Author Archives: Namira Daufina

Manisnya Coklat dan Kota York

York. Sebuah kota yang terletak di bagian Timur Laut Inggris ini merupakan salah satu destinasi favorit pelajar Leeds. Selain jaraknya yang terbilang dekat, tiket kereta ke York terhitung ramah di kantong mahasiswa. Sedikit gambaran, dari Leeds Train Station ke York Train Station berdasarkan keterangan Google berjarak 383,02 km atau sekitar 23,8 miles.

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.00 (1)

Pemandangan saat berjalan dari York Station ke York Minster

Biasanya mahasiswa dengan keanggotan railcard hanya perlu membayar kisaran £3 – £5 untuk sekali perjalanan (semua bergantung waktu keberangkatan). Bahkan ketika perjalanan ke kota lain harus dibeli jauh hari untuk mendapatkan harga yang lebih murah, ke York hal tersebut nyaris tidak perlu dilakukan. Walau bukan tidak mungkin terjadi hal-hal anomali seperti saat harga tiket berada di atas kisaran £7 untuk sekali jalannya atau ketika tiket kereta nyaris penuh di setiap keberangkatan.

Ditambah lagi, perjalanan ke York hanya memakan waktu kurang lebih 30 menit. Sehingga tidak perlu bangun terlalu pagi untuk bisa menikmati hari di York.

Meski tidak bisa dipungkiri, ada nilai lain yang harus dibayar dengan mudah dan murahnya perjalanan ke York. Tempat-tempat menarik untuk dikunjungi seperti York Minster, York Castle, Yorkshire Museum, York’s Chocolate Factory dan Jorvik Viking Centre memiliki tarif tiket masuk yang biasanya mayoritas museum di UK free of charge. Sehingga biasanya dijadikan alternatif adalah mengunjungi tempat-tempat tersebut dan hanya berfoto di bagian luarnya.

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.03

York Castle

Untuk Yorkshire Museum memiliki area taman yang cukup luas di bagian depannya, jika sudah sampai di sana tidak ada ruginya berhenti sesaat, membeli kopi atau coklat hangat dan bersantai di sudut taman. Pemandangannya menenangkan khas taman dan bangunan-bangunan Britania Raya.

Satu yang terngiang pasti saat berkunjung ke York, wangi coklat yang menguar di udara dengan mudahnya tercecap oleh indera penciuman. Hal ini terhitung wajar karena disepanjang city centre York, mata kita akan dimanjakan dengan deretan toko-toko yang menjual coklat dan makanan manis lainnya.

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.01

Jika menilik dari keterangan yang dimuat di laman York’s Chocolate Factory, disampaikan bahwa jika mayoritas kota-kota bagian Utara Inggris dikenal sebagai penghasil wol, kapas dan baja maka York menjadi satu-satunya kota yang menjadikan coklat sebagai tulang punggung perekonomiannya (York’s Chocolate Story).

Salah satu merk coklat no. 1 di York adalah Rowntree’s yang berjaya di awal tahun 1920-an. Setahun setelahnya dikenal sebagai masa kejayaan coklat di York dengan hadirnya beberapa merk coklat terkenal di bawah Rowntree’s seperti Black Magic Blackbox (1934), KitKat (1935), Aero (1935), Dairy Box (1937), dan Smarties (1937) yang waktu itu membawa coklat menjadi icon penting kota York (YorkMix, 2014). Beberapa nama coklat tersebut tentu tidak lagi asing di telinga kita hingga saat ini.

Pastikan, ketika berkunjung ke York untuk membeli coklat atau setidaknya membeli makanan manis untuk menuntaskan selera yang sudah terusik sejak melangkah keluar dari stasiun kereta York. Salah satu daerah yang banyak memberikan pilihan coklat di York adalah Shambles.

Selain membeli coklat, bagi pecinta Harry Potter mungkin akan menemukan surga kecil di beberapa toko di ujung jalan Shambles yang menjual aksesoris beratribut sang penyihir kebanggaan UK tersebut. Salah satu toko yang menjadi incaran turis yang berkunjung ke York adalah The Shop That Must Not Be Named. Konon berdasarkan penuturan seorang teman yang menyukai Harry Potter nama ini mengingatkan ia pada Lord Voldemort yang dikenal sebagai He Who Must Not Be Named. (Sebagai disclaimer, saya bukan lah penggemar Harry Potter bahkan belum pernah sekali pun menonton film atau membaca buku Harry Potter hingga tuntas).

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.01.59 (1)

The Shop That Must Not Be Named, Shambles York

Biasanya ketika berkunjung ke toko tersebut, saya selalu menyempatkan melirik toko teh disebrangnya. “Hebden Tea Company” namanya. Setiap harinya mereka menawarkan dua hingga tiga rasa teh yang bisa dicicip secara gratis. Jika ingin membeli segelas pun harganya cukup terjangkau yakni sekitar £1,20 – £1,50. Bagi pecinta teh juga bisa membeli dalam ukuran lebih banyak dengan hitungan per gram.

Informasi lainnya yang banyak disampaikan oleh teman-teman penggemar Harry Potter, Shambles adalah kawasan yang menjadi inspirasi dari terciptanya Diagon Alley yang tersohor (BBC UK, 2017). Jadi, jangan heran kawasan sempit sarat toko ini akan semakin penuh sesak dengan jejeran orang-orang yang berlomba foto di lorongnya yang mirip Diagon Alley ini.

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.01.59

Shambles, York

Bagi mereka yang mungkin seperti saya (walau kemungkinannya begitu kecil), bukan penggemar Harry Potter, tempat ini sangat cantik dan menarik untuk dikunjungi. Ditambah lagi, kita bisa melanjutkan perjalanan ke Shambles Market York. Kawasan pasar ini menjajakan mulai dari buah, sayur, kue, kopi, sandwich hingga pernak pernik unik yang sayang untuk dilewatkan. Pasar ini buka setiap hari dari pukul 7 am – 5 pm (Shamblesmarket.com).

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.01.58

Shambles Market, York

Alternatif lain, kita bisa berkunjung ke salah satu museum yang menjadi andalan York namun kali ini tanpa biaya masuk alias gratis yakni National Railway Museum. Awalnya, saya berpikir tidak akan banyak waktu yang bisa dihabiskan di sana, namun nyatanya alokasi waktu sejam terhitung kurang.

Banyak hal menarik untuk dilihat selain juga area museum yang cukup luas membuat kita membutuhkan waktu untuk berpindah dari satu area ke area lainnya. Bagian yang paling menarik minat saya selain area Great Hall adalah Station Hall. Dengan tampilan khas stasiun-stasiun kereta api di UK, koleksi gerbong yang pernah digunakan keluarga dan staff kerajaan hingga tersedianya area kafetaria di bagian tengahnya. Suasana yang kental dengan nuansa Britania Raya membuat ruangan ini langsung menjadi favorit saya dari keseluruhan area museum.

 

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.04

Station Hall, National Railway Museum, York

 

Karena pusat kotanya yang terhitung kecil maka akan banyak waktu untuk bersantai dan menikmati keindahan kota dengan duduk santai disalah satu coffee shop. Saran saya, jika berkunjung di musim semi atau panas, sebaiknya manfaatkan cuaca yang cukup hangat (meski tentu tidak ada yang menjamin suhu udara di UK), untuk menyesap segelas kopi atau teh atau hanya duduk di sepanjang kanal yang membentang di tengah kota York.

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.02 (1)

Saya pribadi sangat menikmati momen tersebut. Ada titik di mana riuh rendah kota berpadu dengan ketenangan pemandangan yang indah membawa kesenangan yang tidak terkatakan. Relaksasi sederhana dan tidak menuntut banyak energi. Bahkan bisa dilakukan seorang diri.

 

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.00

York Minster

 

Jika saya memang hanya akan berkunjung ke York biasanya sampai di York pukul 11.00 am dan kembali ke Leeds pukul 17.00 pm sudah lebih dari cukup.

Namun, ada satu tempat lagi yang menjadi incaran para mahasiswa ketika berkunjung ke York yakni York Designer Outlet. Tempat ini menawarkan pilihan brand ternama dengan harga miring sebut saja Fossil, Marks & Spencer, GAP, Next dan Ted Baker. Untuk mencapai York DO maka sebaiknya lakukan saat sampai di York.

Hal tersebut bisa ditempuh dengan menggunakan bus dari halte disebrang stasiun. Bus bernomor 7 dengan tujuan York Designer Outlet adalah pilihan utama. Apabila mengunjungi York saat akhir pekan dan bersama teman-teman, maka sebaiknya membeli tiket bus group seharga £5 untuk 5 orang dan sudah bisa digunakan sebagai tiket pergi-pulang. Namun jika berkunjung seorang diri atau di hari kerja maka tiket pp sekitar £3,10. Harga tiket ini khusus pp ke DO, sebab jika harga tiket harian pp yang berlaku untuk sekitar kota York sekitar £4,20 (getdown.org.uk).

Namun jika hanya ingin menikmati cantiknya kota York, biasanya saya berjalan kaki sepanjang hari. Hal ini karena semua tempat menarik berada dalam jarak yang berdekatan dan tentunya bisa menghemat biaya transportasi.

Saran saya, jika ingin berkunjung ke DO maka sebaiknya sampai di York lebih pagi mungkin sekitar pukul 9.00 – 10.00 am lalu habiskan waktu hingga pukul 3.00 – 4.00 pm di DO dan kembali ke York untuk jalan-jalan di dalam kota sebelum kembali dengan kereta pukul 8.00 – 9.00 pm. Tapi apabila memiliki banyak waktu untuk kembali ke York lagi, ada baiknya memisahkan hari berkunjung ke DO dan mengitari kota York demi menghindari ketergesaan.

Pesan penting: Bagi siapapun yang menikmati coklat sebagaimana saya menikmatinya, maka berkunjunglah ke York dan beli coklatnya!

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.02

References:

BBC UK. 2017. York’s Real Life Diagon Alley Popular with Potter Fans. [Online]. [Accessed 2nd May 2018]. Available from: http://www.bbc.co.uk/news/av/uk-england-york-north-yorkshire-42240392/york-s-real-life-diagon-alley-popular-with-potter-fans.

Get Down. Bus Services in York. [Online]. [Accessed 2nd May 2018]. Available from: http://getdown.org.uk/bus/bus/7.htm.

Shambles Market. Shambles Market About. [Online]. [Accessed 2nd May 2018]. Available from: http://www.shamblesmarket.com.

YorkMix. 2014. 14 Tooth-Achingly Sweet Facts about York and Chocolate. [Online]. [Accessed 2nd May 2018]. Available from: https://www.yorkmix.com/food-drink/fourteen-york-chocolate-facts/.

York’s Chocolate Story. York – The Chocolate City. [Online]. [Accessed 2nd May 2018]. Available from: https://www.yorkschocolatestory.com/the-story/york-the-chocolate-city/.

Advertisements

Aktivasi Identitas Nasional

Demi menjaga konsistensi untuk kembali menulis rutin di blog sendiri maka mari kali ini sedikit membahas kegiatan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Leeds (PPI Leeds) untuk melestarikan budaya Indonesia. Berada jauh dari tanah air sebenarnya justru mengaktivasi kebanggaan warga Indonesia akan budaya tradisional yang ia miliki.

Hal ini pernah dibahas di salah satu kelas yang saya ikuti di semester dua. Bertajuk “Identity, Culture and Technology“, pada salah satu minggunya dibahas mengenai National Identity.

“Attitudes and beliefs that constitute nationality are often hidden away in the deep recesses of the mind brought to full consciousness only by some dramatic event,” (Miller, 1995, p. 18).

Ketika itu di kelas dibahas bahwa salah satu dramatic event yang berpotensi membangkitkan semangat nasionalisme seseorang bisa datang dari perasaan bangga dan keinginan untuk menunjukkan identitas diri ketika berada di tengah lingkungan yang multi-kultur. Tinggal di negeri orang jelas menjadi sentimen yang memicu bangkitnya rasa nasionalisme, selain ingin menunjukkan eksistensi juga terdorong  untuk memamerkan kebudayaan Indonesia yang beragam kepada masyarakat berjangkauan internasional.

 

WhatsApp Image 2018-04-26 at 21.48.21

Indonesian Culture and Arts Festival 2018, Pyramid Theatre, LUU

 

Hal itu mungkin bisa dijadikan landasan teoretis mengapa lantas PPI Leeds tergerak untuk mengadakan Indonesian Culture and Arts Festival (ICAF) 2018. Dalam rangkaian acara yang berlangsung selama dua hari tersebut, PPI Leeds melalui divisi seni budaya mengadakan pameran seni dan pagelaran seni drama serta seni tari tradisi.

Kegiatan ini berlangsung pada 26 dan 27 April 2018 yang mana pada saat penulisan cerita ini, maka ICAF hari pertama baru saja berakhir. Pada pameran yang diselenggarakan di Pyramid Theatre, Leeds University Union, ICAF menampilkan kain batik Nusantara dan memajang sekilas pengetahuan mengenai Indonesia yang dibagi ke dalam kategori Indonesia bagian Barat, Indonesia bagian Tengah dan Indonesia bagian Timur.

WhatsApp Image 2018-04-26 at 21.48.20

Booth Indonesian Bagian Barat, Tengah dan Timur, ICAF 2018, Leeds

Selain kain tradisional, ICAF juga menggelar workshop melukis di atas tote bag dengan latar gambar utama yakni Burung Merak dan Barong Bali. Tidak hanya itu, di bagian permainan tradisional, ICAF menyediakan beberapa permainan dan musik tradisional seperti Gasing, Kalimba dan Angklung yang memberikan kesempatan bagi para pengunjung untuk berpartisipasi dalam permainan atau ikut memainkan alat musik yang tersedia.

Ditambah lagi, acara ini juga memberikan kesempatan bagi siapapun untuk memamerkan karyanya baik berupa film pendek, foto hingga artworks bertema Indonesia. Tujuannya memberikan panggung bagi siapapun yang tertarik untuk memamerkan hasil karyanya untuk diapresiasi bersama.

Pada kesempatan yang sama, dengan batik yang kami kenakan setidaknya secara sederhana kami berupaya untuk menjadi agen budaya. Membawa serta identitas sebagai warga Indonesia sepanjang hari, dilihat baik secara disadari maupun tidak menggunakan sesuatu yang erat kaitannya dengan budaya yang melatarbelakangi identitas sebagai seorang Indonesia.

Sementara untuk teater sendiri, ICAF mengangkat kisah Timun Mas yang legendaris dengan dipadupadankan oleh beberapa tarian daerah mulai dari Tari Kecak (Bali), Tari Naiyak Padi dan Tari Piring (Sumatera Barat), Tari Pakarena (Sulawesi), Tari Nandak Ganjen (Betawi), Tari Bambu (Kalimantan) dan Tari Yosim Pancar (Papua). Yang rencananya akan dilaksanakan pada Jumat, 27 April 2018.

 

WhatsApp Image 2018-04-25 at 11.52.48

Poster ICAF 26 – 27 April 2018, Leeds

 

Tulisan ini dibuat untuk menjadi penanda bahwa pernah suatu waktu, saya terlibat pada proses mengapresiasi dan menjaga kelestarian budaya tradisi Indonesia di Leeds. Proses panjang yang menguras waktu dan tenaga, menyempatkan diri untuk mengambil waktu luang di tengah padatnya antrian deadline yang mengular panjang.

Meski demikian, tidak ada perasaan yang lebih membanggakan ketika ada teman-teman berkebangsaan lain yang datang dan tertarik dengan apa yang disajikan. Meluangkan waktu dan rela membayar untuk menonton pertunjukkan yang diselenggarakan.

Karena sekecil apapun usaha yang dilakukan, setidaknya satu atau dua orang lain sudah mengenal dan mengingat sesuatu mengenai kebudayaan Indonesia. Apa yang dibagikan hari ini mungkin tidak terasa berarti, tapi ketika itu dilakukan terus menerus dan dijadikan rutinitas meski hanya tahunan, akan ada selalu satu orang lain setiap tahunnya yang mengenal lebih akan Indonesia.

Menyampaikan pesan bahwa kita, generasi muda bangsa Indonesia tersebar di seluruh penjuru dunia. Bersiap mengenakan atribut nasionalisme dan menunjukkan identitas sebagai anak bangsa. Setidaknya, kita ada dan turut serta mendendangkan nama Indonesia di kalangan masyarakat yang lebih luas lagi. – NDN.

WhatsApp Image 2018-04-26 at 21.48.19

Suasana ICAF, 26 April 2018, Leeds

 

 

 

 

Happy World Book Day!

Tidak mudah menjalani S2 di negeri yang begitu jauh dari rumah sendiri meski kamu sudah berpengalaman lebih dari 8 tahun menempuh pendidikan dengan tidak tinggal di rumah mu sendiri.

Satu kalimat panjang yang jika dibaca dalam sekali napas akan membuat mu langsung sesak itu adalah ekspresi yang tidak sepenuhnya pas tapi pantas untuk menggambarkan bagaimana sulitnya menjalani hari-hari di sini (terkadang). Karena tentunya kamu tidak bisa lantas menyingkirkan begitu saja hari-hari indah lainnya dalam perjalanan menyabet gelar master yang sedang dilalui ini.

Tulisan ini tidak akan berisi keluhan, tidak juga berhubungan langsung dengan indahnya kenangan yang sudah tercipta dan akan terbentuk di Leeds. Tulisan ini hadir pada tanggal 23 April 2018, hari yang disebut sebagai #WorldBookDay. Meski tulisan ini tidak lah sebuah guratan yang menghasilkan buku, namun setidaknya, sesuatu harus ditulis dan terpampang nyata pada hari ini (meski ketika diunggah, hari telah berganti menjadi 24 April 2018, paling tidak, usaha ini pantas diapresiasi kan ya?).

Sedikit mengulas hari lalu di tengah libur paskah yang berlangsung dari tanggal 17 Maret – 15 April 2018 lalu bagi mahasiswa University of Leeds, dua minggu diantaranya saya habiskan di Jakarta. Keputusan impulsif pun terjadi, membeli beberapa buku di Gramedia dan memutuskan untuk menahan diri tidak membacanya hingga sampai di Leeds.

Padahal niatan awal adalah mengurangi sebanyak mungkin barang dari Leeds sehingga nanti pada masanya hengkang dari Britania Raya, beban bawaan tidak lah terlalu memberatkan. Namun, niatan tersebut malah berbalik drastis. Saya malah menambah beban bawaan ketika kembali ke Leeds dan membawa buku-buku bacaan.

Saya tau, keputusan membeli buku itu tidak pernah masuk kategori sebagai keputusan yang salah dan menimbulkan penyesalan di masa mendatang. Setelah kembali ke Leeds dan dipenuhi dengan deadline yang menghimpit, buku-buku itu pun sebagian besar masih menganggur di atas meja belajar. Belum tersentuh, hanya dipandang hari demi hari.

Hingga entah apa yang menggerakkan hati untuk membacanya. Pilihan jatuh pada novel Resign, karya Almira Bastari. Pagi itu baru menunjukkan pukul 10.50 BST. Jadwal hari ini pun penuh dengan segambreng kegiatan yang memang baru dimulai pada pukul 15.00 BST siang. Saya pikir, daripada bengong atau tidur lagi, ada baiknya mulai membaca novel. Toh, mau memaksa diri mengerjakan tugas, saya sudah kehilangan semangat.

Sejak kembali dari Jakarta, saya mengalami perasaan nelangsa yang aneh. Perasaan sepi menyergap berlebihan, padahal sebelum pulang ke Jakarta saya baik-baik saja. Padahal, Leeds sudah spring dan matahari sudah bersinar terang benderang sejak pukul setengah 7 pagi dan baru tenggelam lepas pukul 20.00 BST setiap harinya.

Orang-orang merasakan gloomy pada saat winter karena memang sepanjang hari langit hanya berwarna abu-abu, suram. Namun, saya justru merasa kosong di hari-hari bermatahari terang. Saya yakin penyebabnya karena saya tidak siap dengan semua tugas yang menanti, tidak siap dengan kenyataan bahwa sesaat lagi saya harus meninggalkan kota ini, terlebih tidak siap dengan fakta bahwa tidak ada lagi lima orang bawel lainnya yang akan menemani hari-hari saya seperti saat di Jakarta, saat saya di rumah.

Terdengar sepele. Saya pun tidak menyangka saya sampai di titik cengeng itu. Sebab, tinggal jauh dari rumah bukan lah hal yang baru, meski ini pengalaman pertama saya tinggal di luar negeri untuk menetap.

Kembali pada keputusan saya mulai membaca pagi tadi, memasuki bab ketiga, saya merasa begitu dekat dengan karakter-karakter yang hadir. Ceritanya ringan, menggunakan bahasa sehari-hari yang renyah, dialog yang dibangun santai, tapi ada sesuatu dalam rangkaian kalimat yang dituliskan Almira yang membuat saya jatuh cinta.

Sedikit bocoran, novel ini berkisah tentang empat pegawai di suatu kantor di Jakarta. Bergelut dengan rangkaian tugas yang padat merayap ditambah tekanan dari bos ganteng nan pintar yang tegas dan nyebelinnya setengah mati. Terdengar begitu sederhana, tapi dirajut dengan sangat apik oleh Almira. Saya, jelas, si hopeless romantic ini tidak bisa lepas tersenyum setiap kali Tigran, sang bos, menunjukkan gelagat manis pada salah satu tokoh utama, Alranita, si pegawai, yang saya ketahui sejak awal ia sukai.

Dalam delapan bulan terakhir, saya kesulitan membaca novel dengan fokus. Satu-satunya pencapaian hebat yang berhasil saya lakukan dalam kurun waktu delapan bulan tersebut adalah menyelesaikan novel Haruki Murakami berjudul Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage yang disarankan oleh seorang teman. Saya berhasil menyelesaikan Colorless dalam 4 hari. Biasanya, saya bisa menghabiskan dua hingga tiga buku dalam sebulan. Jelas, sesuatu yang drastis telah terjadi.

Tapi, Almira, berhasil membawa saya menghabiskan setiap menit tanpa tugas dan kelas yang saya miliki di sepanjang 23 April 2018 dengan melanjutkan kisah Alranita dan pasukannya. Akhirnya, kurang dari 13 jam saya menyelesaikan kisah itu dengan senyum-senyum baper yang tersungging di sudut bibir.

Saya merasa kembali ke masa-masa ketika saya membaca hingga dini hari, rela kurang makan dan kurang tidur karena terlalu larut dalam keseharian tokoh yang ada. Saya merasakan mood nelangsa yang saya alami dalam dua minggu terakhir perlahan digusur oleh semangat yang tumbuh bermekaran seperti bunga-bunga dan dedaunan disepanjang sudut Leeds.

Ketika saya masih larut dalam semangat positif yang ditularkan dari novel Resign!, saat itu saya sadar hari ini adalah #WorldBookDay. Rasanya semua sudah diatur dengan tepat dan pas pada waktunya.

Perasaan ini membawa saya pada titik kesadaran lainnya. Bahwa ketika sedang berada di titik terlemah sekalipun, carilah apa yang dibutuhkan oleh jiwamu. Mungkin ia sedang haus dan butuh istirahat dari pacuan lari panjang yang melelahkan selama ini.

Berhenti sejenak tidak akan membuat mu tertinggal. Ia hanya akan menyuntikkan semangat baru, mengisi bahan bakar sebelum kembali berpacu dan memenangkan perjuangan yang sudah dimulai. Karena bukan tidak mungkin ketika kamu melupakan raungan jiwa mu, saat itu pula raga dan batin memilih berhenti dan tidak membawamu ke mana-mana.

Bagi saya, buku dan membaca adalah pelarian terbaik. Berpetualang di dalam kisah yang dibangun si penulis adalah cara paling murah untuk rekreasi dan sejenak meninggalkan semua kerisauan dan kegelisahan untuk sesaat.

Terbukti, Almira dan Resign!-nya berhasil membuat saya menulis sepanjang ini dengan perasaan menggebu dan bibir menyunggingkan senyum puas setelah sekian lama blog ini menganggur. Pancaran semangat positif ini sudah menjalar. Saya siap kembali berlari kencang, karena perjuangan ini masih panjang dan saya harus berhasil memenangkannya.

Di mana pun kamu berada, semoga akan selalu ada ‘kisah’ yang sedang menemani perjalanan mu. Rajut lah, hidup bersamanya, dan selesaikan hingga titik akhir. Happy World Book Day! – NDN

 

WhatsApp Image 2018-04-24 at 01.25.18

Leeds, 23 April 2018, World Book Day!

 

Bergegas atau Bersiaplah Tenggelam

Karena kamu tidak pernah tau apa yang terbentang di depan sana. Ada masa ketika kamu merasa semuanya berubah mendadak menjadi rentetan kejutan yang tidak pernah kamu antisipasi sebelumnya.

Membuat mu merasa terpojok dan berpikir ulang, apakah aku sudah berada di jalan yang benar? Apakah keputusan yang aku ambil hari ini adalah keputusan tepat?

Semua pertanyaan-pertanyaan penuh keraguan itu bermunculan. Sederhana, karena kita tidak pernah siap dengan penyesalan. Ketakutan akan masa depan menggerogoti dengan sangat. Bahkan beberapa dari kita tidak pernah siap dengan masa depan akibat terlalu sibuknya merangkai begitu banyak skenario yang kita pikir adalah gambaran masa depan nantinya.

Jika saja sesekali kita berhenti. Bernapas dengan tenang. Membiarkan waktu bergulir dengan apa adanya. Tanpa pretensi dan praduga, mungkin saja kita akan menikmati setiap kejutan yang hadir. Membiarkan diri mengikuti ombak kehidupan yang melingkupi. Tidak ada gunanya melawan, karena pada akhirnya kau juga akan tergulung.

Namun bukan dengan cara itu kita dibesarkan. Ada pilihan yang harus dibuat, semua pilihan memikul konsekuensinya sendiri. Ada kejadian yang memang harus dilalui karena ingatlah bahwa kejadian tersebut datang dari keputusan yang pernah kita buat suatu waktu di masa lalu.

Penyesalan mungkin tidak terhindarkan, tapi kenapa harus berlarut di dalamnya. Tidak kah, penyesalan itu bisa menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh di hari esok? Tidak kah, penyesalan itu bagian dari bekal yang siap membawa kita memutuskan dengan lebih baik di hari mendatang?

Sejauh apapun kita terlarut, waktu tidak akan pernah bisa diulang kembali. Tidak pernah ada pilihan untuk mengulang, kesempatan yang kita miliki hanya melangkah maju dengan penyesalan yang bisa saja malah menahan langkah dan membuat kesempatan lain hilang begitu saja, atau berlari kencang dengan bekal yang sudah lebih matang dan hadapi semua yang tersaji di depan mata.

Pada akhirnya, kita hanya akan bergerak mengikuti gulir waktu yang tidak memiliki jeda. Bergegas atau bersiaplah tergulung ombak besar dan tenggelam.

Menyusuri pusat kota Leeds

Hi, it’s been a while…

Setelah memasuki empat minggu masa perkuliahan ternyata waktu yang tersisa untuk mengumpulkan niat dan menulis tidak sebanyak sebelumnya.

Kalau kemarin udah ngomongin soalnya Leeds University Union, sekarang mari melangkah ke luar dari gedung kampus. Melongok ke jalan raya dan menikmati Leeds dari sudut pandang yang berbeda.

WhatsApp Image 2017-10-18 at 15.13.02

Hyde Park, Leeds

Selain kuliah biasanya keseharian diisi oleh jalan-jalan keliling city centre. Di sini biasa disebut city centre, pusat kota yang menjadi titik tengah aktivitas utama hiburan di Leeds berlangsung.

Mulai dari belanja sayur dan buah, fashion item, stasiun kereta dan halte bus utama hingga club dan bar pun tersedia. Bagi yang biasa tinggal di Jakarta mungkin Leeds nyaris nggak ada istimewanya sebagai tempat hiburan. Ya gimana nggak, di sini kalau Minggu – Kamis mayoritas shopping centre di Leeds udah tutup. Kerasa ramainya cuma Jumat-Sabtu yang mana mall  buka sampai jam 8 pm dan sepanjang jalan ramai anak muda yang sedang bar hopping.

Lantas, Leeds jadi nggak menarik? Nggak juga sih. Setelah tinggal di Jakarta yang sumpek, kadang jalan-jalan sore sendirian di Leeds menyusuri pusat kotanya cukup menenangkan. Suasana baru, kepadatan yang berbeda, minimnya bau polusi dan sejuknya udara di bulan Oktober adalah perpaduan yang pas.

Apa yang biasanya dilakukan mahasiswa di Leeds selain di kampus? Jawabannya tergantung sih, cuma yang paling sering gue lakukan adalah groceries shopping. Nggak ada alasan tertentu sih, tapi dengan menyusuri lorong-lorong supermarket secara nggak langsung itu menyenangkan dan cara melepas penat yang manjur.

 

WhatsApp Image 2017-10-18 at 15.13.04 (1)

Leeds Kirkgate Market

Banyak pilihan groceries shopping di Leeds yang bisa menyebabkan “kecanduan”. Sebut saja morrisons, ASDA, ALDI, atau Sainsbury’s dan TESCO. Kalau memang nggak bisa jauh dari cita rasa tanah air ya wajib mampir ke Sing Kee atau Hang Sing Hong, chinese store yang menjual mulai dari kangkung sampai ikan teri. Atau kalau memang pengen sekalian main ke pasar ya wajib mampir ke Kirkgate Market.

WhatsApp Image 2017-10-18 at 15.13.05

Leeds Kirkgate Market

(Nanti untuk beberapa tempat akan gue buat tulisan sendiri kali ya, mengingat banyaknya yang harus diceritakan dari tempat-tempat itu hehehe. Biar ada bahan tulisan yang mendorong nulis terus juga, jadi biar berasa ditagih-tagih sama diri sendiri).

Selain itu kadang di Jumat malam juga keluar nyobain bar atau club yang ada di tengah kota. Mengintip kegiatan anak muda di sudut barat wilayah Yorkshire ini. Mencoba beragam makanan dari mancanegara seperti hummus-nya Lebanon, felafel-nya Timur Tengah, thai foodpho-nya Vietnam, baklava-nya Turki, sapo tahu-nya China, atau yang pasti Fish & Chips yang merupakan makanan asliny Britania.

Sisanya ngapain? Jalan sih keliling kota-kota di West Yorkshire sekitar Leeds. Untuk itu gue udah pernah mampir ke Otley dan Castleford. Biasanya bisa ditempuh dengan bus sekitar 20-45 menit kok, jadi kalau lagi nggak ada kegiatan di dalam kota, bisa melirik kota-kota lainnya yang jaraknya deket dan transportasinya masih terjangkau di kantong.

WhatsApp Image 2017-10-18 at 15.13.08 (1)

Leeds City Square

Di sini nggak susah untuk jalan-jalan dan nggak perlu bingung mau menggunakan transportasi apa karena google maps udah lebih dari cukup untuk membimbing kita ke jalan yang benar.

Kalau main ke Leeds atau berencana tinggal di sini perlu diingat Leeds itu semacam kota party karena setiap malam pasti ada acara di club atau bar dengan tiket masuk yang sangat terjangkau atau bahkan nggak jarang free. Kalau demen party dan bar hopping, Leeds udah pasti harus jadi salah satu destinasi.

Bagi yang suka ketenangan, Leeds juga juaranya. Jarang terjadi keramaian yang besar, kalaupun ada hanya berpusat di city centre. Sementara wilayah-wilayah lainnya yang memang khusus untuk hunian hanya diisi oleh beberapa cafe dan bar kecil. Cenderungnya sangat tenang.

WhatsApp Image 2017-10-18 at 15.13.08

St. John’s Centre

Di Leeds semua terbagi dengan jelas, mana wilayah untuk mencari keramaian, bagian mana yang pas buat bersantai cuma dengan duduk anteng di taman, jalan kaki di tengah sejuknya angin atau makan gelato sambil mengamati jalanan sekitar.

Sepanjang September-November, Leeds itu biasanya memasuki musim gugur atau autumn. Gimana autumn? Kalau ditanya ke gue, jawabannya luar biasa buat jatuh cinta. Pernah nggak sih berharap Jakarta ademan, mendung gloomy, berangin sejuk tapi nggak ujan dan nggak bermatahari yang terik sampai buat keringetan mengguyur? Nah kalau pernah menyelipkan harapan seperti gue, maka autumn adalah jawaban dari semua harapan dan mimpi itu.

WhatsApp Image 2017-10-18 at 15.13.06

Leeds Queen’s Arcade

Terkadang hujan terjadi memang tapi ya hujan biasa aja. Rintik yang kadang bisa buat basah juga tapi nggak pernah dengan intensitas yang tinggi. Suhu udara selama ini sih hanya berkisar di 9 – 21 derajat. Bahkan setelah nyaris dua bulan di sini, gue bisa sampai di tahap 17 derajat ke atas merasakan gerah dan berani pake kaos doang jalan-jalan.

Tapi, kalau ngomongin soal angin, Leeds juaranya sih. Berkali-kali gue sulit jalan atau malah terdorong karena tekanan angin yang terlampau keras. Kalau udah gitu mending anteng aja di dalam ruangan atau nanti riskan masuk angin atau mampet flu yang nanggung gitu.

Oh, jangan berharap pada transportasi yang beragam macam di Leeds. Transportasi yang bisa dipilih di sini hanya bus untuk harga tiket harian 4,20 poundsterling seharian ke mana aja di dalam kota Leeds, atau 2,30 poundsterling untuk tiket sekali jalan atau 1 poundsterling untuk mahasiswa sekali jalan dengan menunjukkan student card.

WhatsApp Image 2017-10-18 at 15.13.04

Leeds Victoria Arcade Shopping Centre

Selain itu di sini juga ada uber mobil dan amber car kok (salah satu brand taksi online di Leeds, tapi pilihan taksi di sini cukup banyak). Harganya juga kalau lagi bareng-bareng nggak mahal kok karena memang jarak di Leeds nggak terlalu jauh-jauh banget juga.

Apa yang biasanya gue gunakan? Kalau ke kampus bahkan ke city centre biasanya gue jalan kaki hehehe. Lebih hemat dan udaranya itu buat nagih. Gue nggak mau menyia-nyiakan autumn yang sedang berlangsung dan tak mungkin terulang lagi ini. Mengingat masa indah gue di Leeds hanya untuk setahun, maka selagi bisa jalan gue akan pergunakan untuk jalan.

Jauh nggak? Ya lumayan lah. Pertama kali ke Leeds dan jalan kaki rasanya mau nyerah aja. Karena Leeds itu hilly. Semua jalannya itu berbukit dan menanjak naik turun. Tapi lama-lama nanti juga biasa kok. Gue jalan dari rumah ke kampus tiap harinya sekitar 20-25 menit, kalau dari rumah ke city centre itu sekitar 35-45 menit (untuk setiap kali jalannya ya bukan pp), tapi karena nggak ada polusi dan udara dingin itu sih jadi ya enak aja jalan selama itu.

Satu yang juga nggak kalah penting, kalau yang ke toilet sebaiknya setiap ketemu toilet langsung dimanfaatkan. Karena di Leeds agak susah mencari toilet di tempat umum. Bahkan di shopping centre nya yang besar-besar pun hanya ditemukan satu – dua toilet. Lebih baik siaga daripada pas kebelet bingung harus ke mana. Ya, kalau mepet banget langsung cari McD terdekat ya.

Gimana rasanya nyaris dua bulan ini? Jawabannya satu, Leeds itu menyenangkan dan autumn membuat semuanya terasa lebih indah.

WhatsApp Image 2017-10-18 at 15.13.03

Leeds Trinity Centre

Penting nih, Leeds itu murah kok. Inflasi UK yang memang nggak setinggi Indonesia juga salah satu alasannya sih. Terakhir dari data Office for National Statistics UK yang rilis Kamis (17/10), inflasi Inggris September 2017 menyentuh level tertingginya dalam lebih dari 5 tahun terakhir yakni 3,0% atau naik dari September 2016 yang hanya 2,9%.

Kembali ke pembicaraan awal, di sini makan fish and chips lengkap porsi gede masih bisa di bawah 5 poundsterling sementara kalau di London paling murah itu kisaran 8 poundsterling. Kalau sewa rumah per kamarnya per orang masih banyak banget yang di kisaran 350 – 550 poundsterling per bulannya sementara di London paling murah itu kisaran 700 poundsterling. Kebayang kan perbandingannya?

Jadi, di sini biaya hidup sebulan yang standar dengan tingkat jajan sehari 5-10 poundsterling dengan shopping fashion item sekali-kali, plus langganan bus dan sewa rumah masih bisa di kisaran 750 – 1000 poundsterling. Itu gaya hidupnya udah bisa oke banget kok, tanpa kekurangan sama sekali.

Cuma kalau memang pecinta keramaian yang super sih Leeds harus dipertimbangkan. Takutnya malah jadi bosen. Karena kadang kalau lagi musim libur jangan heran kalau mendadak kotanya bakal sangat sepi dan nyaris tak berpenghuni.

Selain itu, Leeds udah tepat untuk jadi pilihan kalau mau kuliah di Inggris kok. – NDN

WhatsApp Image 2017-10-18 at 15.13.09

Leeds City Centre

LUU, Tempat Favoritnya Para Mahasiswa

25 September 2017,

Jauh melompat melewati hari. Akibat banyaknya kegiatan yang harus diselesaikan sebelum memasuki minggu pertama perkuliahan, janji untuk menulis lebih rutin pun sempat terbengkalai.

Akan ada masanya aku akan bercerita mengenai bagaimana mencari tempat tinggal di Leeds, membeli jajanan dan bahan makanan yang halal di sekitar kampus dan tempat tinggal hingga transportasi dan bagaimana keseharian di Leeds terlewati.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.16

Salah satu tangga di LUU

Karena ini hari pertama perkuliahan di mulai. Maka sebagai pembuka,

“Selamat datang di Week 1”, begitu kalau kata mereka-mereka yang sudah memasuki week 52 atau akhir dari perkuliahan dan bersiap menyandang titel S2 di pundaknya.

Namun posting-an ini tidak akan bercerita mengenai kegiatan perkuliahan itu sendiri. Ada satu gedung yang menarik dan pasti akan menjadi pusat perhatian saat kalian berkunjung ke University of Leeds, yakni Leeds University Union (LUU).

 

Secara sederhana, gedung ini berlantai 4 dan menjadi tempat terbuka bagi siapa saja mahasiswa/i Leeds yang hendak sekadar bersantai, makan siang hingga bergabung dan melaksanakan aktivitasnya sebagai bagian dari suatu komunitas.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.10

Area makan di depan Wok & Go, LUU

LUU tidak hanya gedung tapi juga pusat kegiatan mahasiswa/i Leeds. Membawahi sekitar 380 komunitas dan memilliki beragam kafe, restoran, coffee shop, ruang serba guna hingga ruangan musholla bagi muslim.

Area bawah LUU adalah bagian terfavorit buat aku sendiri. Selain banyaknya sofa dan kursi serta bean bag yang bebas digunakan kapan saja, di sini juga terdapat sebuah restoran bernama Wok & Go yang menjual “Chinese and Asia Food”. Tentunya memanjakan lidah walau tak selalu ramah di kantong mengingat harga untuk seporsi makanannya berkisar 4,5 – 6,5 poundsterling. Tapi ya untuk sesekali jika malas masak dan membawa bekal ini bisa jadi alternatif.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.12

Sebagai catatan satu porsi makanan di Wok & Go sangat padat dan besar sehingga bisa untuk dua kali makan (buat saya sih) hehehe.

Tidak hanya ada Wok & Go, di sisi lain lantai ini juga terdapat Common Ground Coffee Shop dengan beragam menu minuman mulai dari kopi, susu dan teh yang bisa dijadikan andalan. Begitu juga dengan kue, yogurt atau buburnya. Menu andalan aku adalah chococino (susu coklat yang sebenarnya adalah children menu tapi siapa saja bebas pesan plus sebagai bonus porsinya besar kok). Selain enak, harganya juga sangat murah yakni hanya 50p. Bandingkan dengan rata-rata minuman di Common Ground ukuran dewasa yang berkisara 1 poundsterling (untuk teh) dan 3 poundsterling (untuk kopi dan susu).

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.14

Area tempat duduk Common Ground

Tidak hanya itu, masih di lantai yang sama kita juga bisa menemukan supermarket yang menjual beragam makanan dengan harga murah seperti sandwich dan makanan cepat saji lainnya yang bisa dihangatkan di student kitchen.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.14 (1)

Area student kitchen sendiri terdapat di lantai yang sama. Di sana kita bisa menemukan microwave, tap water dan juga air panas. Jika membeli sesuatu di supermarket (bernama essentials) kita juga bisa meminta sendok atau garpu, jika memang lupa membawanya.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.30.53

Essentials Supermarket LUU

Jika ingin berburu aksesoris khas kampus juga ada di lantai ini. Toko bernama Gear siap menawarkan beragam produk mulai dari kaos, jaket, gelas, hingga pin berlogo University of Leeds. Bagi yang menggemari salad ataupun vegetarian ada toko bernama Salad Box.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.30.51

Gear Store

Mencari kacamata? Silahkan mampir ke toko bernama Bayfields. Selain juga ada cabang bank Santander yang memang merupakan bank resmi kampus serta toko perawatan kuku, rambut dan wajah bagi perempuan bernama Pamper Me. Di bagian lainnya pun terdapat Old Bar yang terkesan klasik namun menarik perhatian untuk sekadar menghabiskan waktu minum kopi. Atau jika memang pecinta makanan Lebanon seperti Humus, ada juga loh Humpit Bar di sebelah Wok & Go.

Puas menjelajah area ini, kita bisa turun lagi dan menemukan Riley Smith Theatre dan Pyramid Theatre yang merupakan tempat diselenggarakannya beberapa acara termasuk konser dan pemutaran film di kampus.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.15

Area menuju Pyramid dan Riley Smith Theatre

Bagian atas adalah lobby dengan beragam sofa warna warni yang tersebar di seluruh ruangan. Di lobby ini juga kita bisa menemukan staff LUU dan menanyakan hal-hal dasar mengenai kampus seperti lokasi gedung perkuliahan hingga acara terbaru yang diselenggarakan komunitas dan membeli tiket acara tersebut secara langsung.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.19

Lobby LUU

Pada lantai yang sama juga ada beberapa restoran dan coffee shop yang bisa dijadikan alternatif seperti Terrace Bar dan Refectory.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.17 (1)

Terrace Bar LUU

Di bagian atas gedung LUU akan ditemukan banyak ruangan kelas dan serba guna yang biasa digunakan komunitas untuk mengadakan pertemuan rutinnya. oh jangan lupa, ada ruangan bernama Rooted, di mana mahasiswa/i bisa ikut aktif bercocok tanam dan aktivitas tersebut sifatnya volunteering loh.

Maka jangan heran jika berkunjung ke LUU maka akan ditemukan ratusan mahasiswa baik yang sedang bersantai maupun mengerjakan tugas, individual dan berkelompok. LUU tidak pernah sepi dari mahasiswa hingga malam menjemput.

Walau sulit mendapatkan tempat yang nyaman di jam ramai, namun kaki ini tetap memilih melangkah ke LUU karena memang lebih nyaman menunggu dan bersantai di sini daripada di sudut-sudut taman kampus yang sedang dingin-dinginnya.. (NDN)

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.18

Menginjakkan Kaki di Tanah Britania

Hari pertama di Leeds, 31 Agustus 2017.

Kamis siang, sesampainya di Manchester International Airport, saya masih harus melanjutkan perjalanan ke Leeds. Salah satu moda transportasi yang ringkas dan memungkinkan saya dengan barang bawaan yang sedemikian besar untuk masuk adalah kereta.

Tapi sebelum mencari petunjuk arah menuju stasiun kereta, saya dan teman-teman terlebih dahulu mencari kartu telefon. Berdasarkan diskusi sebelumnya dengan teman-teman dan senior di Leeds maka kami sudah mengantongi beberapa nama provider telfon yang bisa dijadikan pilihan.

WhatsApp Image 2017-09-10 at 19.04.09

Hanya saja di MAN, hanya tersedia 3 pilihan provider telefon yakni 3 (Three), EE dan Lebara. Pilihan pun jatuh pada EE karena pertimbangan saran senior PPI yang mengatakan sinyalnya cukup bagus di Leeds. Walau sebenarnya sejak awal saya mengincar Vodafone karena katanya memiliki kualitas seperti Telkomsel di Indonesia tapi keinginan untuk segera mengabari keluarga dan pacar membuat saya menjatuhkan pilihan ringkas pada EE.

WhatsApp Image 2017-09-10 at 19.04.10

Kartu Telefon EE seharga 20 pounds

Harganya saat itu 20 poundsterling untuk 2GB dengan bonus 10GB untuk sebulan pertama. Pemasangan dan aktivasi pun dibantu oleh si mbak penjaga toko. Oh iya, kartu telefon dijual di dekat pintu keluar bandara MAN, persis di sisi kiri di dalam sebuah supermarket.

Selesai mengurus kartu telefon, kami pun melanjutkan perjalanan ke stasiun kereta. Diarahkan untuk naik satu lantai dan setelahnya menyebrang di skywalk bandara. Lewat skywalk kami pun diarahkan turun dan langsung menemukan counter penjualan tiket. Setelah itu kembali disarankan untuk turun 1 lantai menuju peron kereta.

WhatsApp Image 2017-09-10 at 19.04.08

Keluar dari bandara MAN, di sisi kanan ada lift menuju stasiun

Sebenarnya untuk tiket kereta sendiri bisa dibeli via online sejak jauh hari misal melalui (Virgin Trains) http://www.virgintrains.co.uk. Jika mendarat di Manchester maka ambil rute Manchester Airport ke Leeds Station (LDS). Hanya saja sayangnya saya tidak memiliki dan menggunakan kartu kredit. Padahal jika membeli jauh hari dari Virgin Trains harga tiket kereta dari MAN ke Leeds Station hanya berkisar 11-12 poundsterling, berbeda jauh dengan membeli tiket on the spot yang menghabiskan 26,60 poundsterling.

Tapi karena memang sudah dipersiapkan, saya pun membayar dan langsung menuju peron yang dituju. Sulit untuk menemukan peron mana yang akan membawa kita ke Leeds. Tersedia 8 peron yang berjejer horizontal dan tidak ada petunjuk yang jelas. Di depan saya sudah tersedia sebuah kereta dengan tujuan tertulis “Newcastle”, di sisi kanannya terdapat kereta dengan tujuan “Edinburgh” dengan dua kereta lain masih tanpa tujuan.

WhatsApp Image 2017-09-10 at 19.02.00

Peron-peron di stasiun kereta bandara Manchester

Mengingat barang bawaan yang cukup banyak, maka saya dan teman-teman memutuskan untuk mencari tempat menunggu dan meletakkan koper-koper di sana. Tersedia ruang tunggu berpintu kaca lengkap dengan coffee shop dan supermarket di tengah stasiun.

Namun karena minimnya petunjuk, saya dan seorang teman memutuskan untuk mencari information center. Di depan ruang tunggu kebetulan sedang ada seorang petugas stasiun dan ternyata setelah bertanya, kereta bertujuan “Newcastle” itu lah yang seharusnya akan membawa kami ke Leeds.

WhatsApp Image 2017-09-10 at 19.04.07

Tiket kereta MAN – LDS

Tiket yang dibeli membebaskan kami untuk duduk di peron manapun, maka mengingat barang bawaan yang banyak, saya dan teman-teman mencari peron yang cukup sepi untuk meletakkan koper di ujung pintu. Perjalanan sendiri memakan waktu sekitar 1 jam 5 menit.

Pemandangan yang tersaji pun memanjakan mata. Jejeran rumah bata merah khas Negeri Ratu Elizabeth menyapa, belum lagi hamparan bukit hijau dan suasana mendung memberi pernyataan tegas bahwa kini saya sudah sampai di Britania Raya. Suhu udara pun menunjukkan 16 derajat celcius dengan beberapa daerah yang diguyur hujan tipis.

Sesampainya di Leeds, alhamdulillah kami sudah dijemput oleh perwakilan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Leeds. Setelah berkenalan dan berfoto bersama tanda sudah sampai dan dijemput dengan selamat, kami ikut dengan salah satu kenalan teman, Bang Aswin, untuk diantarkan ke rumah sementara selama di Leeds.

WhatsApp Image 2017-09-10 at 19.01.58

Di depan pintu Leeds Station, dijemput Mas Adi ketua PPI Leeds 2016-2017

Memang di Leeds kami menumpang di akomodasi sementara. Setelah diantar kami diajak makan siang bersama di rumah Bang Aswin.

Perasaan langsung membuncah setelah melihat apa yang terhidang di meja makan. Mbak Lia, istri bang Aswin, sudah memasak sop daging lengkap dengan teri dan telor balado. Rasanya ingin menangis haru, setelah perjuangan 22 jam di perjalanan dengan makanan yang tak pas di lidah.

WhatsApp Image 2017-09-10 at 19.01.22

Makanan pertama di Leeds yang disajikan di rumah Bang Aswin

Sesaat terbayang wajah mama di rumah yang selalu menyajikan makanan serupa sebagai penawar lelah setiap kali pulang kerja. Tak dianya, meski sudah terpisah 11.758 km, kata Distance Calculator nemu di Google, hangat rumah itu masih terasa jelas.

Terbersit satu pelajaran jelas dalam ingatan bahwa ke mana pun kaki melangkah akan selalu ada keluarga yang menanti. Meski keluarga di sini tidak lah berkaitan hubungan darah, namun kebersamaannya tak perlu diragukan.

Setidaknya untuk berpegangan, perjalanan ini tidak ditempuh seorang diri. Ada orang-orang yang berjuang bersama kita dengan tujuan yang sama, bertahan dan berhasil di negeri orang, untuk nantinya menyelipkan kebanggaan pada keluarga di rumah yang senantiasa berdoa untuk keselamatan, kebahagiaan dan keberhasilan kita.

Setelah waktu menunjukkan pukul 16.00 kami memutuskan pulang. Imbas dari jetlag yang masih menguasai, ketika waktu menunjukkan pukul 16.30 di Leeds atau pukul 22.30 di Jakarta maka seketika kami pun tertidur lelap.

Hari pertama di Leeds pun berjalan manis, cuaca dingin sekitar 17-18 derajat celcius berhasil membuat kami tidur dengan sweater dan kaos kaki lengkap. Meski heater ruangan sudah menyala. Badan butuh beradaptasi dengan lebih keras, belum lagi rindu akan keluarga dan pacar sudah menyerang. Namun tak ada waktu untuk bermuram diri, kantuk menyerang dan mata tak lagi berkompromi untuk terus melanjutkan aktivitas lebih panjang dari ini.

Tak berhenti di sana, pukul 03.00 waktu Leeds atau 09.00 waktu Jakarta kami pun terbangun segar dan menghabiskan waktu mengobrol hingga pagi menjemput. Saatnya bergegas karena urusan administrasi sudah menanti dan bersiap menjadi warga Indonesia baru di Leeds.

WhatsApp Image 2017-09-10 at 19.02.01

Di salah satu peron stasiun Manchester sesaat sebelum berangkat ke Leeds, Kamis, 31 Agustus 2017