Menenggelamkan Diri Dalam Keramaian

Di suatu sudut kedai kopi di pinggiran ibukota, terdengar tetes hujan yang saling berkejaran satu dengan yang lain di luar sana. Bunyi mesin kendaraan bermotor yang menderu pun sayup terdengar dari arah jalanan yang padat. Semua pojok kedai kopi sarat dengan pengunjung.

Ada sekumpulan muda mudi yang sedang bercengkerama di sudut terkiri, sementara aku duduk di sisi diagonal mereka. Di sebrang terlihat dua perempuan sibuk dengan laptopnya masing-masing.

Terselip suara riuh rendah percakapan orang yang berbeda topik dari segala penjuru kedai kopi. Lantunan musik berdendang sayup ke setiap sudut. Terasa pas dan tidak mengganggu kesibukan yang terus berjalan.

Belum lagi orang-orang yang datang silih berganti, memilih terus melangkah menaiki satu per satu anak tangga menuju lantai dua. Seperti yang bisa kalian tebak, lantai bebas rokok acapkali lebih ramai dan sarat penghuni daripada lantai yang bebas polusi.

Tempat ini ramai, semua sudut terlihat penuh dengan pengunjung tapi tak terdengar berisik. Jika saja kalian bertanya, aku sedang sendirian. Memilih sudut terdalam agar tak banyak yang lalu lalang dan menyadari keberadaan ku. Bukan karena aku penyendiri, tapi karena aku senang mengamati.

Ketika sibuk mengamati pilihan terbaik adalah tenggelam dalam kesunyian dan kealpaan. Belum sejam aku duduk di sini, tapi aku menangkap satu hal, sekarang mampir ke kedai kopi semakin digemari.

Mungkin ini disadari banyak orang. Hampir semua kedai kopi menjadi pilihan teratas saat ingin sekadar berkumpul atau temu sapa dengan teman dan kerabat. Apalagi jika sedang sendirian, kedai kopi jelas pilihan terbaik. Mereka menyediakan layanan internet tanpa batas, musik yang mengalun pas dan tidak memekakkan telinga serta saklar listrik di setiap sudut.

Semua kebutuhan di masa kini terpenuhi di suatu tempat di tengah keramaian ibukota. Lalu apalagi yang ingin kau cari?

Lepas semua kebutuhan terpenuhi, kedai kopi tidak menghakimi ketika kau datang sendirian tanpa seorang pun di sisi. Tidak ada yang hendak bertanya apa yang akan kau kerjakan jika hanya seorang diri.

Jika pun kau sedang beramai-ramai, tidak akan ada seorang pun yang merasa kau mengusik ketenangan mereka. Tempat ini, kedai kopi, selalu menjadi area netral. Membebaskan mu dalam keramaian yang membelenggu.

Tidak jarang kau menemukan segelas kopi yang biasa saja, terlalu manis atau terlalu pahit. Intinya tidak sesuai selera. Tapi pada akhirnya kau menyerah jika kedai kopi itu memberikan kenyamanan yang kau butuhkan.

Karena terkadang dengan tingginya kebutuhan masa kini, kau rela menukar segelas kopi yang kau idamkan dengan sebuah sudut dengan colokan listrik yang menyala atau sejejer huruf memuat kata sandi menuju kecepatan internet tanpa batas.

Layaknya hidup, kau tidak akan pernah disajikan sepiring lengkap kebutuhan dalam satu kali langkah. Walau bukan berarti hal tersebut tidak mungkin terjadi. Hanya saja probabilitasnya sangat minim. Hidup bukan lah papan gambar berisi komposisi gizi 4 sehat 5 sempurna yang dijabarkan ketika kau duduk di bangku sekolah dasar. Kadang kau memang bisa menyantap sepiring nasi dengan ikan dan ayam sekaligus tapi kau kehilangan segelas susu yang seharusnya menjadi penutup.

Pilihan ku kali ini pun tak sepenuhnya keliru, sepiring “Kentang Goreng Rumahan”, seperti yang tertera di menu, diramu pas sesuai dengan cita rasa yang aku idamkan. Walau memang segelas teh tarik yang tersaji tak seindah yang dibayangkan. Terlampau manis, kehilangan pahit teh yang seharusnya jadi penyeimbang. Setidaknya sebagian dari yang ku pesan tidak semuanya gagal.

Ditambah lagi, aku masih mendapat pojok yang ku inginkan dengan ketenangan di tengah keramaian hingga nanti seorang teman yang dinanti hadir dan menyapa.

Saudagar Kopi, Bintaro

8 Desember 2016

Menanti Caca

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s