Happy World Book Day!

Tidak mudah menjalani S2 di negeri yang begitu jauh dari rumah sendiri meski kamu sudah berpengalaman lebih dari 8 tahun menempuh pendidikan dengan tidak tinggal di rumah mu sendiri.

Satu kalimat panjang yang jika dibaca dalam sekali napas akan membuat mu langsung sesak itu adalah ekspresi yang tidak sepenuhnya pas tapi pantas untuk menggambarkan bagaimana sulitnya menjalani hari-hari di sini (terkadang). Karena tentunya kamu tidak bisa lantas menyingkirkan begitu saja hari-hari indah lainnya dalam perjalanan menyabet gelar master yang sedang dilalui ini.

Tulisan ini tidak akan berisi keluhan, tidak juga berhubungan langsung dengan indahnya kenangan yang sudah tercipta dan akan terbentuk di Leeds. Tulisan ini hadir pada tanggal 23 April 2018, hari yang disebut sebagai #WorldBookDay. Meski tulisan ini tidak lah sebuah guratan yang menghasilkan buku, namun setidaknya, sesuatu harus ditulis dan terpampang nyata pada hari ini (meski ketika diunggah, hari telah berganti menjadi 24 April 2018, paling tidak, usaha ini pantas diapresiasi kan ya?).

Sedikit mengulas hari lalu di tengah libur paskah yang berlangsung dari tanggal 17 Maret – 15 April 2018 lalu bagi mahasiswa University of Leeds, dua minggu diantaranya saya habiskan di Jakarta. Keputusan impulsif pun terjadi, membeli beberapa buku di Gramedia dan memutuskan untuk menahan diri tidak membacanya hingga sampai di Leeds.

Padahal niatan awal adalah mengurangi sebanyak mungkin barang dari Leeds sehingga nanti pada masanya hengkang dari Britania Raya, beban bawaan tidak lah terlalu memberatkan. Namun, niatan tersebut malah berbalik drastis. Saya malah menambah beban bawaan ketika kembali ke Leeds dan membawa buku-buku bacaan.

Saya tau, keputusan membeli buku itu tidak pernah masuk kategori sebagai keputusan yang salah dan menimbulkan penyesalan di masa mendatang. Setelah kembali ke Leeds dan dipenuhi dengan deadline yang menghimpit, buku-buku itu pun sebagian besar masih menganggur di atas meja belajar. Belum tersentuh, hanya dipandang hari demi hari.

Hingga entah apa yang menggerakkan hati untuk membacanya. Pilihan jatuh pada novel Resign, karya Almira Bastari. Pagi itu baru menunjukkan pukul 10.50 BST. Jadwal hari ini pun penuh dengan segambreng kegiatan yang memang baru dimulai pada pukul 15.00 BST siang. Saya pikir, daripada bengong atau tidur lagi, ada baiknya mulai membaca novel. Toh, mau memaksa diri mengerjakan tugas, saya sudah kehilangan semangat.

Sejak kembali dari Jakarta, saya mengalami perasaan nelangsa yang aneh. Perasaan sepi menyergap berlebihan, padahal sebelum pulang ke Jakarta saya baik-baik saja. Padahal, Leeds sudah spring dan matahari sudah bersinar terang benderang sejak pukul setengah 7 pagi dan baru tenggelam lepas pukul 20.00 BST setiap harinya.

Orang-orang merasakan gloomy pada saat winter karena memang sepanjang hari langit hanya berwarna abu-abu, suram. Namun, saya justru merasa kosong di hari-hari bermatahari terang. Saya yakin penyebabnya karena saya tidak siap dengan semua tugas yang menanti, tidak siap dengan kenyataan bahwa sesaat lagi saya harus meninggalkan kota ini, terlebih tidak siap dengan fakta bahwa tidak ada lagi lima orang bawel lainnya yang akan menemani hari-hari saya seperti saat di Jakarta, saat saya di rumah.

Terdengar sepele. Saya pun tidak menyangka saya sampai di titik cengeng itu. Sebab, tinggal jauh dari rumah bukan lah hal yang baru, meski ini pengalaman pertama saya tinggal di luar negeri untuk menetap.

Kembali pada keputusan saya mulai membaca pagi tadi, memasuki bab ketiga, saya merasa begitu dekat dengan karakter-karakter yang hadir. Ceritanya ringan, menggunakan bahasa sehari-hari yang renyah, dialog yang dibangun santai, tapi ada sesuatu dalam rangkaian kalimat yang dituliskan Almira yang membuat saya jatuh cinta.

Sedikit bocoran, novel ini berkisah tentang empat pegawai di suatu kantor di Jakarta. Bergelut dengan rangkaian tugas yang padat merayap ditambah tekanan dari bos ganteng nan pintar yang tegas dan nyebelinnya setengah mati. Terdengar begitu sederhana, tapi dirajut dengan sangat apik oleh Almira. Saya, jelas, si hopeless romantic ini tidak bisa lepas tersenyum setiap kali Tigran, sang bos, menunjukkan gelagat manis pada salah satu tokoh utama, Alranita, si pegawai, yang saya ketahui sejak awal ia sukai.

Dalam delapan bulan terakhir, saya kesulitan membaca novel dengan fokus. Satu-satunya pencapaian hebat yang berhasil saya lakukan dalam kurun waktu delapan bulan tersebut adalah menyelesaikan novel Haruki Murakami berjudul Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage yang disarankan oleh seorang teman. Saya berhasil menyelesaikan Colorless dalam 4 hari. Biasanya, saya bisa menghabiskan dua hingga tiga buku dalam sebulan. Jelas, sesuatu yang drastis telah terjadi.

Tapi, Almira, berhasil membawa saya menghabiskan setiap menit tanpa tugas dan kelas yang saya miliki di sepanjang 23 April 2018 dengan melanjutkan kisah Alranita dan pasukannya. Akhirnya, kurang dari 13 jam saya menyelesaikan kisah itu dengan senyum-senyum baper yang tersungging di sudut bibir.

Saya merasa kembali ke masa-masa ketika saya membaca hingga dini hari, rela kurang makan dan kurang tidur karena terlalu larut dalam keseharian tokoh yang ada. Saya merasakan mood nelangsa yang saya alami dalam dua minggu terakhir perlahan digusur oleh semangat yang tumbuh bermekaran seperti bunga-bunga dan dedaunan disepanjang sudut Leeds.

Ketika saya masih larut dalam semangat positif yang ditularkan dari novel Resign!, saat itu saya sadar hari ini adalah #WorldBookDay. Rasanya semua sudah diatur dengan tepat dan pas pada waktunya.

Perasaan ini membawa saya pada titik kesadaran lainnya. Bahwa ketika sedang berada di titik terlemah sekalipun, carilah apa yang dibutuhkan oleh jiwamu. Mungkin ia sedang haus dan butuh istirahat dari pacuan lari panjang yang melelahkan selama ini.

Berhenti sejenak tidak akan membuat mu tertinggal. Ia hanya akan menyuntikkan semangat baru, mengisi bahan bakar sebelum kembali berpacu dan memenangkan perjuangan yang sudah dimulai. Karena bukan tidak mungkin ketika kamu melupakan raungan jiwa mu, saat itu pula raga dan batin memilih berhenti dan tidak membawamu ke mana-mana.

Bagi saya, buku dan membaca adalah pelarian terbaik. Berpetualang di dalam kisah yang dibangun si penulis adalah cara paling murah untuk rekreasi dan sejenak meninggalkan semua kerisauan dan kegelisahan untuk sesaat.

Terbukti, Almira dan Resign!-nya berhasil membuat saya menulis sepanjang ini dengan perasaan menggebu dan bibir menyunggingkan senyum puas setelah sekian lama blog ini menganggur. Pancaran semangat positif ini sudah menjalar. Saya siap kembali berlari kencang, karena perjuangan ini masih panjang dan saya harus berhasil memenangkannya.

Di mana pun kamu berada, semoga akan selalu ada ‘kisah’ yang sedang menemani perjalanan mu. Rajut lah, hidup bersamanya, dan selesaikan hingga titik akhir. Happy World Book Day! – NDN

 

WhatsApp Image 2018-04-24 at 01.25.18

Leeds, 23 April 2018, World Book Day!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s