Jawaban Keteguhan

Suatu waktu kala senja siap menjemput, aku terpaku pada sebuah cerminan diri di depan gedung pencakar langit yang berdiri menjulang. Persis di sudut paling kiri, aku menatap nanar gambaran diri seorang pekerja yang baru menyelesaikan sebagian dari tugasnya hari ini. Sebagian. Perjalanan menuju kata usai masih panjang, bahkan ketika hari sudah berlalu lebih dari setengahnya.

Gedung tinggi ini jelas bukan kantor ku bernaung. Aku hanyalah satu dari puluhan orang yang berlalu lalang dengan beragam kepentingan pada si empu pemilik gedung berlapis kaca ini.

Pikiran seketika melayang pada pertanyaan mengapa aku sedianya bertahan dan hanya menjadi pengunjung jejeran gedung bertingkat? Keluar masuk silih berganti, memilih jadi tamu daripada penghuninya.

Kalau kalian lihat dari penampilan juga jelas terpapar perbedaan yang mencolok. Aku hanya bermodal ransel, kemeja, jeans dan sepasang sneakers. Pakaian paling rapi yang terlintas di kepala tadi pagi.

Sementara perempuan-perempuan hilir mudik ini mengenakan blazer dengan sepatu hak tinggi. Tidak ketinggalan pulasan wajah dan tatanan rambut yang sempurna. Boro-boro menyiapkan riasan seperti mereka, tadi pagi aku bangun terlambat setelah malamnya berkutat dengan materi yang ku siapkan untuk kunjungan hari ini.

Jelas itu sebuah alibi. Aku bisa saja menyiapkan alarm lebih pagi dan bersiap diri seperti mereka. Tapi aku memang tidak terbiasa, lagipula tidak ada tuntutan demikian. Aku bebas berekspresi selayaknya yang aku anggap pantas. Dan aku tanpa riasan adalah aku yang sudah pantas.

Percuma membandingkan sejuta alasan, aku dan mereka memang terpatri berbeda.

Lantas, apa aku tak merasa tergiur? Bohong jika aku menjawab tidak. Pernah tiba suatu masa aku mempertanyakan alasan mengapa aku mempertahankan profesi ini. Bukan karena kantor ku tidak mengizinkan aku bersepatu hak tinggi atau menggunakan make up tapi mobilitas ku yang tidak memungkinkan.

Dari ratusan pertanyaan yang hilir mudik dalam 3 tahun terakhir, terselip segelintir jawaban yang membawa ku pada keteguhan hati melanjutkan profesi ini.

Aku dan menulis sudah ditakdirkan beriringan, aku dan profesi ini adalah mimpi yang akhirnya berubah wujud menjadi nyata, aku dan kantor ini saling melengkapi dalam hubungan yang penuh kehangatan. Untuk saat ini, tidak ada rasanya yang bisa mendesak ku untuk segera beranjak.

Mungkin nanti ada kalanya “aku” meminta diri ku sendiri melangkah ke arah yang berbeda. Menuntut perubahan dan kebaruan. Yang mungkin saja jawabannya adalah hengkang. Tapi itu mungkin aku dalam masa depan.

Jelas bukan aku yang terpatri dalam bayangan di kaca sore ini. Karena perempuan dengan ransel kuning ini masih bersedia untuk tinggal, menanti ojek online yang siap menjemputnya. Lalu bergegas kembali ke “rumah”nya. Sebab, seindah apapun “rumah” orang, kita hadir hanya untuk bertandang bukan untuk menetap di bawahnya. Atau mungkin hanya sekadar numpang mematut diri.

img_2885

#TBPMonthly #Stay #TheBlogProject

Bukan Siapa yang Pergi dan Meninggalkan

Memilih berdiam diri sebenarnya bukan lah sebuah keputusan yang ringan. Kadang terpikir, mengapa ia memutuskan tak beranjak. Apa ia takut akan kegagalan? Terbuai oleh kebiasaan yang memabukkan?

Pertanyaan egois.

Mengapa tidak? Pernah kah mereka yang berpikir demikian mengkaji ulang keputusannya untuk meninggalkan?

Tidakkah ia, kami, yang tertinggal justru menyesap lebih banyak ganjalan melangkah maju namun tetap berdiri tegar daripada kalian yang meninggalkan?

Kini, aku yang mengambil kesempatan ku melemparkan pertanyaan tak kalah egois.

Jelas tinggal meninggalkan bukan perkara mudah. Bukan juga pekerjaan seorang diri. Selalu, setidaknya ada dua pihak yang turut andil membentuk suatu perpisahan.

Kali ini, aku yang tertinggal gerbong yang melaju kencang membawa kalian menuju pemberhentian berikutnya. Tapi jangan salah, kalian bisa saja tidak tau bahwa aku sebenarnya yang membiarkan gerbong itu pergi begitu saja. Karena aku sedang menanti yang lain.

Gerbong lain yang lengang. Aku tak suka gerbong kereta yang sarat penglaju. Terlalu banyak bebauan yang menyeruak ke udara, suaranya bising, ruangannya sesak. Aku kehilangan waktu berkontemplasi dengan diri sendiri. Padahal, di mana lagi aku mendapat celah berdialog dengan keakuan ku jika tidak sedang melaju dalam gerbong KRL berdurasi kurang lebih 25 menit ini?

Tapi pasti, kalian yang di dalam gerbong itu menatap iba. Karena aku, si perempuan yang tertinggal. Menapak langkah terakhir saat pintu gerbong seutuhnya merapat dan meninggalkan aku dengan sisa angin yang menampar pipi.

Kalian pasti berpikir, aku si malang. Tapi kalian lupa, bagi ku. Kalian lah si penderita. Memilih berjubel dengan kepadatan yang menjemukan. Menikmati sesak demi sebuah kecepatan.

Aku di sini, tertinggal dengan jumawa. Setidaknya aku tau, gerbong lain yang menjemput ku sudah menjanjikan ruang lega untuk aku dan diri ku.

Aku yang menetap dalam ketertinggalan adalah aku yang berhasil berdiri kokoh menanti kedatangan yang lain. Mungkin aku kalah cepat, tapi aku jelas tak kalah bahagia dengan kalian.

Karena pada akhirnya kita dua pihak yang berbeda. Kita memilih dan menentukan ke mana kita akan melangkah detik berikutnya. Ini bukan soal siapa yang lebih dulu beranjak atau siapa yang terpaku, ini perkara apa yang kita putuskan untuk masa depan. Masa depan kita sendiri tentunya.

na-mila

#TBPMonthly #Stay #TheBlogProject

Kepergian yang Tak Butuh Pengganti

Suatu pagi menjemput dengan sendu. Bukan karena matahari terlambat muncul di ufuk Timur atau karena dingin yang kelewat menyengat. Hanya saja ada yang berbeda dengan pagi ini. Ada sekelumit cerita di sudut telefon genggam yang terlewat.

Mengenai sebuah kabar kehilangan. Perpisahan yang mengetuk pintu sebelum siapa pun yang menerima kabar sempat bersiap diri. Meninggalkan aku dan mungkin banyak orang lainnya dalam kekosongan. Termangu pada sebait pesan yang terselip dari sebuah aplikasi dari telefon genggam terkini.

Diri pun bergegas, mengecek keberadaan ia yang ditinggalkan. Apakah ia sudah mampu melaluinya dengan berpikir jernih. Mempersiapkan diri menghadapi ia yang sedang terpuruk jauh dalam rasa kehilangannya.

Ini bulan terakhir, terselip di penghujung tahun. Biasa disuguhi kisah bahagia dan resolusi yang dipatok jelang pergantian lembaran kalender. Siapa yang menebak kali ini banyak kisah pilu di setiap pekannya. Membawa aku pada suatu kesadaran akan perpisahan yang selalu menanti di ujung jalan.

Jangan kan berada di kaki ia yang tertinggal, membayangkannya pun ternyata aku belum mampu. Siapapun yang menatap kepergian, tidak akan pernah siap. Seperti apapun ia sudah menata hati dan harinya mempersiapkan salam perpisahan itu. Apalagi ia yang belum sempat meyakini dirinya bahwa mungkin kepergian adalah jalan keluar terbaik.

Terkadang hidup membawa pada pilihan yang tidak mengizinkan kita bertanya lebih lanjut. Dulu, ketika hidup menggiring pada pertemuan dan perkenalan, kita tidak bisa bertanya, selama apa kebersamaan ini akan terajut? Tapi, ketika perpisahan menjemput, kita seolah sudah menatap masa depan yang sama, hari esok yang hidup bersama lubang kosong di hati akibat perpisahan yang meninggalkan ruang tak berpenghuni.

Pernah kah hidup bertanya akan kesiapan kita menata hari baik sebelum dan sesudah pertemuan serta perpisahan tersebut. Yang kita tahu, waktu terus berpacu. Menyisakan kita pada titik sembuh yang harus kita bangun sendiri. Tidak ada kesempatan untuk mengulang apalagi mempercepat waktu yang bergulir.

Semua lakon dan babak kehidupan sudah diatur sedemikian rupa. Hanya yang pasti, tidak ada yang akan melewati batas kemampuan kita sebagai manusia.

Mungkin kehilangan ini tidak untuk menemukan penggantinya, ruang kosong itu sudah ditinggalkan dan tidak mencari penghuni baru. Tapi masa depan akan tetap menjemput. Saatnya kita bergegas, membawa asa yang mungkin sudah dititipkan oleh penghuni terdahulu.

Siapa pun ia yang sudah pergi, pasti lah singgah dalam hari dan menitipkan harapan akan kehidupan kita yang lebih baik. Bersedih jelas tak akan mampu terhindarkan, tapi bukan kah berkutatnya dengannya tidak akan membawa kita ke mana-mana.

Kembali lagi, hidup tidak mengizinkan kita bertanya banyak. Bergegas atau terlindas. Ia yang sedang berselimut duka kepergian, ku tahu pasti akan mampu mendulang harinya esok dengan segenggam asa di masa depan. Ia tak akan lekang dalam nestapa yang berkepanjangan.

Sebab aku, si teman hari, akan terus berjalan bersisian dengan ia. Tidak untuk mencoba mengajaknya berlari meninggalkan luka tapi menemani ia menyembuhkan lukanya dan berjalan kokoh di masa depan.

Kebayoran Lama

21 Desember 2016

Untuk Emir dan Erika

Sibuk Bertanya-Tanya Pertanyaan Kosong

Kadang kamu mungkin hanya sedang bertanya-tanya. Pada diri sendiri. Apa yang sedang kamu lewati. Tapi mungkin juga kamu hanya sedang mencari jawaban. Tetap, pada diri sendiri. Tentang apa yang sudah berhasil kamu lewati.

Intinya, kamu merasa sedang berhenti pada satu titik tertentu. Bukan, bukan berarti waktu lantas ikut berhenti. Atau aktivitas lantas menjadi kosong tanpa agenda. Semua itu, waktu dan aktivitas, mereka tetap bergulir seperti biasa.

Yang menjadikannya berbeda hanya lah kehadiran mu. Dirimu sendiri. Biasanya kau utuh berdiri dan mencurahkan segenap tenaga dan pikiran mu untuk suatu waktu atau aktivitas tersebut. Tapi sekarang, kau sedang bergelut dengan pertanyaan dan pencarian jawaban yang terselip jauh di dalam permainan pikiran dan perasaan mu sendiri. Meninggalkan raga yang bergerak kosong.

Apa sebenarnya pertanyaan yang menggelayut atau jawaban yang kau cari?

Tidak seorang pun mampu menebak apalagi menjawabnya. Karena semua kembali pada dirimu sendiri. Yang tengah kehilangan keseimbangan. Merasa terombang-ambing antara waktu dan aktivitas tapi terkuras pikiran dan perasaan tanpa mendapat kepuasan yang dibutuhkan.

Ini soal pekerjaan? Nampaknya bukan. Jari dan pikiran ini tetap lincah menulis dan meramu kata untuk mewujudkan serangkum berita terhangat.

Ini soal cinta? Nampaknya bukan. Rasa yang tumbuh masih sama, sama hangat dan menggebunya seperti pertama bersama.

Ini soal kehidupan? Mungkin.

Tapi bukannya pekerjaan dan cinta adalah bagian kehidupan. Lalu aku pun berhenti dan bertanya. Apa sebenarnya kebingungan ini.

Oh, mungkin hanya kegamangan menyambut tahun yang siap berganti dan membalik lembarannya. Merefleksi pencapaian yang terasa membanggakan, tapi nyatanya terasa mencengkram. Karena kewajiban yang membuntut di belakangnya banyak belum terselesaikan.

Perjalanan tersebut masih terlampau panjang dan terjal. Tapi rasanya tidak pantas jika tidak diperjuangkan. Karena aku sudah berlabuh di titik ini.

Mungkin, ini hanya sesaat. Karena pada akhirnya waktu yang akan mendominasi. Aktivitas terus menuntut.

Pilihannya hanya dua, berpacu dan berhasil atau menyerah dan menyesal. Jelas pasangan yang kedua bukan lah bagian dari apa yang ingin aku torehkan di masa depan.

KONTAN, Kebayoran Lama

13 Desember 2016

Menenggelamkan Diri Dalam Keramaian

Di suatu sudut kedai kopi di pinggiran ibukota, terdengar tetes hujan yang saling berkejaran satu dengan yang lain di luar sana. Bunyi mesin kendaraan bermotor yang menderu pun sayup terdengar dari arah jalanan yang padat. Semua pojok kedai kopi sarat dengan pengunjung.

Ada sekumpulan muda mudi yang sedang bercengkerama di sudut terkiri, sementara aku duduk di sisi diagonal mereka. Di sebrang terlihat dua perempuan sibuk dengan laptopnya masing-masing.

Terselip suara riuh rendah percakapan orang yang berbeda topik dari segala penjuru kedai kopi. Lantunan musik berdendang sayup ke setiap sudut. Terasa pas dan tidak mengganggu kesibukan yang terus berjalan.

Belum lagi orang-orang yang datang silih berganti, memilih terus melangkah menaiki satu per satu anak tangga menuju lantai dua. Seperti yang bisa kalian tebak, lantai bebas rokok acapkali lebih ramai dan sarat penghuni daripada lantai yang bebas polusi.

Tempat ini ramai, semua sudut terlihat penuh dengan pengunjung tapi tak terdengar berisik. Jika saja kalian bertanya, aku sedang sendirian. Memilih sudut terdalam agar tak banyak yang lalu lalang dan menyadari keberadaan ku. Bukan karena aku penyendiri, tapi karena aku senang mengamati.

Ketika sibuk mengamati pilihan terbaik adalah tenggelam dalam kesunyian dan kealpaan. Belum sejam aku duduk di sini, tapi aku menangkap satu hal, sekarang mampir ke kedai kopi semakin digemari.

Mungkin ini disadari banyak orang. Hampir semua kedai kopi menjadi pilihan teratas saat ingin sekadar berkumpul atau temu sapa dengan teman dan kerabat. Apalagi jika sedang sendirian, kedai kopi jelas pilihan terbaik. Mereka menyediakan layanan internet tanpa batas, musik yang mengalun pas dan tidak memekakkan telinga serta saklar listrik di setiap sudut.

Semua kebutuhan di masa kini terpenuhi di suatu tempat di tengah keramaian ibukota. Lalu apalagi yang ingin kau cari?

Lepas semua kebutuhan terpenuhi, kedai kopi tidak menghakimi ketika kau datang sendirian tanpa seorang pun di sisi. Tidak ada yang hendak bertanya apa yang akan kau kerjakan jika hanya seorang diri.

Jika pun kau sedang beramai-ramai, tidak akan ada seorang pun yang merasa kau mengusik ketenangan mereka. Tempat ini, kedai kopi, selalu menjadi area netral. Membebaskan mu dalam keramaian yang membelenggu.

Tidak jarang kau menemukan segelas kopi yang biasa saja, terlalu manis atau terlalu pahit. Intinya tidak sesuai selera. Tapi pada akhirnya kau menyerah jika kedai kopi itu memberikan kenyamanan yang kau butuhkan.

Karena terkadang dengan tingginya kebutuhan masa kini, kau rela menukar segelas kopi yang kau idamkan dengan sebuah sudut dengan colokan listrik yang menyala atau sejejer huruf memuat kata sandi menuju kecepatan internet tanpa batas.

Layaknya hidup, kau tidak akan pernah disajikan sepiring lengkap kebutuhan dalam satu kali langkah. Walau bukan berarti hal tersebut tidak mungkin terjadi. Hanya saja probabilitasnya sangat minim. Hidup bukan lah papan gambar berisi komposisi gizi 4 sehat 5 sempurna yang dijabarkan ketika kau duduk di bangku sekolah dasar. Kadang kau memang bisa menyantap sepiring nasi dengan ikan dan ayam sekaligus tapi kau kehilangan segelas susu yang seharusnya menjadi penutup.

Pilihan ku kali ini pun tak sepenuhnya keliru, sepiring “Kentang Goreng Rumahan”, seperti yang tertera di menu, diramu pas sesuai dengan cita rasa yang aku idamkan. Walau memang segelas teh tarik yang tersaji tak seindah yang dibayangkan. Terlampau manis, kehilangan pahit teh yang seharusnya jadi penyeimbang. Setidaknya sebagian dari yang ku pesan tidak semuanya gagal.

Ditambah lagi, aku masih mendapat pojok yang ku inginkan dengan ketenangan di tengah keramaian hingga nanti seorang teman yang dinanti hadir dan menyapa.

Saudagar Kopi, Bintaro

8 Desember 2016

Menanti Caca