Sambut Idul Fitri Tanpa Kumandang Takbir dan Sepasukan Keluarga Nainggolan

Ternyata yang berat itu bukan puasa 18 jam di negeri orang, tapi melewati malam lebaran tanpa takbiran dan sepaket keluarga yang selama ini tidak pernah terlewatkan. Percayalah, puasa sepanjang itu tidak ada artinya daripada melewati malam jelang Hari Raya Idul Fitri dalam keramaian tanpa suara takbir berkumandang dan hangatnya kebersamaan di ruang tamu keluarga.

Saya sudah berkali-kali tinggal jauh dari rumah, melewati malam di kamar kos atau kamar asrama sendirian juga pernah. Tapi satu yang saya sadari, saya tak pernah sekalipun lebaran sendirian. Apalagi kini di luar negeri. Di negara yang suara Adzan pun tak boleh berkumandang nyaring.

Ada satu titik di hati yang terasa kosong. Saya memilih menanggalkan perasaan nelangsa itu dengan memutar suara takbir dari YouTube. Bahkan rasanya tergetar hati ketika mendengar suara takbir yang berkumandang dari rekaman teman-teman di tanah air melalui aplikasi instastory di Instagram. Dari lubuk hati anak rantau ini saya ingin mengucapkan terima kasih yang besar bagi teman-teman yang mungkin tidak pernah berpikir sejauh itu. Bahwa takbir yang kalian rekam sudah berhasil menghangatkan hati saya dan mungkin juga teman-teman lainnya di belahan dunia manapun.

Saya selalu menikmati suara takbir yang berkumandang, saat-saat rusuh bangun tidur pagi dan berburu ke masjid dekat rumah untuk ikut Sholat Idul Fitri, bergegas pulang dan membantu mama menghangatkan tauco, balado, lontong dan sayur lodehnya, mengantri berbaris untuk saling bermaaf-maafan dengan Papa, Mama, Igon, Biela dan Putri, berbagi lontong dengan tetangga dan para satpam di sekitar komplek hingga berebutan foto lebaran di dalam rumah.

Bahkan ketika menuliskan ini, perasaan hangat dan rindu itu membuncah hebat. Ternyata, ada satu nikmat lain yang selama ini tidak saya sadari besarnya karena saya terbiasa mendengarnya, yakni, kumandang takbir. Ternyata, lebaran tanpa takbir sekosong ini.

Tapi, ini hari kemenangan. Tak ada nikmat yang luput. Mungkin kali ini tak ada suara takbir yang menggema dan keluarga Nainggolan di sisi, tapi Allah SWT memberikan teman-teman yang rela menghabiskan malam bersama dalam senda gurau, sembari sesekali mendengarkan kumandang takbir dari alat pengeras suara. Sekecil apapun hangat yang mengalir dalam hati mu, itu rejeki yang harus disyukuri.

Ada cerita dan pengalaman lain yang akan menjadi bekal kisah di masa mendatang. Bahwa beruntung dan bersyukur lah siapapun yang menghabiskan malam jelang Idul Fitri dalam balutan gema takbir yang tak putus dari masjid sebelah rumah. Terlebih, saat masih berkesempatan sungkem dan memohon maaf langsung dengan bersimpuh di bawah kaki kedua orang tua mu. Karena nikmat-nikmat yang mungkin selama ini sudah terasa seperti ritual itu akan meninggalkan ruang hampa saat tak sempat dilakukan karena terhalang jarak, ruang dan waktu.

Mohon maaf lahir batin atas segala salah dan khilaf yang sengaja maupun tidak. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439H bagi teman-teman yang merayakan. Selamat berkumpul dengan keluarga dan menikmati lontong nikmat. Selamat liburan semuanya! Semoga kita diberikan kesehatan dan umur yang panjang untuk bertemu dengan Ramadhan di tahun depan. Aamiin. – NDN.

2018-06-14 22_23_26.084

Malam Takbiran Menyambut Idul Fitri 1439H, Leeds, 14 Juni 2018.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s