Kepergian yang Tak Butuh Pengganti

Suatu pagi menjemput dengan sendu. Bukan karena matahari terlambat muncul di ufuk Timur atau karena dingin yang kelewat menyengat. Hanya saja ada yang berbeda dengan pagi ini. Ada sekelumit cerita di sudut telefon genggam yang terlewat.

Mengenai sebuah kabar kehilangan. Perpisahan yang mengetuk pintu sebelum siapa pun yang menerima kabar sempat bersiap diri. Meninggalkan aku dan mungkin banyak orang lainnya dalam kekosongan. Termangu pada sebait pesan yang terselip dari sebuah aplikasi dari telefon genggam terkini.

Diri pun bergegas, mengecek keberadaan ia yang ditinggalkan. Apakah ia sudah mampu melaluinya dengan berpikir jernih. Mempersiapkan diri menghadapi ia yang sedang terpuruk jauh dalam rasa kehilangannya.

Ini bulan terakhir, terselip di penghujung tahun. Biasa disuguhi kisah bahagia dan resolusi yang dipatok jelang pergantian lembaran kalender. Siapa yang menebak kali ini banyak kisah pilu di setiap pekannya. Membawa aku pada suatu kesadaran akan perpisahan yang selalu menanti di ujung jalan.

Jangan kan berada di kaki ia yang tertinggal, membayangkannya pun ternyata aku belum mampu. Siapapun yang menatap kepergian, tidak akan pernah siap. Seperti apapun ia sudah menata hati dan harinya mempersiapkan salam perpisahan itu. Apalagi ia yang belum sempat meyakini dirinya bahwa mungkin kepergian adalah jalan keluar terbaik.

Terkadang hidup membawa pada pilihan yang tidak mengizinkan kita bertanya lebih lanjut. Dulu, ketika hidup menggiring pada pertemuan dan perkenalan, kita tidak bisa bertanya, selama apa kebersamaan ini akan terajut? Tapi, ketika perpisahan menjemput, kita seolah sudah menatap masa depan yang sama, hari esok yang hidup bersama lubang kosong di hati akibat perpisahan yang meninggalkan ruang tak berpenghuni.

Pernah kah hidup bertanya akan kesiapan kita menata hari baik sebelum dan sesudah pertemuan serta perpisahan tersebut. Yang kita tahu, waktu terus berpacu. Menyisakan kita pada titik sembuh yang harus kita bangun sendiri. Tidak ada kesempatan untuk mengulang apalagi mempercepat waktu yang bergulir.

Semua lakon dan babak kehidupan sudah diatur sedemikian rupa. Hanya yang pasti, tidak ada yang akan melewati batas kemampuan kita sebagai manusia.

Mungkin kehilangan ini tidak untuk menemukan penggantinya, ruang kosong itu sudah ditinggalkan dan tidak mencari penghuni baru. Tapi masa depan akan tetap menjemput. Saatnya kita bergegas, membawa asa yang mungkin sudah dititipkan oleh penghuni terdahulu.

Siapa pun ia yang sudah pergi, pasti lah singgah dalam hari dan menitipkan harapan akan kehidupan kita yang lebih baik. Bersedih jelas tak akan mampu terhindarkan, tapi bukan kah berkutatnya dengannya tidak akan membawa kita ke mana-mana.

Kembali lagi, hidup tidak mengizinkan kita bertanya banyak. Bergegas atau terlindas. Ia yang sedang berselimut duka kepergian, ku tahu pasti akan mampu mendulang harinya esok dengan segenggam asa di masa depan. Ia tak akan lekang dalam nestapa yang berkepanjangan.

Sebab aku, si teman hari, akan terus berjalan bersisian dengan ia. Tidak untuk mencoba mengajaknya berlari meninggalkan luka tapi menemani ia menyembuhkan lukanya dan berjalan kokoh di masa depan.

Kebayoran Lama

21 Desember 2016

Untuk Emir dan Erika

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s