Category Archives: Telisik Sudut

Tiga Kesempatan Berbeda Menonton Pertandingan Langsung di Kandang Tim yang Berlaga

Masih bertema Piala Dunia 2018, tulisan ini akan membahas rejeki lain yang di dapat sepanjang perjalanan. Pertama, memang tujuan saya dan teman-teman adalah menonton pertandingan Piala Dunia langsung di Rusia. Namun tanpa disangka kami malah diberikan rejeki lebih dengan berkesempatan menonton pertandingan negara-negara yang kebetulan kotanya sedang kami kunjungi, langsung dari “rumahnya”.

Bermula dari sesampainya kami di Warsawa, Polandia pada 24 Juni 2018 lalu. Saat itu tanpa disangka Polandia juga akan tanding di hari yang sama. Kami menyadari hal itu ketika sesampainya di halte bus dan selepas meletakkan barang-barang di luggage room, kami melewati stand penjaja Dunkin Donuts.

Terpampang tulisan “buy 6 donuts, gratis another 6 donuts on the match day”. Penasaran dan tertarik terutama pada donat-donat berlambang bendera Polandia dan berhiaskan lapangang sepak bola, kami pun mendekati stand tersebut. Ternyata benar, malam itu, Polandia akan berhadapan dengan Kolombia.

img_0575.jpg

Donat bertema Piala Dunia, Warsawa, Polandia.

Salah seorang teman perjalanan saya mengetahui bahwa ada tempat outdoor yang biasa dijadikan warga Polandia lokasi nonton bareng Piala Dunia tidak jauh dari halte bus. Fan zone tersebut bernama Plac Europejski atau European Square. Dengan bangku-bangku pantai dan layar besar, para penikmat Piala Dunia akan menemukan kenyamanan di tengah kota Warsawa.

Hari itu pula, saya menyaksikan warga Polandia yang bermuram durja. Bukan hanya karena Polandia kalah, tapi juga pupusnya kesempatan Polandia melanjutkan ke babak – 16 besar.

Bergeser ke kota selanjutnya, pada 1 Juli 2018, saya sedang berada di kota Moscow. Sore itu, saya dan teman-teman sedang mengunjungi Museum of Cosmonautics. Pesimis rasanya mengharapkan bisa menonton pertandingan Spanyol vs Rusia kala itu karena posisi kami tidak memungkinkan.

Ternyata, Allah SWT punya cerita lain. Di dalam museum terdapat Cinema Hall yang biasa dijadikan tempat memutar film-film bertema cosmonautics yang ternyata pada hari itu berubah menjadi tempat nonton bareng dadakan. Kami pun bergegas mengambil tempat dan ikut menonton pertandingan.

2018-07-01-18_22_07-532.jpg

Nobar Rusia vs Spanyol di Cinema Hall, Museum of Cosmonautics

Lepas babak pertama, museum memasuki jam tutup. Saya dan teman-teman segera bergegas menuju Red Square untuk mencari tempat menonton kelanjutan pertandingan yang sedang sengit-sengitnya.

Keputusan tepat, karena sesampainya kami di sana, perpanjangan waktu 15 menit kedua baru akan usai. Lepas babak drama penalti, kami pun menyaksikan warga Rusia bersuka cita atas keberhasilan tim Rusia melenggang ke babak – 8 besar. Red Square bergemuruh, semua orang tumpah ke jalan, mobil-mobil di jalanan berlomba membunyikan klakson, bendera Rusia berkibar di seluruh penjuru pusat kota.

Suasana yang sulit digambarkan, dari menikmatinya hingga lelah dikerubungi ratusan bahkan mungkin ribuan orang. Hingga akhirnya kami memilih meninggalkan pusat kota dan pulang ke hostel.

Processed with VSCO with c1 preset

Red Square, Moscow, pasca kemenangan Rusia atas Spanyol.

Terakhir, 7 Juli 2018. Di hari terakhir perjalanan liburan kali ini, kami sedang berada di Stockholm, ibukota Swedia. Kebetulan, Swedia siap berlaga dengan Inggris di babak delapan besar. Meski hanya sempat menonton babak pertama karena kami harus segera bergegas ke bandara, namun suasana riuh rendah warga Swedia yang siap mendukung tim nasionalnya bertanding sore itu tidak terelakkan.

Sejak siang sekitar pukul 1 waktu Swedia, seluruh transportasi dalam kota sudah dipenuhi dengan pendukung Swedia berbaju kuning. Begitu pun di jalan-jalan di pusat perbelanjaan. Meski akhirnya Swedia takluk 0 – 2 atas Inggris, namun ada sesuatu yang menarik.

Sehari sebelumnya, kami sedang menikmati pusat kota Stockholm dan bersiap nonton bareng pertandingan Brasil vs Belgia. Namun sepanjang perjalanan sangat sulit menemukan tempat nobar. Ada beberapa restoran dengan tv yang sudah tampak sesak, namun selebihnya restoran dan kafe terlihat santai tanpa kericuhan para penonton setia Piala Dunia.

Kami sempat berpikir mungkin tidak banyak nobar yang diselenggarakan di Stockholm atau warganya lebih memilih menonton di rumah. Jelas ini hanya asumsi belaka tanpa dilandasi fakta yang kuat. Namun nyatanya, di hari Swedia akan bertanding, suasana kota mendadak berubah total.

2018-07-07-15_57_19-481.jpg

Rombongan pendukung Swedia sebelum pertandingan Swedia vs Inggris, Stockholm, Swedia.

Para penonton Piala Dunia memadati jalan dan suasana menjadi semarak. Bahkan ada beberapa restoran yang menyediakan menu khusus saat match day. Pada satu kesempatan, kami malah sempat melewati antrian panjang yang mengular penonton berbaju kuning-kuning hendak memasuki suatu gedung.

Suasana semarak tersebut bertambah manis dikenang karena kami berkesempatan merasakan nuansa dan semangat warga yang siap mendukung tim nasionalnya hendak berlaga di ajang sepak bola paling bergengsi sejagat raya. Meski warga Indonesia merupakan pecinta bola, mungkin suasana seperti ini sulit dicari mengingat belum adanya kesempatan tim nasional kita berlaga di Piala Dunia.

Pengalaman ini mungkin terkesan biasa, tapi percaya lah jika kamu menikmati Piala Dunia dan ajang sepak bola bergengsi lainnya, ada syukur yang tak putus dapat membaur dengan ratusan penonton lainnya terutama bersama mereka yang siap mendukung tim nasionalnya berlaga.

Ada semangat yang membara, harap yang tinggi dan semarak yang gegap gempita. Kenangan lain yang pantas mendapat tempat khusus di ingatan, patut disyukuri dan diabadikan, salah satunya lewat tulisan ini.

IMG_0580

Bersiap nobar di European Square, Warsawa, Polandia.

Stockholm, 7 Juli 2018. – NDN.

Advertisements

Hingga akhirnya mengantongi tiket Piala Dunia 2018

Masih menyambung tulisan sebelumnya. Saya akan mencoba menjabarkan proses pembelian tiket dan pengurusan dokumen penunjang Piala Dunia 2018 di Rusia kali ini.

IMG_1302

Tiket pertandingan Jepang vs Polandia, Group H Match, Volgograd Arena, Rusia, 28 Juni 2018.

Semua bermula di November 2017 lalu. Saat itu sepanjang periode 16 – 28 November 2017, melalui website resmi FIFA dibuka lah gelombang “First Come First Served” pertama. Antrian dibuka pada pukul 09.00 BST (karena saya memang tinggal di Leeds, jadi waktunya saya sesuaikan dengan tempat saya berada). Setelah masuk dalam antrian, saya harus menunggu sekitar 3 jam untuk bisa mengakses laman pembelian tiket.

Screenshot (2)

Antrian yang terpampang saat mengakses laman pembelian tiket World Cup 2018

Perlu diingat saat berniat membeli tiket pertandingan, kita sudah harus memiliki akun di website resmi FIFA. Setelahnya tinggal log in dan mengikuti arahan sebagaimana yang tertera pada website.

Namun rejeki ternyata tidak berpihak pada saya. Saat saya berhasil mengakses laman pembelian, tiket yang tersisa tinggal kategori 1 dan 2 yang mana jauh di atas budget saya. Sayangnya, saya tidak bisa ingat berapa harga tiketnya saat itu.

Peruntung kedua pun saya lakukan dengan mengikuti “Random Selection Draw” fase kedua periode 5 Desember 2017 – 31 Januari 2018. Prosesnya adalah kita tinggal memilih pertandingan yang ingin kita tonton, lalu melakukan request. Nantinya FIFA akan mengumumkan apakah kita mendapatkan tiket yang kita ajukan. Setelah itu baru pembayaran akan dilakukan dengan langsung menarik dana dari rekening tabungan yang sudah kita daftarkan.

Lagi, rejeki belum berpihak pada saya. Kala itu saya mengajukan request untuk Match ke – 51 yang jika dilihat sekarang adalah pertandingan Spain vs Russia di Moscow pada babak 16 besar lalu.

Saya tidak putus semangat. Memasuki periode 13 Maret – 3 April 2018, FIFA kembali mengadakan “First Come First Served” fase kedua. Saya dan teman-teman pun mencoba peruntungan sekali lagi.

Kali ini rejeki berpihak pada kami. Setelah mengantri sekitar 2 jam dan menunggu dengan cemas, akhirnya kami berhasil mengantongi tiket kategori 3, Jepang vs Polandia untuk tanggal 28 Juni 2018 di Volgograd Arena. Harga tiket sendiri adalah 115 USD atau sekitar 72 GBP.

Rencana awal kami memang mengincar pertandingan di kota Moscow atau St. Petersburg sehingga akan meminimilasir budget perjalanan ke kota lainnya. Namun persaingan untuk kedua kota tersebut sangat ketat. Sehingga sebagai gantinya kami menghemat biaya akomodasi selama perjalanan dan memilih menghabiskan waktu di perjalanan selama trip kali ini.

Setelah tiket berhasil dikantongi. Langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah membuat FAN ID. Hanya saja, pada tahap ini kami sedikit lengah. Mengingat waktu yang bertepatan dengan libur musim semi. Kami semua sibuk menikmati liburan dan meninggalkan kewajiban untuk membuat FAN ID.

Screenshot (3)

Website untuk pembuatan FAN ID

Kebutuhan membuat FAN ID ini berkaitan dengan kemampuan untuk memilih dan mereservasi tiket transportasi gratis antar kota di Rusia dari FIFA. Singkat cerita, kami baru membuat FAN ID sekitar akhir April 2018.

Pembuatan FAN ID terhitung mudah. Kita tinggal mengakses website FAN ID, lalu memasukkan nomer tiket pertandingan yang sudah kita miliki kemudian mengisi data diri pada kolom-kolom yang tersedia. FAN ID ini juga berlaku sebagai visa Rusia bagi warga internasional.

Sebagai informasi, visa Rusia berbeda dari Schengen. Meski terletak di kawasan Eropa namun untuk berkunjung ke Rusia kita membutuhkan visa tersendiri. Proses pengajuan visanya sendiri (dari UK) memakan waktu sekitar 1 bulan dengan biaya 90 USD. Selain itu, bagi warga negara Indonesia hanya dapat mengajukan visa single entry. Sehingga pilihan ini cukup menguras isi kantong.

Untungnya, FIFA memberikan solusi dengan mengeluarkan kebijakan FAN ID. Halaman depan FAN ID berbentuk seperti tanda pengenal pada umumnya, dengan nama dan foto diri. Sedangkan pada halaman belakangnya terdapat visa resmi Rusia bagi sang pemilik data diri.

Keuntung lainnya memiliki FAN ID adalah kita bisa melakukan multiple entry ke Rusia sepanjang 5 Juni – 25 Juli 2018 (atau selama World Cup berlangsung ditambah 10 hari di awal dan 10 hari di akhir).

Imbas dari keterlambatan membuat FAN ID, transportasi gratis antar kota yang kami incar dari Moscow – Volgograd sudah full booked. Kami pun menunggu hingga akhir Mei 2018, berharap ada penonton yang membatalkan tiketnya sehingga tersisa kursi kosong bagi kami. Namun, karena tak ada tanda-tanda menjelang awal Juni 2018 kami pun memutuskan membeli tiket kereta sebagai salah satu alternatif termurah ke Volgograd.

Tiket kereta kami beli melalui website resmi perusahaan kereta api milik negara Rusia atau RZD Russian Railways. Mengingat perjalanan memakan waktu sekitar 24 jam, kami memutuskan membeli tiket dengan tempat tidur seharga sekitar 30 GBP.

Kelar urusan transportasi, dibutuhkan waktu sekitar 1  – 2 minggu hingga akhirnya FAN ID sampai ke rumah. Pilihan lainnya, FAN ID bisa diambil di FAN ID Center yang tersebar di seluruh kota pertandingan di Rusia. Namun mengingat FAN ID ini merupakan visa untuk masuk ke Rusia maka kami memilih dikirim ke rumah. Tanpa biaya tambahan.

Sedangkan untuk tiket pertandingannya sendiri juga dikirim ke rumah dan baru tiba di awal Juni 2018 lalu. Keduanya harus dibawa serta kemana pun kita berada saat masuk ataupun berada di Rusia.

Masih banyak keuntungan yang bisa didapat dari penggunaan FAN ID. Tapi akan diceritakan dalam tulisan selanjutnya ya. Meski Piala Dunia 2018 sudah sisa beberapa pertandingan, semoga tulisan ini cukup memberikan gambaran jika kalian berencana membeli tiket Piala Dunia 2022 di Qatar.

Pelajaran dari semuanya, sebaiknya mencari informasi sebanyak-banyaknya terlebih dahulu sebelum fase pembelian tiket dibuka. Setelah itu, banyak membaca dan mencari tahu kebutuhan penunjang lainnya. Mulai dari visa, tiket transportasi hingga akomodasi. Sebagai gambaran, hampir semua tiket transportasi dan akomodasi di Rusia terutama di kota-kota yang menyelenggarakan pertandingan, harganya naik 2 – 3 kali lipat dari harga biasa.

Maka ada baiknya perjalanan disusun dari jauh hari. Semakin cepat perencanaan dilakukan, maka eksekusi membeli tiket dan menyewa hotel atau airbnb bisa dilakukan dengan segera. Tidak sedikit para penonton asing yang kehabisan tiket transportasi antar kota atau harus membayar berkali lipat demi tempat tinggal. Tentunya lebih hemat akan lebih baik kan?

32A7723B-535F-4AB3-8710-A0606116BBB1

FAN ID

Saint Petersburg, 4 Juli 2018. – NDN.

Berikut link tiket FIFA, pembuatan FAN ID dan tiket kereta antar kota Rusia:

FIFA: https://www.fifa.com/worldcup/

FAN ID: https://www.fan-id.ru/

RZD: http://www.rzd.ru

Mimpi itu terwujud di Volgograd, Rusia.

Ada beberapa hal terkait rejeki yang selalu saya yakini dalam setiap langkah yang saya ambil. Bahwa rejeki sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah SWT dan tidak pernah datang terlambat. Bahwa mimpi dan harap akan menjadi nyata lewat usaha dan doa yang tak pernah putus. Bahwa kita tidak akan pernah tahu kapan satu atau sekian dari mimpi kita sudah di depan mata.

LRG_DSC00720

Bersama Maskot Piala Dunia 2018, Zabivaka, Fan Fest Volgograd, Rusia.

Sebagai gambaran, pada masanya, papa mencekoki saya menonton Piala Dunia 1998. Saat itu saya yang masih berumur tujuh tahun memilih sesukanya untuk mendukung tim Itali karena mereka berbaju biru, kebetulan saya suka biru. Berlanjut ke Piala Dunia 2002, saat itu sudah cukup besar untuk menilai berdasarkan pemain-pemain yang memiliki wajah tampan.

Masih terpatri jelas diingatan, para pemain Itali saat itu mayoritas gondrong, dengan jambang yang menggoda. Siapa yang tak ingat jejeran difensore andalan Azzurri yakni Cannavaro, Nesta, Maldini dan Zambrotta atau sepasukan attacante yang digawangi Vieri, Del Piero, Inzaghi, Totti, Montella dan Delvecchio. Semua idola pada masanya. Itu juga kali pertama saya menitikkan air mata ketika Itali tersingkir dari Piala Dunia ketika kalah dari sang tuan rumah, Korea Selatan.

Kenangan bahagia sekaligus menyedihkan bagi saya adalah kemenangan Itali di Piala Dunia 2006. Saat itu bertepatan dengan masuknya saya ke sekolah berasrama di SMA Presiden. Saya ingat jelas, pertandingan terakhir yang berhasil saya tonton waktu itu adalah Itali vs Ukraina dengan skor 3-0 untuk Itali. Setelahnya saya masuk ke asrama tanpa akses televisi, koran, majalah bahkan handphone. Saya putus komunikasi dengan dunia luar.

Namun ketika orang tua saya mengantar saya ke asrama, mama sempat menitipkan pesan pada salah satu guru SMA saya bahwa saya adalah penggemar Itali dan sedang menantikan kelanjutan perjalanan Itali di Piala Dunia. Saya ingat betul, seminggu setelahnya, pagi hari ketika selesai apel pagi dan beraktivitas di sekolah, guru tersebut, memanggil saya ke ruangannya. Mengabarkan bahwa Itali berhasil menggondol gelar juara Piala Dunia 2006.

Perasaan saya membuncah hebat, antara bahagia dan sedih membaur jadi satu. Kesedihan datang karena saya membenci kenyataan bahwa saya melewatkan kemenangan bersejarah itu, ketika Totti, pemain yang saya idolakan, berhasil mengangkat piala namun saya melewatkan momen itu. Meski setelahnya saya sudah belasan kali menonton tayangan ulang atau cuplikan pertandingannya, namun rasanya tentu tak sama.

Piala Dunia 2010 dan 2014 ternyata tak berbuah manis bagi Itali, Azzurri bahkan tak lolos babak penyisihan. Pemain-pemain yang dulu saya nanti kehadirannya di layar kaca pun satu per satu gantung sepatu.

Hingga akhirnya di tahun 2018, saya melihat kesempatan untuk menonton langsung Piala Dunia. Hal ini bukan lah rencana satu malam, sejak tahun 2016, ketika saya tahu, saya akan mengejar mimpi saya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang S2 di Britania Raya, saya sudah membidik Piala Dunia 2018 yang akan diselenggarakan di Rusia.

Saya menabung dengan giat, memupuk mimpi sekali dua. Menjadikannya target yang akan saya usahakan dan selipkan dalam doa yang tak putus. Keduanya berhasil. Keduanya dipenuhi oleh Allah SWT. Namun satu yang luput dari doa saya, menonton Itali di Piala Dunia.

Allah SWT punya skenario lain. Hari ini saya menulis tulisan ini di St. Petersburg, Rusia. Namun tahun ini pula, Itali gagal masuk ke Piala Dunia untuk pertama kalinya setelah 60 tahun. Ada kekecewaan yang besar. Lagi, saya tak berjodoh menonton langsung negara yang saya dukung 20 tahun terakhir.

Namun saya tak ingin berlarut, tiket World Cup tetap saya beli, perjalanan tetap saya rancang sedemikian rupa. Tak pernah ada rejeki yang tertukar, sepanjang setahun terakhir, Allah mengabulkan puluhan atau bahkan ratusan doa yang saya selipkan.

IMG_1445

Volgograd Arena, 28 Juni 2018. 

28 Juni 2018 kemarin, saya melangkah masuk ke Volgograd Arena, Rusia. Memegang tiket pertandingan Jepang vs Polandia. Rejeki yang mungkin tak akan terulang. Menjadi bagian dari kerumunan penggemar bola dari seluruh dunia. Turut serta dalam perhelatan yang dinantikan seantero belahan bumi empat tahun sekali. Apalagi yang bisa saya ucapkan selain bersyukur dan mengucap Alhamdulillah.

Itu jelas bukan kali pertama saya masuk ke stadion bola. Dulu, saat piala AFF tahun 2010 saya pernah menonton Indonesia di Gelora Bung Karno. Atau jika pun tidak menonton bola, saya pernah ikut tur stadion Manchester United, di Old Trafford, Manchester 2017 lalu. Namun, kali ini rasanya berbeda. GBK rumah, saya bisa kapan pun menonton pertandingan bola di sana. Manchester hanya berjarak 45 menit dari rumah kedua saya di Leeds.

Namun Volgograd, terletak di Rusia. Negara yang bahkan tak pernah sekalipun masuk ke dalam daftar negara yang saya patok untuk dikunjungi. Mengingat sulitnya imigrasi di negara ini. Apalagi menonton Piala Dunia. Jauh sekali rasanya.

Saat saya sampai di depan stadion, saat itu lah saya semakin yakin, rejeki dari Allah tak pernah tertukar dan datang terlambat. Meneguhkan hati saya bahwa tak pantas rasanya mengubur mimpi, rawat lah, biarkan ia tetap hidup, agar kaki ini terus melangkah. Usaha dan doa yang tak putus akan membawa kita satu langkah lebih dekat dengan mimpi itu.

IMG_1362

Japan vs Poland, Group H Match, Volgograd, Rusia.

Tak masalah memiliki mimpi setinggi langit, bocah berusia 11 tahun yang dulu menangis di depan tv karena tim idolanya kalah dan tersingkir, pernah menancapkan harap dalam diri untuk suatu hari berangkat dan menonton Piala Dunia langsung agar dapat membaur dan meneriakkan semangat bagi timnya dengan puas. Hari ini, anak perempuan itu berhasil berteriak puas, meski bukan mendukung tim andalannya.

IMG_1230

Saya pun masih yakin, suatu hari di masa depan, saya akan bisa menonton pertandingan Itali. Tak harus di ajang Piala Dunia. Saya akan terus memupuk harap itu karena saya yakin Allah SWT sudah punya rencananya sendiri untuk saya. Yang bisa saya lakukan adalah memupuk harap itu, merawatnya, berusaha dan berdoa dalam upaya mewujudkannya.

Saint Petersburg, 3 Juli 2018 – NDN.

Bagi Para Pejuang LDR di Luar Sana

Suatu sore yang cukup terang benderang di Leeds, ada seorang teman dekat yang mengirimkan sebuah tulisan. “Tiba-tiba gue kebayang para pejuang kece LDR dan jadi nulis ini sambil mikirin perjuangan keras Nami dan Emir yang kece juga,” katanya waktu itu melalui pesan singkat.

Tergugah dengan barisan kata-kata indah yang ia hasilkan dari buah pikirannya kala itu, saya pun mengucap janji untuk menayangkannya di blog ini.

Karena sungguh, jauh itu bukan perihal jarak.
Jauh ialah waktu.

Jauh adalah untuk seluruh waktu yang tidak sempat kita habiskan bersama.
Jauh adalah untuk seluruh waktu ketika kamu bersinar bersama rembulan dan aku tersengat matahari yang malu-malu.
Jauh adalah saat-saat kamu letih dan berpeluh karena hidup, sementara aku terbuai di masa lelap yang pekat.

Waktu adalah pudar
Dan jauh itu kamu

Lantas kita menjadi nanar yang pendar
Dan perlahan hilang bersama waktu

Leeds, 1 May 2018
Daina.

Tulisan ini pantas disebarkan, tidak hanya bagi saya, tapi bagi siapapun di luar sana yang sedang menerjang perbedaan waktu dan jarak. Karena mungkin ruang tak lagi kita bagi bersama, tapi tak lantas hati berhak mengalah.

Terima kasih, Daina! 🙂

IMG_9367

Happy World Book Day!

Tidak mudah menjalani S2 di negeri yang begitu jauh dari rumah sendiri meski kamu sudah berpengalaman lebih dari 8 tahun menempuh pendidikan dengan tidak tinggal di rumah mu sendiri.

Satu kalimat panjang yang jika dibaca dalam sekali napas akan membuat mu langsung sesak itu adalah ekspresi yang tidak sepenuhnya pas tapi pantas untuk menggambarkan bagaimana sulitnya menjalani hari-hari di sini (terkadang). Karena tentunya kamu tidak bisa lantas menyingkirkan begitu saja hari-hari indah lainnya dalam perjalanan menyabet gelar master yang sedang dilalui ini.

Tulisan ini tidak akan berisi keluhan, tidak juga berhubungan langsung dengan indahnya kenangan yang sudah tercipta dan akan terbentuk di Leeds. Tulisan ini hadir pada tanggal 23 April 2018, hari yang disebut sebagai #WorldBookDay. Meski tulisan ini tidak lah sebuah guratan yang menghasilkan buku, namun setidaknya, sesuatu harus ditulis dan terpampang nyata pada hari ini (meski ketika diunggah, hari telah berganti menjadi 24 April 2018, paling tidak, usaha ini pantas diapresiasi kan ya?).

Sedikit mengulas hari lalu di tengah libur paskah yang berlangsung dari tanggal 17 Maret – 15 April 2018 lalu bagi mahasiswa University of Leeds, dua minggu diantaranya saya habiskan di Jakarta. Keputusan impulsif pun terjadi, membeli beberapa buku di Gramedia dan memutuskan untuk menahan diri tidak membacanya hingga sampai di Leeds.

Padahal niatan awal adalah mengurangi sebanyak mungkin barang dari Leeds sehingga nanti pada masanya hengkang dari Britania Raya, beban bawaan tidak lah terlalu memberatkan. Namun, niatan tersebut malah berbalik drastis. Saya malah menambah beban bawaan ketika kembali ke Leeds dan membawa buku-buku bacaan.

Saya tau, keputusan membeli buku itu tidak pernah masuk kategori sebagai keputusan yang salah dan menimbulkan penyesalan di masa mendatang. Setelah kembali ke Leeds dan dipenuhi dengan deadline yang menghimpit, buku-buku itu pun sebagian besar masih menganggur di atas meja belajar. Belum tersentuh, hanya dipandang hari demi hari.

Hingga entah apa yang menggerakkan hati untuk membacanya. Pilihan jatuh pada novel Resign, karya Almira Bastari. Pagi itu baru menunjukkan pukul 10.50 BST. Jadwal hari ini pun penuh dengan segambreng kegiatan yang memang baru dimulai pada pukul 15.00 BST siang. Saya pikir, daripada bengong atau tidur lagi, ada baiknya mulai membaca novel. Toh, mau memaksa diri mengerjakan tugas, saya sudah kehilangan semangat.

Sejak kembali dari Jakarta, saya mengalami perasaan nelangsa yang aneh. Perasaan sepi menyergap berlebihan, padahal sebelum pulang ke Jakarta saya baik-baik saja. Padahal, Leeds sudah spring dan matahari sudah bersinar terang benderang sejak pukul setengah 7 pagi dan baru tenggelam lepas pukul 20.00 BST setiap harinya.

Orang-orang merasakan gloomy pada saat winter karena memang sepanjang hari langit hanya berwarna abu-abu, suram. Namun, saya justru merasa kosong di hari-hari bermatahari terang. Saya yakin penyebabnya karena saya tidak siap dengan semua tugas yang menanti, tidak siap dengan kenyataan bahwa sesaat lagi saya harus meninggalkan kota ini, terlebih tidak siap dengan fakta bahwa tidak ada lagi lima orang bawel lainnya yang akan menemani hari-hari saya seperti saat di Jakarta, saat saya di rumah.

Terdengar sepele. Saya pun tidak menyangka saya sampai di titik cengeng itu. Sebab, tinggal jauh dari rumah bukan lah hal yang baru, meski ini pengalaman pertama saya tinggal di luar negeri untuk menetap.

Kembali pada keputusan saya mulai membaca pagi tadi, memasuki bab ketiga, saya merasa begitu dekat dengan karakter-karakter yang hadir. Ceritanya ringan, menggunakan bahasa sehari-hari yang renyah, dialog yang dibangun santai, tapi ada sesuatu dalam rangkaian kalimat yang dituliskan Almira yang membuat saya jatuh cinta.

Sedikit bocoran, novel ini berkisah tentang empat pegawai di suatu kantor di Jakarta. Bergelut dengan rangkaian tugas yang padat merayap ditambah tekanan dari bos ganteng nan pintar yang tegas dan nyebelinnya setengah mati. Terdengar begitu sederhana, tapi dirajut dengan sangat apik oleh Almira. Saya, jelas, si hopeless romantic ini tidak bisa lepas tersenyum setiap kali Tigran, sang bos, menunjukkan gelagat manis pada salah satu tokoh utama, Alranita, si pegawai, yang saya ketahui sejak awal ia sukai.

Dalam delapan bulan terakhir, saya kesulitan membaca novel dengan fokus. Satu-satunya pencapaian hebat yang berhasil saya lakukan dalam kurun waktu delapan bulan tersebut adalah menyelesaikan novel Haruki Murakami berjudul Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage yang disarankan oleh seorang teman. Saya berhasil menyelesaikan Colorless dalam 4 hari. Biasanya, saya bisa menghabiskan dua hingga tiga buku dalam sebulan. Jelas, sesuatu yang drastis telah terjadi.

Tapi, Almira, berhasil membawa saya menghabiskan setiap menit tanpa tugas dan kelas yang saya miliki di sepanjang 23 April 2018 dengan melanjutkan kisah Alranita dan pasukannya. Akhirnya, kurang dari 13 jam saya menyelesaikan kisah itu dengan senyum-senyum baper yang tersungging di sudut bibir.

Saya merasa kembali ke masa-masa ketika saya membaca hingga dini hari, rela kurang makan dan kurang tidur karena terlalu larut dalam keseharian tokoh yang ada. Saya merasakan mood nelangsa yang saya alami dalam dua minggu terakhir perlahan digusur oleh semangat yang tumbuh bermekaran seperti bunga-bunga dan dedaunan disepanjang sudut Leeds.

Ketika saya masih larut dalam semangat positif yang ditularkan dari novel Resign!, saat itu saya sadar hari ini adalah #WorldBookDay. Rasanya semua sudah diatur dengan tepat dan pas pada waktunya.

Perasaan ini membawa saya pada titik kesadaran lainnya. Bahwa ketika sedang berada di titik terlemah sekalipun, carilah apa yang dibutuhkan oleh jiwamu. Mungkin ia sedang haus dan butuh istirahat dari pacuan lari panjang yang melelahkan selama ini.

Berhenti sejenak tidak akan membuat mu tertinggal. Ia hanya akan menyuntikkan semangat baru, mengisi bahan bakar sebelum kembali berpacu dan memenangkan perjuangan yang sudah dimulai. Karena bukan tidak mungkin ketika kamu melupakan raungan jiwa mu, saat itu pula raga dan batin memilih berhenti dan tidak membawamu ke mana-mana.

Bagi saya, buku dan membaca adalah pelarian terbaik. Berpetualang di dalam kisah yang dibangun si penulis adalah cara paling murah untuk rekreasi dan sejenak meninggalkan semua kerisauan dan kegelisahan untuk sesaat.

Terbukti, Almira dan Resign!-nya berhasil membuat saya menulis sepanjang ini dengan perasaan menggebu dan bibir menyunggingkan senyum puas setelah sekian lama blog ini menganggur. Pancaran semangat positif ini sudah menjalar. Saya siap kembali berlari kencang, karena perjuangan ini masih panjang dan saya harus berhasil memenangkannya.

Di mana pun kamu berada, semoga akan selalu ada ‘kisah’ yang sedang menemani perjalanan mu. Rajut lah, hidup bersamanya, dan selesaikan hingga titik akhir. Happy World Book Day! – NDN

 

WhatsApp Image 2018-04-24 at 01.25.18

Leeds, 23 April 2018, World Book Day!

 

Bergegas atau Bersiaplah Tenggelam

Karena kamu tidak pernah tau apa yang terbentang di depan sana. Ada masa ketika kamu merasa semuanya berubah mendadak menjadi rentetan kejutan yang tidak pernah kamu antisipasi sebelumnya.

Membuat mu merasa terpojok dan berpikir ulang, apakah aku sudah berada di jalan yang benar? Apakah keputusan yang aku ambil hari ini adalah keputusan tepat?

Semua pertanyaan-pertanyaan penuh keraguan itu bermunculan. Sederhana, karena kita tidak pernah siap dengan penyesalan. Ketakutan akan masa depan menggerogoti dengan sangat. Bahkan beberapa dari kita tidak pernah siap dengan masa depan akibat terlalu sibuknya merangkai begitu banyak skenario yang kita pikir adalah gambaran masa depan nantinya.

Jika saja sesekali kita berhenti. Bernapas dengan tenang. Membiarkan waktu bergulir dengan apa adanya. Tanpa pretensi dan praduga, mungkin saja kita akan menikmati setiap kejutan yang hadir. Membiarkan diri mengikuti ombak kehidupan yang melingkupi. Tidak ada gunanya melawan, karena pada akhirnya kau juga akan tergulung.

Namun bukan dengan cara itu kita dibesarkan. Ada pilihan yang harus dibuat, semua pilihan memikul konsekuensinya sendiri. Ada kejadian yang memang harus dilalui karena ingatlah bahwa kejadian tersebut datang dari keputusan yang pernah kita buat suatu waktu di masa lalu.

Penyesalan mungkin tidak terhindarkan, tapi kenapa harus berlarut di dalamnya. Tidak kah, penyesalan itu bisa menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh di hari esok? Tidak kah, penyesalan itu bagian dari bekal yang siap membawa kita memutuskan dengan lebih baik di hari mendatang?

Sejauh apapun kita terlarut, waktu tidak akan pernah bisa diulang kembali. Tidak pernah ada pilihan untuk mengulang, kesempatan yang kita miliki hanya melangkah maju dengan penyesalan yang bisa saja malah menahan langkah dan membuat kesempatan lain hilang begitu saja, atau berlari kencang dengan bekal yang sudah lebih matang dan hadapi semua yang tersaji di depan mata.

Pada akhirnya, kita hanya akan bergerak mengikuti gulir waktu yang tidak memiliki jeda. Bergegas atau bersiaplah tergulung ombak besar dan tenggelam.

Kepergian yang Tak Butuh Pengganti

Suatu pagi menjemput dengan sendu. Bukan karena matahari terlambat muncul di ufuk Timur atau karena dingin yang kelewat menyengat. Hanya saja ada yang berbeda dengan pagi ini. Ada sekelumit cerita di sudut telefon genggam yang terlewat.

Mengenai sebuah kabar kehilangan. Perpisahan yang mengetuk pintu sebelum siapa pun yang menerima kabar sempat bersiap diri. Meninggalkan aku dan mungkin banyak orang lainnya dalam kekosongan. Termangu pada sebait pesan yang terselip dari sebuah aplikasi dari telefon genggam terkini.

Diri pun bergegas, mengecek keberadaan ia yang ditinggalkan. Apakah ia sudah mampu melaluinya dengan berpikir jernih. Mempersiapkan diri menghadapi ia yang sedang terpuruk jauh dalam rasa kehilangannya.

Ini bulan terakhir, terselip di penghujung tahun. Biasa disuguhi kisah bahagia dan resolusi yang dipatok jelang pergantian lembaran kalender. Siapa yang menebak kali ini banyak kisah pilu di setiap pekannya. Membawa aku pada suatu kesadaran akan perpisahan yang selalu menanti di ujung jalan.

Jangan kan berada di kaki ia yang tertinggal, membayangkannya pun ternyata aku belum mampu. Siapapun yang menatap kepergian, tidak akan pernah siap. Seperti apapun ia sudah menata hati dan harinya mempersiapkan salam perpisahan itu. Apalagi ia yang belum sempat meyakini dirinya bahwa mungkin kepergian adalah jalan keluar terbaik.

Terkadang hidup membawa pada pilihan yang tidak mengizinkan kita bertanya lebih lanjut. Dulu, ketika hidup menggiring pada pertemuan dan perkenalan, kita tidak bisa bertanya, selama apa kebersamaan ini akan terajut? Tapi, ketika perpisahan menjemput, kita seolah sudah menatap masa depan yang sama, hari esok yang hidup bersama lubang kosong di hati akibat perpisahan yang meninggalkan ruang tak berpenghuni.

Pernah kah hidup bertanya akan kesiapan kita menata hari baik sebelum dan sesudah pertemuan serta perpisahan tersebut. Yang kita tahu, waktu terus berpacu. Menyisakan kita pada titik sembuh yang harus kita bangun sendiri. Tidak ada kesempatan untuk mengulang apalagi mempercepat waktu yang bergulir.

Semua lakon dan babak kehidupan sudah diatur sedemikian rupa. Hanya yang pasti, tidak ada yang akan melewati batas kemampuan kita sebagai manusia.

Mungkin kehilangan ini tidak untuk menemukan penggantinya, ruang kosong itu sudah ditinggalkan dan tidak mencari penghuni baru. Tapi masa depan akan tetap menjemput. Saatnya kita bergegas, membawa asa yang mungkin sudah dititipkan oleh penghuni terdahulu.

Siapa pun ia yang sudah pergi, pasti lah singgah dalam hari dan menitipkan harapan akan kehidupan kita yang lebih baik. Bersedih jelas tak akan mampu terhindarkan, tapi bukan kah berkutatnya dengannya tidak akan membawa kita ke mana-mana.

Kembali lagi, hidup tidak mengizinkan kita bertanya banyak. Bergegas atau terlindas. Ia yang sedang berselimut duka kepergian, ku tahu pasti akan mampu mendulang harinya esok dengan segenggam asa di masa depan. Ia tak akan lekang dalam nestapa yang berkepanjangan.

Sebab aku, si teman hari, akan terus berjalan bersisian dengan ia. Tidak untuk mencoba mengajaknya berlari meninggalkan luka tapi menemani ia menyembuhkan lukanya dan berjalan kokoh di masa depan.

Kebayoran Lama

21 Desember 2016

Untuk Emir dan Erika