Category Archives: Telisik Sudut

Bergegas atau Bersiaplah Tenggelam

Karena kamu tidak pernah tau apa yang terbentang di depan sana. Ada masa ketika kamu merasa semuanya berubah mendadak menjadi rentetan kejutan yang tidak pernah kamu antisipasi sebelumnya.

Membuat mu merasa terpojok dan berpikir ulang, apakah aku sudah berada di jalan yang benar? Apakah keputusan yang aku ambil hari ini adalah keputusan tepat?

Semua pertanyaan-pertanyaan penuh keraguan itu bermunculan. Sederhana, karena kita tidak pernah siap dengan penyesalan. Ketakutan akan masa depan menggerogoti dengan sangat. Bahkan beberapa dari kita tidak pernah siap dengan masa depan akibat terlalu sibuknya merangkai begitu banyak skenario yang kita pikir adalah gambaran masa depan nantinya.

Jika saja sesekali kita berhenti. Bernapas dengan tenang. Membiarkan waktu bergulir dengan apa adanya. Tanpa pretensi dan praduga, mungkin saja kita akan menikmati setiap kejutan yang hadir. Membiarkan diri mengikuti ombak kehidupan yang melingkupi. Tidak ada gunanya melawan, karena pada akhirnya kau juga akan tergulung.

Namun bukan dengan cara itu kita dibesarkan. Ada pilihan yang harus dibuat, semua pilihan memikul konsekuensinya sendiri. Ada kejadian yang memang harus dilalui karena ingatlah bahwa kejadian tersebut datang dari keputusan yang pernah kita buat suatu waktu di masa lalu.

Penyesalan mungkin tidak terhindarkan, tapi kenapa harus berlarut di dalamnya. Tidak kah, penyesalan itu bisa menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh di hari esok? Tidak kah, penyesalan itu bagian dari bekal yang siap membawa kita memutuskan dengan lebih baik di hari mendatang?

Sejauh apapun kita terlarut, waktu tidak akan pernah bisa diulang kembali. Tidak pernah ada pilihan untuk mengulang, kesempatan yang kita miliki hanya melangkah maju dengan penyesalan yang bisa saja malah menahan langkah dan membuat kesempatan lain hilang begitu saja, atau berlari kencang dengan bekal yang sudah lebih matang dan hadapi semua yang tersaji di depan mata.

Pada akhirnya, kita hanya akan bergerak mengikuti gulir waktu yang tidak memiliki jeda. Bergegas atau bersiaplah tergulung ombak besar dan tenggelam.

Advertisements

Kepergian yang Tak Butuh Pengganti

Suatu pagi menjemput dengan sendu. Bukan karena matahari terlambat muncul di ufuk Timur atau karena dingin yang kelewat menyengat. Hanya saja ada yang berbeda dengan pagi ini. Ada sekelumit cerita di sudut telefon genggam yang terlewat.

Mengenai sebuah kabar kehilangan. Perpisahan yang mengetuk pintu sebelum siapa pun yang menerima kabar sempat bersiap diri. Meninggalkan aku dan mungkin banyak orang lainnya dalam kekosongan. Termangu pada sebait pesan yang terselip dari sebuah aplikasi dari telefon genggam terkini.

Diri pun bergegas, mengecek keberadaan ia yang ditinggalkan. Apakah ia sudah mampu melaluinya dengan berpikir jernih. Mempersiapkan diri menghadapi ia yang sedang terpuruk jauh dalam rasa kehilangannya.

Ini bulan terakhir, terselip di penghujung tahun. Biasa disuguhi kisah bahagia dan resolusi yang dipatok jelang pergantian lembaran kalender. Siapa yang menebak kali ini banyak kisah pilu di setiap pekannya. Membawa aku pada suatu kesadaran akan perpisahan yang selalu menanti di ujung jalan.

Jangan kan berada di kaki ia yang tertinggal, membayangkannya pun ternyata aku belum mampu. Siapapun yang menatap kepergian, tidak akan pernah siap. Seperti apapun ia sudah menata hati dan harinya mempersiapkan salam perpisahan itu. Apalagi ia yang belum sempat meyakini dirinya bahwa mungkin kepergian adalah jalan keluar terbaik.

Terkadang hidup membawa pada pilihan yang tidak mengizinkan kita bertanya lebih lanjut. Dulu, ketika hidup menggiring pada pertemuan dan perkenalan, kita tidak bisa bertanya, selama apa kebersamaan ini akan terajut? Tapi, ketika perpisahan menjemput, kita seolah sudah menatap masa depan yang sama, hari esok yang hidup bersama lubang kosong di hati akibat perpisahan yang meninggalkan ruang tak berpenghuni.

Pernah kah hidup bertanya akan kesiapan kita menata hari baik sebelum dan sesudah pertemuan serta perpisahan tersebut. Yang kita tahu, waktu terus berpacu. Menyisakan kita pada titik sembuh yang harus kita bangun sendiri. Tidak ada kesempatan untuk mengulang apalagi mempercepat waktu yang bergulir.

Semua lakon dan babak kehidupan sudah diatur sedemikian rupa. Hanya yang pasti, tidak ada yang akan melewati batas kemampuan kita sebagai manusia.

Mungkin kehilangan ini tidak untuk menemukan penggantinya, ruang kosong itu sudah ditinggalkan dan tidak mencari penghuni baru. Tapi masa depan akan tetap menjemput. Saatnya kita bergegas, membawa asa yang mungkin sudah dititipkan oleh penghuni terdahulu.

Siapa pun ia yang sudah pergi, pasti lah singgah dalam hari dan menitipkan harapan akan kehidupan kita yang lebih baik. Bersedih jelas tak akan mampu terhindarkan, tapi bukan kah berkutatnya dengannya tidak akan membawa kita ke mana-mana.

Kembali lagi, hidup tidak mengizinkan kita bertanya banyak. Bergegas atau terlindas. Ia yang sedang berselimut duka kepergian, ku tahu pasti akan mampu mendulang harinya esok dengan segenggam asa di masa depan. Ia tak akan lekang dalam nestapa yang berkepanjangan.

Sebab aku, si teman hari, akan terus berjalan bersisian dengan ia. Tidak untuk mencoba mengajaknya berlari meninggalkan luka tapi menemani ia menyembuhkan lukanya dan berjalan kokoh di masa depan.

Kebayoran Lama

21 Desember 2016

Untuk Emir dan Erika

Sibuk Bertanya-Tanya Pertanyaan Kosong

Kadang kamu mungkin hanya sedang bertanya-tanya. Pada diri sendiri. Apa yang sedang kamu lewati. Tapi mungkin juga kamu hanya sedang mencari jawaban. Tetap, pada diri sendiri. Tentang apa yang sudah berhasil kamu lewati.

Intinya, kamu merasa sedang berhenti pada satu titik tertentu. Bukan, bukan berarti waktu lantas ikut berhenti. Atau aktivitas lantas menjadi kosong tanpa agenda. Semua itu, waktu dan aktivitas, mereka tetap bergulir seperti biasa.

Yang menjadikannya berbeda hanya lah kehadiran mu. Dirimu sendiri. Biasanya kau utuh berdiri dan mencurahkan segenap tenaga dan pikiran mu untuk suatu waktu atau aktivitas tersebut. Tapi sekarang, kau sedang bergelut dengan pertanyaan dan pencarian jawaban yang terselip jauh di dalam permainan pikiran dan perasaan mu sendiri. Meninggalkan raga yang bergerak kosong.

Apa sebenarnya pertanyaan yang menggelayut atau jawaban yang kau cari?

Tidak seorang pun mampu menebak apalagi menjawabnya. Karena semua kembali pada dirimu sendiri. Yang tengah kehilangan keseimbangan. Merasa terombang-ambing antara waktu dan aktivitas tapi terkuras pikiran dan perasaan tanpa mendapat kepuasan yang dibutuhkan.

Ini soal pekerjaan? Nampaknya bukan. Jari dan pikiran ini tetap lincah menulis dan meramu kata untuk mewujudkan serangkum berita terhangat.

Ini soal cinta? Nampaknya bukan. Rasa yang tumbuh masih sama, sama hangat dan menggebunya seperti pertama bersama.

Ini soal kehidupan? Mungkin.

Tapi bukannya pekerjaan dan cinta adalah bagian kehidupan. Lalu aku pun berhenti dan bertanya. Apa sebenarnya kebingungan ini.

Oh, mungkin hanya kegamangan menyambut tahun yang siap berganti dan membalik lembarannya. Merefleksi pencapaian yang terasa membanggakan, tapi nyatanya terasa mencengkram. Karena kewajiban yang membuntut di belakangnya banyak belum terselesaikan.

Perjalanan tersebut masih terlampau panjang dan terjal. Tapi rasanya tidak pantas jika tidak diperjuangkan. Karena aku sudah berlabuh di titik ini.

Mungkin, ini hanya sesaat. Karena pada akhirnya waktu yang akan mendominasi. Aktivitas terus menuntut.

Pilihannya hanya dua, berpacu dan berhasil atau menyerah dan menyesal. Jelas pasangan yang kedua bukan lah bagian dari apa yang ingin aku torehkan di masa depan.

KONTAN, Kebayoran Lama

13 Desember 2016