Sibuk Bertanya-Tanya Pertanyaan Kosong

Kadang kamu mungkin hanya sedang bertanya-tanya. Pada diri sendiri. Apa yang sedang kamu lewati. Tapi mungkin juga kamu hanya sedang mencari jawaban. Tetap, pada diri sendiri. Tentang apa yang sudah berhasil kamu lewati.

Intinya, kamu merasa sedang berhenti pada satu titik tertentu. Bukan, bukan berarti waktu lantas ikut berhenti. Atau aktivitas lantas menjadi kosong tanpa agenda. Semua itu, waktu dan aktivitas, mereka tetap bergulir seperti biasa.

Yang menjadikannya berbeda hanya lah kehadiran mu. Dirimu sendiri. Biasanya kau utuh berdiri dan mencurahkan segenap tenaga dan pikiran mu untuk suatu waktu atau aktivitas tersebut. Tapi sekarang, kau sedang bergelut dengan pertanyaan dan pencarian jawaban yang terselip jauh di dalam permainan pikiran dan perasaan mu sendiri. Meninggalkan raga yang bergerak kosong.

Apa sebenarnya pertanyaan yang menggelayut atau jawaban yang kau cari?

Tidak seorang pun mampu menebak apalagi menjawabnya. Karena semua kembali pada dirimu sendiri. Yang tengah kehilangan keseimbangan. Merasa terombang-ambing antara waktu dan aktivitas tapi terkuras pikiran dan perasaan tanpa mendapat kepuasan yang dibutuhkan.

Ini soal pekerjaan? Nampaknya bukan. Jari dan pikiran ini tetap lincah menulis dan meramu kata untuk mewujudkan serangkum berita terhangat.

Ini soal cinta? Nampaknya bukan. Rasa yang tumbuh masih sama, sama hangat dan menggebunya seperti pertama bersama.

Ini soal kehidupan? Mungkin.

Tapi bukannya pekerjaan dan cinta adalah bagian kehidupan. Lalu aku pun berhenti dan bertanya. Apa sebenarnya kebingungan ini.

Oh, mungkin hanya kegamangan menyambut tahun yang siap berganti dan membalik lembarannya. Merefleksi pencapaian yang terasa membanggakan, tapi nyatanya terasa mencengkram. Karena kewajiban yang membuntut di belakangnya banyak belum terselesaikan.

Perjalanan tersebut masih terlampau panjang dan terjal. Tapi rasanya tidak pantas jika tidak diperjuangkan. Karena aku sudah berlabuh di titik ini.

Mungkin, ini hanya sesaat. Karena pada akhirnya waktu yang akan mendominasi. Aktivitas terus menuntut.

Pilihannya hanya dua, berpacu dan berhasil atau menyerah dan menyesal. Jelas pasangan yang kedua bukan lah bagian dari apa yang ingin aku torehkan di masa depan.

KONTAN, Kebayoran Lama

13 Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s