalaupun ada hanya berpusat di city centre. Sementara wilayah-wilayah lainnya yang memang khusus untuk hunian hanya diisi oleh beberapa cafe dan bar kecil. Cenderungnya sangat tenang.

WhatsApp Image 2017-10-18 at 15.13.08

St. John’s Centre

Di Leeds semua terbagi dengan jelas, mana wilayah untuk mencari keramaian, bagian mana yang pas buat bersantai cuma dengan duduk anteng di taman, jalan kaki di tengah sejuknya angin atau makan gelato sambil mengamati jalanan sekitar.

Sepanjang September-November, Leeds itu biasanya memasuki musim gugur atau autumn. Gimana autumn? Kalau ditanya ke gue, jawabannya luar biasa buat jatuh cinta. Pernah nggak sih berharap Jakarta ademan, mendung gloomy, berangin sejuk tapi nggak ujan dan nggak bermatahari yang terik sampai buat keringetan mengguyur? Nah kalau pernah menyelipkan harapan seperti gue, maka autumn adalah jawaban dari semua harapan dan mimpi itu.

WhatsApp Image 2017-10-18 at 15.13.06

Leeds Queen’s Arcade

Terkadang hujan terjadi memang tapi ya hujan biasa aja. Rintik yang kadang bisa buat basah juga tapi nggak pernah dengan intensitas yang tinggi. Suhu udara selama ini sih hanya berkisar di 9 – 21 derajat. Bahkan setelah nyaris dua bulan di sini, gue bisa sampai di tahap 17 derajat ke atas merasakan gerah dan berani pake kaos doang jalan-jalan.

Tapi, kalau ngomongin soal angin, Leeds juaranya sih. Berkali-kali gue sulit jalan atau malah terdorong karena tekanan angin yang terlampau keras. Kalau udah gitu mending anteng aja di dalam ruangan atau nanti riskan masuk angin atau mampet flu yang nanggung gitu.

Oh, jangan berharap pada transportasi yang beragam macam di Leeds. Transportasi yang bisa dipilih di sini hanya bus untuk harga tiket harian 4,20 poundsterling seharian ke mana aja di dalam kota Leeds, atau 2,30 poundsterling untuk tiket sekali jalan atau 1 poundsterling untuk mahasiswa sekali jalan dengan menunjukkan student card.

WhatsApp Image 2017-10-18 at 15.13.04

Leeds Victoria Arcade Shopping Centre

Selain itu di sini juga ada uber mobil dan amber car kok (salah satu brand taksi online di Leeds, tapi pilihan taksi di sini cukup banyak). Harganya juga kalau lagi bareng-bareng nggak mahal kok karena memang jarak di Leeds nggak terlalu jauh-jauh banget juga.

Apa yang biasanya gue gunakan? Kalau ke kampus bahkan ke city centre biasanya gue jalan kaki hehehe. Lebih hemat dan udaranya itu buat nagih. Gue nggak mau menyia-nyiakan autumn yang sedang berlangsung dan tak mungkin terulang lagi ini. Mengingat masa indah gue di Leeds hanya untuk setahun, maka selagi bisa jalan gue akan pergunakan untuk jalan.

Jauh nggak? Ya lumayan lah. Pertama kali ke Leeds dan jalan kaki rasanya mau nyerah aja. Karena Leeds itu hilly. Semua jalannya itu berbukit dan menanjak naik turun. Tapi lama-lama nanti juga biasa kok. Gue jalan dari rumah ke kampus tiap harinya sekitar 20-25 menit, kalau dari rumah ke city centre itu sekitar 35-45 menit (untuk setiap kali jalannya ya bukan pp), tapi karena nggak ada polusi dan udara dingin itu sih jadi ya enak aja jalan selama itu.

Satu yang juga nggak kalah penting, kalau yang ke toilet sebaiknya setiap ketemu toilet langsung dimanfaatkan. Karena di Leeds agak susah mencari toilet di tempat umum. Bahkan di shopping centre nya yang besar-besar pun hanya ditemukan satu – dua toilet. Lebih baik siaga daripada pas kebelet bingung harus ke mana. Ya, kalau mepet banget langsung cari McD terdekat ya.

Gimana rasanya nyaris dua bulan ini? Jawabannya satu, Leeds itu menyenangkan dan autumn membuat semuanya terasa lebih indah.

WhatsApp Image 2017-10-18 at 15.13.03

Leeds Trinity Centre

Penting nih, Leeds itu murah kok. Inflasi UK yang memang nggak setinggi Indonesia juga salah satu alasannya sih. Terakhir dari data Office for National Statistics UK yang rilis Kamis (17/10), inflasi Inggris September 2017 menyentuh level tertingginya dalam lebih dari 5 tahun terakhir yakni 3,0% atau naik dari September 2016 yang hanya 2,9%.

Kembali ke pembicaraan awal, di sini makan fish and chips lengkap porsi gede masih bisa di bawah 5 poundsterling sementara kalau di London paling murah itu kisaran 8 poundsterling. Kalau sewa rumah per kamarnya per orang masih banyak banget yang di kisaran 350 – 550 poundsterling per bulannya sementara di London paling murah itu kisaran 700 poundsterling. Kebayang kan perbandingannya?

Jadi, di sini biaya hidup sebulan yang standar dengan tingkat jajan sehari 5-10 poundsterling dengan shopping fashion item sekali-kali, plus langganan bus dan sewa rumah masih bisa di kisaran 750 – 1000 poundsterling. Itu gaya hidupnya udah bisa oke banget kok, tanpa kekurangan sama sekali.

Cuma kalau memang pecinta keramaian yang super sih Leeds harus dipertimbangkan. Takutnya malah jadi bosen. Karena kadang kalau lagi musim libur jangan heran kalau mendadak kotanya bakal sangat sepi dan nyaris tak berpenghuni.

Selain itu, Leeds udah tepat untuk jadi pilihan kalau mau kuliah di Inggris kok. – NDN

WhatsApp Image 2017-10-18 at 15.13.09

Leeds City Centre

LUU, Tempat Favoritnya Para Mahasiswa

25 September 2017,

Jauh melompat melewati hari. Akibat banyaknya kegiatan yang harus diselesaikan sebelum memasuki minggu pertama perkuliahan, janji untuk menulis lebih rutin pun sempat terbengkalai.

Akan ada masanya aku akan bercerita mengenai bagaimana mencari tempat tinggal di Leeds, membeli jajanan dan bahan makanan yang halal di sekitar kampus dan tempat tinggal hingga transportasi dan bagaimana keseharian di Leeds terlewati.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.16

Salah satu tangga di LUU

Karena ini hari pertama perkuliahan di mulai. Maka sebagai pembuka,

“Selamat datang di Week 1”, begitu kalau kata mereka-mereka yang sudah memasuki week 52 atau akhir dari perkuliahan dan bersiap menyandang titel S2 di pundaknya.

Namun posting-an ini tidak akan bercerita mengenai kegiatan perkuliahan itu sendiri. Ada satu gedung yang menarik dan pasti akan menjadi pusat perhatian saat kalian berkunjung ke University of Leeds, yakni Leeds University Union (LUU).

 

Secara sederhana, gedung ini berlantai 4 dan menjadi tempat terbuka bagi siapa saja mahasiswa/i Leeds yang hendak sekadar bersantai, makan siang hingga bergabung dan melaksanakan aktivitasnya sebagai bagian dari suatu komunitas.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.10

Area makan di depan Wok & Go, LUU

LUU tidak hanya gedung tapi juga pusat kegiatan mahasiswa/i Leeds. Membawahi sekitar 380 komunitas dan memilliki beragam kafe, restoran, coffee shop, ruang serba guna hingga ruangan musholla bagi muslim.

Area bawah LUU adalah bagian terfavorit buat aku sendiri. Selain banyaknya sofa dan kursi serta bean bag yang bebas digunakan kapan saja, di sini juga terdapat sebuah restoran bernama Wok & Go yang menjual “Chinese and Asia Food”. Tentunya memanjakan lidah walau tak selalu ramah di kantong mengingat harga untuk seporsi makanannya berkisar 4,5 – 6,5 poundsterling. Tapi ya untuk sesekali jika malas masak dan membawa bekal ini bisa jadi alternatif.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.12

Sebagai catatan satu porsi makanan di Wok & Go sangat padat dan besar sehingga bisa untuk dua kali makan (buat saya sih) hehehe.

Tidak hanya ada Wok & Go, di sisi lain lantai ini juga terdapat Common Ground Coffee Shop dengan beragam menu minuman mulai dari kopi, susu dan teh yang bisa dijadikan andalan. Begitu juga dengan kue, yogurt atau buburnya. Menu andalan aku adalah chococino (susu coklat yang sebenarnya adalah children menu tapi siapa saja bebas pesan plus sebagai bonus porsinya besar kok). Selain enak, harganya juga sangat murah yakni hanya 50p. Bandingkan dengan rata-rata minuman di Common Ground ukuran dewasa yang berkisara 1 poundsterling (untuk teh) dan 3 poundsterling (untuk kopi dan susu).

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.14

Area tempat duduk Common Ground

Tidak hanya itu, masih di lantai yang sama kita juga bisa menemukan supermarket yang menjual beragam makanan dengan harga murah seperti sandwich dan makanan cepat saji lainnya yang bisa dihangatkan di student kitchen.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.14 (1)

Area student kitchen sendiri terdapat di lantai yang sama. Di sana kita bisa menemukan microwave, tap water dan juga air panas. Jika membeli sesuatu di supermarket (bernama essentials) kita juga bisa meminta sendok atau garpu, jika memang lupa membawanya.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.30.53

Essentials Supermarket LUU

Jika ingin berburu aksesoris khas kampus juga ada di lantai ini. Toko bernama Gear siap menawarkan beragam produk mulai dari kaos, jaket, gelas, hingga pin berlogo University of Leeds. Bagi yang menggemari salad ataupun vegetarian ada toko bernama Salad Box.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.30.51

Gear Store

Mencari kacamata? Silahkan mampir ke toko bernama Bayfields. Selain juga ada cabang bank Santander yang memang merupakan bank resmi kampus serta toko perawatan kuku, rambut dan wajah bagi perempuan bernama Pamper Me. Di bagian lainnya pun terdapat Old Bar yang terkesan klasik namun menarik perhatian untuk sekadar menghabiskan waktu minum kopi. Atau jika memang pecinta makanan Lebanon seperti Humus, ada juga loh Humpit Bar di sebelah Wok & Go.

Puas menjelajah area ini, kita bisa turun lagi dan menemukan Riley Smith Theatre dan Pyramid Theatre yang merupakan tempat diselenggarakannya beberapa acara termasuk konser dan pemutaran film di kampus.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.15

Area menuju Pyramid dan Riley Smith Theatre

Bagian atas adalah lobby dengan beragam sofa warna warni yang tersebar di seluruh ruangan. Di lobby ini juga kita bisa menemukan staff LUU dan menanyakan hal-hal dasar mengenai kampus seperti lokasi gedung perkuliahan hingga acara terbaru yang diselenggarakan komunitas dan membeli tiket acara tersebut secara langsung.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.19

Lobby LUU

Pada lantai yang sama juga ada beberapa restoran dan coffee shop yang bisa dijadikan alternatif seperti Terrace Bar dan Refectory.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.17 (1)

Terrace Bar LUU

Di bagian atas gedung LUU akan ditemukan banyak ruangan kelas dan serba guna yang biasa digunakan komunitas untuk mengadakan pertemuan rutinnya. oh jangan lupa, ada ruangan bernama Rooted, di mana mahasiswa/i bisa ikut aktif bercocok tanam dan aktivitas tersebut sifatnya volunteering loh.

Maka jangan heran jika berkunjung ke LUU maka akan ditemukan ratusan mahasiswa baik yang sedang bersantai maupun mengerjakan tugas, individual dan berkelompok. LUU tidak pernah sepi dari mahasiswa hingga malam menjemput.

Walau sulit mendapatkan tempat yang nyaman di jam ramai, namun kaki ini tetap memilih melangkah ke LUU karena memang lebih nyaman menunggu dan bersantai di sini daripada di sudut-sudut taman kampus yang sedang dingin-dinginnya.. (NDN)

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.18