Bukan Siapa yang Pergi dan Meninggalkan

Memilih berdiam diri sebenarnya bukan lah sebuah keputusan yang ringan. Kadang terpikir, mengapa ia memutuskan tak beranjak. Apa ia takut akan kegagalan? Terbuai oleh kebiasaan yang memabukkan?

Pertanyaan egois.

Mengapa tidak? Pernah kah mereka yang berpikir demikian mengkaji ulang keputusannya untuk meninggalkan?

Tidakkah ia, kami, yang tertinggal justru menyesap lebih banyak ganjalan melangkah maju namun tetap berdiri tegar daripada kalian yang meninggalkan?

Kini, aku yang mengambil kesempatan ku melemparkan pertanyaan tak kalah egois.

Jelas tinggal meninggalkan bukan perkara mudah. Bukan juga pekerjaan seorang diri. Selalu, setidaknya ada dua pihak yang turut andil membentuk suatu perpisahan.

Kali ini, aku yang tertinggal gerbong yang melaju kencang membawa kalian menuju pemberhentian berikutnya. Tapi jangan salah, kalian bisa saja tidak tau bahwa aku sebenarnya yang membiarkan gerbong itu pergi begitu saja. Karena aku sedang menanti yang lain.

Gerbong lain yang lengang. Aku tak suka gerbong kereta yang sarat penglaju. Terlalu banyak bebauan yang menyeruak ke udara, suaranya bising, ruangannya sesak. Aku kehilangan waktu berkontemplasi dengan diri sendiri. Padahal, di mana lagi aku mendapat celah berdialog dengan keakuan ku jika tidak sedang melaju dalam gerbong KRL berdurasi kurang lebih 25 menit ini?

Tapi pasti, kalian yang di dalam gerbong itu menatap iba. Karena aku, si perempuan yang tertinggal. Menapak langkah terakhir saat pintu gerbong seutuhnya merapat dan meninggalkan aku dengan sisa angin yang menampar pipi.

Kalian pasti berpikir, aku si malang. Tapi kalian lupa, bagi ku. Kalian lah si penderita. Memilih berjubel dengan kepadatan yang menjemukan. Menikmati sesak demi sebuah kecepatan.

Aku di sini, tertinggal dengan jumawa. Setidaknya aku tau, gerbong lain yang menjemput ku sudah menjanjikan ruang lega untuk aku dan diri ku.

Aku yang menetap dalam ketertinggalan adalah aku yang berhasil berdiri kokoh menanti kedatangan yang lain. Mungkin aku kalah cepat, tapi aku jelas tak kalah bahagia dengan kalian.

Karena pada akhirnya kita dua pihak yang berbeda. Kita memilih dan menentukan ke mana kita akan melangkah detik berikutnya. Ini bukan soal siapa yang lebih dulu beranjak atau siapa yang terpaku, ini perkara apa yang kita putuskan untuk masa depan. Masa depan kita sendiri tentunya.

na-mila

#TBPMonthly #Stay #TheBlogProject

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s