Rangkaian Perjalanan dan Budget Selama 12 Jam di Warsawa, Polandia

Pada perjalanan summer break kali ini, saya dan teman-teman sempat mampir ke-5 negara antara lain Polandia, Latvia, Rusia, Estonia dan Swedia. Dalam rangka ingin berbagi kisah dan pengalaman, maka saya akan membuat rangkain cerita yang runut mulai dari pilihan moda transportasi yang kami gunakan hingga budget yang kami siapkan untuk perjalanan di masing-masing kota.

img_0559.jpg

Modlin Airport, Warsawa, Polandia, 24 Juni 2018.

Kita mulai dari Polandia. Perjalanan di mulai dengan menggunakan pesawat Ryan Air yang membawa kami melintas dari Leeds-Bradford Airport di Leeds, UK menuju Modlin Airport di kota Warsawa, Polandia. Waktu tempuh perjalanan sekitar 2 jam dengan perbedaan waktu antara UK dan Polandia yakni 1 jam lebih cepat di Polandia. Untuk harga tiket pesawatnya sendiri yakni £34,67 atau sekitar Rp650.000.

Sesampainya di Polandia, mata uang yang digunakan adalah Polish Zloty. Untuk 1PLN itu sekitar Rp3.880 atau setara £0,20. Meski tergabung dalam negara di bawah perserikatan Zona Eropa, namun Polandia memiliki mata uang sendiri, sehingga ada baiknya menyiapkan PLN ketika hendak berkunjung ke Polandia, walaupun transaksi dengan menggunakan euro juga tetap bisa. Hanya saja nantinya para pedagang akan mengonversi euro tersebut menjadi PLN dan kembalian yang akan kita terima dalam bentuk pecahan PLN. Demi menghindari kerugian akibat kurs, ada baiknya menyiapkan PLN.

Dari bandara menuju pusat kota Warsawa terhitung mudah. Dari hasil googling dan mencari informasi sebelum perjalanan, maka saya mengetahui bahwa terdapat dua pilihan transportasi yang dapat digunakan untuk menuju pusat kota. Pilihan pertama adalah bus langsung dengan harga 35 PLN atau menggunakan shuttle bus dari bandara ke stasiun kereta lalu melanjutkan dengan kereta hingga ke pusat kota seharga 19 PLN. Keduanya dapat dibeli langsung dari bandara.

img_3547.png

Kereta dari bandara ke pusat kota Warsawa.

Karena tidak mengejar waktu dan mempertimbangkan harga yang lebih murah, kami memilih opsi kedua. Tiket dapat dibeli di counter penjualan tiket yang dapat langsung ditemukan saat melangkah keluar dari pintu kedatangan bandara. Atau bisa juga dengan membeli dari mesin otomatis yang tersedia di dalam area kedatangan.

Shuttle sendiri berwarna hijau kuning dan sudah menanti di depan gerbang kedatangan bandara. Tinggal duduk manis hingga nanti sampai di stasiun kereta. Setelah sampai di stasiun kereta, kita hanya perlu melihat papan petunjuk atau bertanya untuk mengetahui arah kereta yang akan menuju ke pusat kota.

Harga 19 PLN sudah termasuk kedua transportasi di atas sehingga tidak perlu mengeluarkan uang lebih. Selain itu, dari hasil pengamatan kami, warga Polandia menggunakan transportasi umum dengan asas kepercayaan dan kejujuran, sebab tidak ada pengecekan tiket di setiap sarana transportasinya.

Tujuan pertama kami adalah Central Railway Station untuk menitipkan barang-barang di luggage room. Karena memang kami tidak menyewa hostel dan akan berangkat menuju destinasi berikutnya pada malam hari, maka menitipkan barang di stasiun adalah pilihan terbaik. Sebaiknya menitipkan barang di stasiun atau halte terdekat yang akan membawa kita ke tujuan berikutnya.

img_3548.png

Tempat penitipan barang di Central Railway Station Warsawa seharga 10 PLN.

Karena memang bus yang akan membawa kami ke Riga, Latvia terletak persis di depan Central Railway Station, maka kami memutuskan menitipkan barang di situ. Biayanya sebesar 10 PLN untuk 24 jam. Ini juga harus diperhatikan dengan seksama dan ditanyakan dengan detail kepada penjaga tas. Kebanyakan memang penitipan tas berlaku 24 jam, namun ada kalanya penitipan tas memiliki jam operasional. Jangan sampai hal ini menjadi kendala untuk melanjutkan perjalanan.

Setelahnya kami berjalan kaki menuju Plac Europejski atau European Square yang berjarak sekitar 18 menit dengan berjalan kaki. Kebetulan kami sampai saat Inggris vs Panama sedang berlaga. Sembari mengistirahatkan kaki, maka kami bersantai di sana. Dengan tidak lupa membeli Dunkin Donuts yang saat itu sedang promo mengingat malamnya tim nasional Polandia akan bertanding.

IMG_0580

Tempat Nobar gratis di Warsawa

Kelar menonton pertandingan, kami pun bergerak menuju Old Town Square Warsaw yang memang merupakan tujuan utama wisatawan di ibukota Polandia ini. Biaya tiket bus yang kami gunakan untuk sekali jalannya yakni sebesar 2,2 PLN untuk sekali jalannya dan bisa digunakan secara bebas selama 75 menit tanpa perlu membeli tiket lagi. Tiket bus sendiri bisa dibeli langsung di dalam busnya. Lagi-lagi tanpa pengecekan.

IMG_3549

Tiket bus sekali jalan yang bisa dibeli langsung di dalam bus. Hanya saja untuk transaksi ini hanya bisa dilakukan dengan kartu ATM / kredit.

Old Town Square Warsaw tercatat sebagai salah satu UNESCO World Heritage Centre. Memang tidak diragukan lagi keindahannya. Namun, karena memang sudah lapar, maka kami memutuskan mencoba Restauracja Zapiecek yang memiliki banyak cabang di Polandia terlebih dahulu sebelum mengitari alun-alun kota. Berdasarkan hasil googling, ini salah satu tempat makan yang menawarkan makanan khas Polandia dengan harga yang ramah di kantong. Yang ternyata, rasanya pas di lidah.

2018-06-24 18_19_51.835 (1)

Menu sharing di Zapiecek

Untuk berhemat, kami memutuskan sharing pesanan. Tentu dengan tidak lupa mencoba Pierogi, makanan khas Polandia yang wajib dicicipi. Bentuknya seperti dumpling namun dengan varian rasa mulai dari asin hingga yang manis. Hanya saja untuk membeli Pierogi di sini dibutuhkan minimum pemesanan yakni 9 buah. Maka saya dan teman-teman memutuskan membeli 10 sehingga masing-masing dapat mencicipi 2 rasa Pierogi. Dalam catatan saya, kala itu saya membayar 16 PLN saat patungan makan di sini.

2018-06-24 18_58_35.072 (1)

Pierogi, makanan khas Polandia

Saat sedang asyik berfoto di tengah alun-alun kota, seorang perempuan memberikan dua ekor burung yang memperindah foto-foto kami. Selepas berfoto kami pun menawar harga jasa peminjaman burung yang ia berikan. Karena saat itu kami berempat maka dengan segala jurus tawar menawar yang kami miliki maka kami hanya perlu membayar 10 PLN atau 2,5 PLN per orang.

IMG_0719

Old Town Square Market Warsawa

Tentu yang tidak boleh dilupakan adalah berkunjung ke tempat souvenir. Masih dari catatan yang saya buat, saya menghabiskan 32 PLN untuk membeli satu magnet kulkas (13 PLN), satu gelas pajangan (16 PLN) dan tiga buah postcard (3 PLN). Nama tokonya sendiri yakni Souvenir City, tapi sepanjang Old Town banyak berjejer toko oleh-oleh, hanya perlu bersabar untuk mencari yang paling terjangkau.

IMG_3550

Barbican Centre di Old Town Warsawa.

Old Town Square menawarkan banyak hal yang menarik. Mulai dari Old Town Market Square, Historical Museum of Warsaw (berbayar), Sigismund’s Column (Sigismund III Vasa adalah mantan raja Polandia yang berjasa memindahkan ibukota Polandia dari kota Krakow ke kota Warsawa), melongok ke Royal Castle (yang sayangnya juga berbayar) dan tidak boleh ketinggalan mengagumi kemegahan Barbican Warszawski atau tembok Barbican yang menjadi penanda batas antara Old dan New Town Warsawa. Konon katanya tembok ini dulu mengitari seluruh kota Warsawa sekaligus menjadi tembok pertahanan kota.

IMG_0618

Sigismund’s Column terletak di tengah Old Town Square

Puas berjalan-jalan dan berfoto menikmati indahnya Old Town Square, maka dari hasil googling diketahui bahwa ada satu coklat yang wajib dibeli saat mampir ke Warsawa yakni Wedel. Saat dicari, ternyata Wedel juga memiliki restoran yang menjual eskrim dan milkshake serta dessert lainnya. Maka saya dan teman-teman pun memutuskan mencoba Wedel.

Ternyata rekomendasi yang didapat dari Google tidak mengecewakan. Rasanya luar biasa enak dan buat nagih. Selain mencoba dua jenis dessert yang ada, saya juga membeli sebatang coklat Wedel yang khas seharga 4,5 PLN. Untuk dua porsi dessert yang kami sharing bersama, saya menghabiskan 16 PLN.

2018-06-24 21_06_13.484

Sharing Dessert di Wedel

Karena malam sudah menjemput dan kami sudah harus beranjak ke stasiun untuk mengambil tas dan bersiap melanjutkan perjalanan darat ke Riga, Latvia maka perjalanan di Old Town Warsaw pun berakhir. Dengan tiket bus 5 PLN untuk bertiga dengan durasi masa berlaku 50 menit, kami pun menuju Central Railway Station lagi. Ada banyak pilihan jenis tiket transportasi yang bisa digunakan, tinggal disesuaikan dengan kebutuhan saat itu saja untuk mendapatkan yang termurah.

IMG_3551

Coklat khas Polandia yang dijual di Wedel

Warsawa merupakan kota yang ramah turis, dengan biaya transportasi yang murah dan akses yang mudah, menghabiskan waktu 12 jam di Warsawa terasa sangat singkat. Jika memiliki rejeki, saya tidak menolak untuk kembali ke sini. Hanya saja demi menghemat biaya perjalanan terutama dari sisi akomodasi, maka tidur di bus atau di perjalanan adalah opsi terbaik. Jelang tengah malam, bus yang akan kami tumpangi pun datang, siap membawa kami membelah malam dan mencapai Riga, Latvia keesokan harinya.

IMG_1532

Berfoto bersama burung di alun-alun Old Town Square ini berbayar ya

Kisah dan budget untuk kota Riga akan dilanjut di tulisan berikutnya ya. Semoga informasi yang saya bagi ini bermanfaat. Jika ada yang ingin ditanyakan, saya dengan senang hati membantu selama saya bisa.

Catatan Tambahan:

Sepanjang perjalanan di Warsawa, saya menghabiskan sekitar 115 PLN atau setara £23,50 atau Rp450.000. Penting untuk membuat itinerary perjalanan sehingga waktu akan terkontrol dan tujuan sudah lebih jelas daripada menghabiskan waktu untuk googling dan mencari informasi di lokasi. Tentunya dengan penyesuaian dengan kondisi di tempat ya, setidaknya memiliki itinerary akan membantu menjadi panduan selama perjalanan. Terutama bagi yang memiliki waktu dan budget yang terbatas.

Link ini juga berguna untuk referensi transportasi di kota Warsawa.

Selain itu, penting juga untuk mengecek tempat makan murah di daerah yang akan dikunjungi. Tentunya lapar tidak bisa ditunda kan, sementara keinginan untuk mencicipi makanan khas lokal juga bergejolak. Satu tips yang bisa saya bagi untuk mengakali hal ini saat merancang budget di awal adalah mematok budget seharga standar makan di restoran sedang atau menengah ke atas.

Gambaran, saya membuat budget sekali makan sebesar 25 – 30 PLN, nyatanya nanti lebih murah dari itu tentu akan menjadi bekal tambahan untuk membeli souvenir kan hehehe. Budget tersebut jauh di atas harga makanan murah, sebagai patokan, sekali makan di McD yakni paket burger lengkap dengan kentang hanya 6 PLN.

Untuk SIM Card sendiri, saya dan teman-teman tidak perlu membeli SIM Card lokal karena SIM Card UK mayoritas sudah langsung terhubung otomatis dengan negara-negara di zona Eropa tanpa biaya tambahan. Saya sendiri menggunakan SIM Card ID Mobile, dua orang teman menggunakan provider Three (3), seorang menggunakan O2 dan satu lainnya menggunakan Lyca Mobile. Semuanya aktif saat itu juga tanpa terkena biaya tambahan. Hanya perlu memastikan kuota data yang dimiliki cukup.

Siapkan juga google translate yang sudah didownload full dari rumah untuk bahasa yang dibutuhkan. Sehingga bisa digunakan saat offline, selain untuk menghemat paket data, juga berguna untuk menghemat baterai handphone.

Advertisements

Tiga Kesempatan Berbeda Menonton Pertandingan Langsung di Kandang Tim yang Berlaga

Masih bertema Piala Dunia 2018, tulisan ini akan membahas rejeki lain yang di dapat sepanjang perjalanan. Pertama, memang tujuan saya dan teman-teman adalah menonton pertandingan Piala Dunia langsung di Rusia. Namun tanpa disangka kami malah diberikan rejeki lebih dengan berkesempatan menonton pertandingan negara-negara yang kebetulan kotanya sedang kami kunjungi, langsung dari “rumahnya”.

Bermula dari sesampainya kami di Warsawa, Polandia pada 24 Juni 2018 lalu. Saat itu tanpa disangka Polandia juga akan tanding di hari yang sama. Kami menyadari hal itu ketika sesampainya di halte bus dan selepas meletakkan barang-barang di luggage room, kami melewati stand penjaja Dunkin Donuts.

Terpampang tulisan “buy 6 donuts, gratis another 6 donuts on the match day”. Penasaran dan tertarik terutama pada donat-donat berlambang bendera Polandia dan berhiaskan lapangang sepak bola, kami pun mendekati stand tersebut. Ternyata benar, malam itu, Polandia akan berhadapan dengan Kolombia.

img_0575.jpg

Donat bertema Piala Dunia, Warsawa, Polandia.

Salah seorang teman perjalanan saya mengetahui bahwa ada tempat outdoor yang biasa dijadikan warga Polandia lokasi nonton bareng Piala Dunia tidak jauh dari halte bus. Fan zone tersebut bernama Plac Europejski atau European Square. Dengan bangku-bangku pantai dan layar besar, para penikmat Piala Dunia akan menemukan kenyamanan di tengah kota Warsawa.

Hari itu pula, saya menyaksikan warga Polandia yang bermuram durja. Bukan hanya karena Polandia kalah, tapi juga pupusnya kesempatan Polandia melanjutkan ke babak – 16 besar.

Bergeser ke kota selanjutnya, pada 1 Juli 2018, saya sedang berada di kota Moscow. Sore itu, saya dan teman-teman sedang mengunjungi Museum of Cosmonautics. Pesimis rasanya mengharapkan bisa menonton pertandingan Spanyol vs Rusia kala itu karena posisi kami tidak memungkinkan.

Ternyata, Allah SWT punya cerita lain. Di dalam museum terdapat Cinema Hall yang biasa dijadikan tempat memutar film-film bertema cosmonautics yang ternyata pada hari itu berubah menjadi tempat nonton bareng dadakan. Kami pun bergegas mengambil tempat dan ikut menonton pertandingan.

2018-07-01-18_22_07-532.jpg

Nobar Rusia vs Spanyol di Cinema Hall, Museum of Cosmonautics

Lepas babak pertama, museum memasuki jam tutup. Saya dan teman-teman segera bergegas menuju Red Square untuk mencari tempat menonton kelanjutan pertandingan yang sedang sengit-sengitnya.

Keputusan tepat, karena sesampainya kami di sana, perpanjangan waktu 15 menit kedua baru akan usai. Lepas babak drama penalti, kami pun menyaksikan warga Rusia bersuka cita atas keberhasilan tim Rusia melenggang ke babak – 8 besar. Red Square bergemuruh, semua orang tumpah ke jalan, mobil-mobil di jalanan berlomba membunyikan klakson, bendera Rusia berkibar di seluruh penjuru pusat kota.

Suasana yang sulit digambarkan, dari menikmatinya hingga lelah dikerubungi ratusan bahkan mungkin ribuan orang. Hingga akhirnya kami memilih meninggalkan pusat kota dan pulang ke hostel.

Processed with VSCO with c1 preset

Red Square, Moscow, pasca kemenangan Rusia atas Spanyol.

Terakhir, 7 Juli 2018. Di hari terakhir perjalanan liburan kali ini, kami sedang berada di Stockholm, ibukota Swedia. Kebetulan, Swedia siap berlaga dengan Inggris di babak delapan besar. Meski hanya sempat menonton babak pertama karena kami harus segera bergegas ke bandara, namun suasana riuh rendah warga Swedia yang siap mendukung tim nasionalnya bertanding sore itu tidak terelakkan.

Sejak siang sekitar pukul 1 waktu Swedia, seluruh transportasi dalam kota sudah dipenuhi dengan pendukung Swedia berbaju kuning. Begitu pun di jalan-jalan di pusat perbelanjaan. Meski akhirnya Swedia takluk 0 – 2 atas Inggris, namun ada sesuatu yang menarik.

Sehari sebelumnya, kami sedang menikmati pusat kota Stockholm dan bersiap nonton bareng pertandingan Brasil vs Belgia. Namun sepanjang perjalanan sangat sulit menemukan tempat nobar. Ada beberapa restoran dengan tv yang sudah tampak sesak, namun selebihnya restoran dan kafe terlihat santai tanpa kericuhan para penonton setia Piala Dunia.

Kami sempat berpikir mungkin tidak banyak nobar yang diselenggarakan di Stockholm atau warganya lebih memilih menonton di rumah. Jelas ini hanya asumsi belaka tanpa dilandasi fakta yang kuat. Namun nyatanya, di hari Swedia akan bertanding, suasana kota mendadak berubah total.

2018-07-07-15_57_19-481.jpg

Rombongan pendukung Swedia sebelum pertandingan Swedia vs Inggris, Stockholm, Swedia.

Para penonton Piala Dunia memadati jalan dan suasana menjadi semarak. Bahkan ada beberapa restoran yang menyediakan menu khusus saat match day. Pada satu kesempatan, kami malah sempat melewati antrian panjang yang mengular penonton berbaju kuning-kuning hendak memasuki suatu gedung.

Suasana semarak tersebut bertambah manis dikenang karena kami berkesempatan merasakan nuansa dan semangat warga yang siap mendukung tim nasionalnya hendak berlaga di ajang sepak bola paling bergengsi sejagat raya. Meski warga Indonesia merupakan pecinta bola, mungkin suasana seperti ini sulit dicari mengingat belum adanya kesempatan tim nasional kita berlaga di Piala Dunia.

Pengalaman ini mungkin terkesan biasa, tapi percaya lah jika kamu menikmati Piala Dunia dan ajang sepak bola bergengsi lainnya, ada syukur yang tak putus dapat membaur dengan ratusan penonton lainnya terutama bersama mereka yang siap mendukung tim nasionalnya berlaga.

Ada semangat yang membara, harap yang tinggi dan semarak yang gegap gempita. Kenangan lain yang pantas mendapat tempat khusus di ingatan, patut disyukuri dan diabadikan, salah satunya lewat tulisan ini.

IMG_0580

Bersiap nobar di European Square, Warsawa, Polandia.

Stockholm, 7 Juli 2018. – NDN.

Hingga akhirnya mengantongi tiket Piala Dunia 2018

Masih menyambung tulisan sebelumnya. Saya akan mencoba menjabarkan proses pembelian tiket dan pengurusan dokumen penunjang Piala Dunia 2018 di Rusia kali ini.

IMG_1302

Tiket pertandingan Jepang vs Polandia, Group H Match, Volgograd Arena, Rusia, 28 Juni 2018.

Semua bermula di November 2017 lalu. Saat itu sepanjang periode 16 – 28 November 2017, melalui website resmi FIFA dibuka lah gelombang “First Come First Served” pertama. Antrian dibuka pada pukul 09.00 BST (karena saya memang tinggal di Leeds, jadi waktunya saya sesuaikan dengan tempat saya berada). Setelah masuk dalam antrian, saya harus menunggu sekitar 3 jam untuk bisa mengakses laman pembelian tiket.

Screenshot (2)

Antrian yang terpampang saat mengakses laman pembelian tiket World Cup 2018

Perlu diingat saat berniat membeli tiket pertandingan, kita sudah harus memiliki akun di website resmi FIFA. Setelahnya tinggal log in dan mengikuti arahan sebagaimana yang tertera pada website.

Namun rejeki ternyata tidak berpihak pada saya. Saat saya berhasil mengakses laman pembelian, tiket yang tersisa tinggal kategori 1 dan 2 yang mana jauh di atas budget saya. Sayangnya, saya tidak bisa ingat berapa harga tiketnya saat itu.

Peruntung kedua pun saya lakukan dengan mengikuti “Random Selection Draw” fase kedua periode 5 Desember 2017 – 31 Januari 2018. Prosesnya adalah kita tinggal memilih pertandingan yang ingin kita tonton, lalu melakukan request. Nantinya FIFA akan mengumumkan apakah kita mendapatkan tiket yang kita ajukan. Setelah itu baru pembayaran akan dilakukan dengan langsung menarik dana dari rekening tabungan yang sudah kita daftarkan.

Lagi, rejeki belum berpihak pada saya. Kala itu saya mengajukan request untuk Match ke – 51 yang jika dilihat sekarang adalah pertandingan Spain vs Russia di Moscow pada babak 16 besar lalu.

Saya tidak putus semangat. Memasuki periode 13 Maret – 3 April 2018, FIFA kembali mengadakan “First Come First Served” fase kedua. Saya dan teman-teman pun mencoba peruntungan sekali lagi.

Kali ini rejeki berpihak pada kami. Setelah mengantri sekitar 2 jam dan menunggu dengan cemas, akhirnya kami berhasil mengantongi tiket kategori 3, Jepang vs Polandia untuk tanggal 28 Juni 2018 di Volgograd Arena. Harga tiket sendiri adalah 115 USD atau sekitar 72 GBP.

Rencana awal kami memang mengincar pertandingan di kota Moscow atau St. Petersburg sehingga akan meminimilasir budget perjalanan ke kota lainnya. Namun persaingan untuk kedua kota tersebut sangat ketat. Sehingga sebagai gantinya kami menghemat biaya akomodasi selama perjalanan dan memilih menghabiskan waktu di perjalanan selama trip kali ini.

Setelah tiket berhasil dikantongi. Langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah membuat FAN ID. Hanya saja, pada tahap ini kami sedikit lengah. Mengingat waktu yang bertepatan dengan libur musim semi. Kami semua sibuk menikmati liburan dan meninggalkan kewajiban untuk membuat FAN ID.

Screenshot (3)

Website untuk pembuatan FAN ID

Kebutuhan membuat FAN ID ini berkaitan dengan kemampuan untuk memilih dan mereservasi tiket transportasi gratis antar kota di Rusia dari FIFA. Singkat cerita, kami baru membuat FAN ID sekitar akhir April 2018.

Pembuatan FAN ID terhitung mudah. Kita tinggal mengakses website FAN ID, lalu memasukkan nomer tiket pertandingan yang sudah kita miliki kemudian mengisi data diri pada kolom-kolom yang tersedia. FAN ID ini juga berlaku sebagai visa Rusia bagi warga internasional.

Sebagai informasi, visa Rusia berbeda dari Schengen. Meski terletak di kawasan Eropa namun untuk berkunjung ke Rusia kita membutuhkan visa tersendiri. Proses pengajuan visanya sendiri (dari UK) memakan waktu sekitar 1 bulan dengan biaya 90 USD. Selain itu, bagi warga negara Indonesia hanya dapat mengajukan visa single entry. Sehingga pilihan ini cukup menguras isi kantong.

Untungnya, FIFA memberikan solusi dengan mengeluarkan kebijakan FAN ID. Halaman depan FAN ID berbentuk seperti tanda pengenal pada umumnya, dengan nama dan foto diri. Sedangkan pada halaman belakangnya terdapat visa resmi Rusia bagi sang pemilik data diri.

Keuntung lainnya memiliki FAN ID adalah kita bisa melakukan multiple entry ke Rusia sepanjang 5 Juni – 25 Juli 2018 (atau selama World Cup berlangsung ditambah 10 hari di awal dan 10 hari di akhir).

Imbas dari keterlambatan membuat FAN ID, transportasi gratis antar kota yang kami incar dari Moscow – Volgograd sudah full booked. Kami pun menunggu hingga akhir Mei 2018, berharap ada penonton yang membatalkan tiketnya sehingga tersisa kursi kosong bagi kami. Namun, karena tak ada tanda-tanda menjelang awal Juni 2018 kami pun memutuskan membeli tiket kereta sebagai salah satu alternatif termurah ke Volgograd.

Tiket kereta kami beli melalui website resmi perusahaan kereta api milik negara Rusia atau RZD Russian Railways. Mengingat perjalanan memakan waktu sekitar 24 jam, kami memutuskan membeli tiket dengan tempat tidur seharga sekitar 30 GBP.

Kelar urusan transportasi, dibutuhkan waktu sekitar 1  – 2 minggu hingga akhirnya FAN ID sampai ke rumah. Pilihan lainnya, FAN ID bisa diambil di FAN ID Center yang tersebar di seluruh kota pertandingan di Rusia. Namun mengingat FAN ID ini merupakan visa untuk masuk ke Rusia maka kami memilih dikirim ke rumah. Tanpa biaya tambahan.

Sedangkan untuk tiket pertandingannya sendiri juga dikirim ke rumah dan baru tiba di awal Juni 2018 lalu. Keduanya harus dibawa serta kemana pun kita berada saat masuk ataupun berada di Rusia.

Masih banyak keuntungan yang bisa didapat dari penggunaan FAN ID. Tapi akan diceritakan dalam tulisan selanjutnya ya. Meski Piala Dunia 2018 sudah sisa beberapa pertandingan, semoga tulisan ini cukup memberikan gambaran jika kalian berencana membeli tiket Piala Dunia 2022 di Qatar.

Pelajaran dari semuanya, sebaiknya mencari informasi sebanyak-banyaknya terlebih dahulu sebelum fase pembelian tiket dibuka. Setelah itu, banyak membaca dan mencari tahu kebutuhan penunjang lainnya. Mulai dari visa, tiket transportasi hingga akomodasi. Sebagai gambaran, hampir semua tiket transportasi dan akomodasi di Rusia terutama di kota-kota yang menyelenggarakan pertandingan, harganya naik 2 – 3 kali lipat dari harga biasa.

Maka ada baiknya perjalanan disusun dari jauh hari. Semakin cepat perencanaan dilakukan, maka eksekusi membeli tiket dan menyewa hotel atau airbnb bisa dilakukan dengan segera. Tidak sedikit para penonton asing yang kehabisan tiket transportasi antar kota atau harus membayar berkali lipat demi tempat tinggal. Tentunya lebih hemat akan lebih baik kan?

32A7723B-535F-4AB3-8710-A0606116BBB1

FAN ID

Saint Petersburg, 4 Juli 2018. – NDN.

Berikut link tiket FIFA, pembuatan FAN ID dan tiket kereta antar kota Rusia:

FIFA: https://www.fifa.com/worldcup/

FAN ID: https://www.fan-id.ru/

RZD: http://www.rzd.ru

Mimpi itu terwujud di Volgograd, Rusia.

Ada beberapa hal terkait rejeki yang selalu saya yakini dalam setiap langkah yang saya ambil. Bahwa rejeki sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah SWT dan tidak pernah datang terlambat. Bahwa mimpi dan harap akan menjadi nyata lewat usaha dan doa yang tak pernah putus. Bahwa kita tidak akan pernah tahu kapan satu atau sekian dari mimpi kita sudah di depan mata.

LRG_DSC00720

Bersama Maskot Piala Dunia 2018, Zabivaka, Fan Fest Volgograd, Rusia.

Sebagai gambaran, pada masanya, papa mencekoki saya menonton Piala Dunia 1998. Saat itu saya yang masih berumur tujuh tahun memilih sesukanya untuk mendukung tim Itali karena mereka berbaju biru, kebetulan saya suka biru. Berlanjut ke Piala Dunia 2002, saat itu sudah cukup besar untuk menilai berdasarkan pemain-pemain yang memiliki wajah tampan.

Masih terpatri jelas diingatan, para pemain Itali saat itu mayoritas gondrong, dengan jambang yang menggoda. Siapa yang tak ingat jejeran difensore andalan Azzurri yakni Cannavaro, Nesta, Maldini dan Zambrotta atau sepasukan attacante yang digawangi Vieri, Del Piero, Inzaghi, Totti, Montella dan Delvecchio. Semua idola pada masanya. Itu juga kali pertama saya menitikkan air mata ketika Itali tersingkir dari Piala Dunia ketika kalah dari sang tuan rumah, Korea Selatan.

Kenangan bahagia sekaligus menyedihkan bagi saya adalah kemenangan Itali di Piala Dunia 2006. Saat itu bertepatan dengan masuknya saya ke sekolah berasrama di SMA Presiden. Saya ingat jelas, pertandingan terakhir yang berhasil saya tonton waktu itu adalah Itali vs Ukraina dengan skor 3-0 untuk Itali. Setelahnya saya masuk ke asrama tanpa akses televisi, koran, majalah bahkan handphone. Saya putus komunikasi dengan dunia luar.

Namun ketika orang tua saya mengantar saya ke asrama, mama sempat menitipkan pesan pada salah satu guru SMA saya bahwa saya adalah penggemar Itali dan sedang menantikan kelanjutan perjalanan Itali di Piala Dunia. Saya ingat betul, seminggu setelahnya, pagi hari ketika selesai apel pagi dan beraktivitas di sekolah, guru tersebut, memanggil saya ke ruangannya. Mengabarkan bahwa Itali berhasil menggondol gelar juara Piala Dunia 2006.

Perasaan saya membuncah hebat, antara bahagia dan sedih membaur jadi satu. Kesedihan datang karena saya membenci kenyataan bahwa saya melewatkan kemenangan bersejarah itu, ketika Totti, pemain yang saya idolakan, berhasil mengangkat piala namun saya melewatkan momen itu. Meski setelahnya saya sudah belasan kali menonton tayangan ulang atau cuplikan pertandingannya, namun rasanya tentu tak sama.

Piala Dunia 2010 dan 2014 ternyata tak berbuah manis bagi Itali, Azzurri bahkan tak lolos babak penyisihan. Pemain-pemain yang dulu saya nanti kehadirannya di layar kaca pun satu per satu gantung sepatu.

Hingga akhirnya di tahun 2018, saya melihat kesempatan untuk menonton langsung Piala Dunia. Hal ini bukan lah rencana satu malam, sejak tahun 2016, ketika saya tahu, saya akan mengejar mimpi saya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang S2 di Britania Raya, saya sudah membidik Piala Dunia 2018 yang akan diselenggarakan di Rusia.

Saya menabung dengan giat, memupuk mimpi sekali dua. Menjadikannya target yang akan saya usahakan dan selipkan dalam doa yang tak putus. Keduanya berhasil. Keduanya dipenuhi oleh Allah SWT. Namun satu yang luput dari doa saya, menonton Itali di Piala Dunia.

Allah SWT punya skenario lain. Hari ini saya menulis tulisan ini di St. Petersburg, Rusia. Namun tahun ini pula, Itali gagal masuk ke Piala Dunia untuk pertama kalinya setelah 60 tahun. Ada kekecewaan yang besar. Lagi, saya tak berjodoh menonton langsung negara yang saya dukung 20 tahun terakhir.

Namun saya tak ingin berlarut, tiket World Cup tetap saya beli, perjalanan tetap saya rancang sedemikian rupa. Tak pernah ada rejeki yang tertukar, sepanjang setahun terakhir, Allah mengabulkan puluhan atau bahkan ratusan doa yang saya selipkan.

IMG_1445

Volgograd Arena, 28 Juni 2018. 

28 Juni 2018 kemarin, saya melangkah masuk ke Volgograd Arena, Rusia. Memegang tiket pertandingan Jepang vs Polandia. Rejeki yang mungkin tak akan terulang. Menjadi bagian dari kerumunan penggemar bola dari seluruh dunia. Turut serta dalam perhelatan yang dinantikan seantero belahan bumi empat tahun sekali. Apalagi yang bisa saya ucapkan selain bersyukur dan mengucap Alhamdulillah.

Itu jelas bukan kali pertama saya masuk ke stadion bola. Dulu, saat piala AFF tahun 2010 saya pernah menonton Indonesia di Gelora Bung Karno. Atau jika pun tidak menonton bola, saya pernah ikut tur stadion Manchester United, di Old Trafford, Manchester 2017 lalu. Namun, kali ini rasanya berbeda. GBK rumah, saya bisa kapan pun menonton pertandingan bola di sana. Manchester hanya berjarak 45 menit dari rumah kedua saya di Leeds.

Namun Volgograd, terletak di Rusia. Negara yang bahkan tak pernah sekalipun masuk ke dalam daftar negara yang saya patok untuk dikunjungi. Mengingat sulitnya imigrasi di negara ini. Apalagi menonton Piala Dunia. Jauh sekali rasanya.

Saat saya sampai di depan stadion, saat itu lah saya semakin yakin, rejeki dari Allah tak pernah tertukar dan datang terlambat. Meneguhkan hati saya bahwa tak pantas rasanya mengubur mimpi, rawat lah, biarkan ia tetap hidup, agar kaki ini terus melangkah. Usaha dan doa yang tak putus akan membawa kita satu langkah lebih dekat dengan mimpi itu.

IMG_1362

Japan vs Poland, Group H Match, Volgograd, Rusia.

Tak masalah memiliki mimpi setinggi langit, bocah berusia 11 tahun yang dulu menangis di depan tv karena tim idolanya kalah dan tersingkir, pernah menancapkan harap dalam diri untuk suatu hari berangkat dan menonton Piala Dunia langsung agar dapat membaur dan meneriakkan semangat bagi timnya dengan puas. Hari ini, anak perempuan itu berhasil berteriak puas, meski bukan mendukung tim andalannya.

IMG_1230

Saya pun masih yakin, suatu hari di masa depan, saya akan bisa menonton pertandingan Itali. Tak harus di ajang Piala Dunia. Saya akan terus memupuk harap itu karena saya yakin Allah SWT sudah punya rencananya sendiri untuk saya. Yang bisa saya lakukan adalah memupuk harap itu, merawatnya, berusaha dan berdoa dalam upaya mewujudkannya.

Saint Petersburg, 3 Juli 2018 – NDN.

Sambut Idul Fitri Tanpa Kumandang Takbir dan Sepasukan Keluarga Nainggolan

Ternyata yang berat itu bukan puasa 18 jam di negeri orang, tapi melewati malam lebaran tanpa takbiran dan sepaket keluarga yang selama ini tidak pernah terlewatkan. Percayalah, puasa sepanjang itu tidak ada artinya daripada melewati malam jelang Hari Raya Idul Fitri dalam keramaian tanpa suara takbir berkumandang dan hangatnya kebersamaan di ruang tamu keluarga.

Saya sudah berkali-kali tinggal jauh dari rumah, melewati malam di kamar kos atau kamar asrama sendirian juga pernah. Tapi satu yang saya sadari, saya tak pernah sekalipun lebaran sendirian. Apalagi kini di luar negeri. Di negara yang suara Adzan pun tak boleh berkumandang nyaring.

Ada satu titik di hati yang terasa kosong. Saya memilih menanggalkan perasaan nelangsa itu dengan memutar suara takbir dari YouTube. Bahkan rasanya tergetar hati ketika mendengar suara takbir yang berkumandang dari rekaman teman-teman di tanah air melalui aplikasi instastory di Instagram. Dari lubuk hati anak rantau ini saya ingin mengucapkan terima kasih yang besar bagi teman-teman yang mungkin tidak pernah berpikir sejauh itu. Bahwa takbir yang kalian rekam sudah berhasil menghangatkan hati saya dan mungkin juga teman-teman lainnya di belahan dunia manapun.

Saya selalu menikmati suara takbir yang berkumandang, saat-saat rusuh bangun tidur pagi dan berburu ke masjid dekat rumah untuk ikut Sholat Idul Fitri, bergegas pulang dan membantu mama menghangatkan tauco, balado, lontong dan sayur lodehnya, mengantri berbaris untuk saling bermaaf-maafan dengan Papa, Mama, Igon, Biela dan Putri, berbagi lontong dengan tetangga dan para satpam di sekitar komplek hingga berebutan foto lebaran di dalam rumah.

Bahkan ketika menuliskan ini, perasaan hangat dan rindu itu membuncah hebat. Ternyata, ada satu nikmat lain yang selama ini tidak saya sadari besarnya karena saya terbiasa mendengarnya, yakni, kumandang takbir. Ternyata, lebaran tanpa takbir sekosong ini.

Tapi, ini hari kemenangan. Tak ada nikmat yang luput. Mungkin kali ini tak ada suara takbir yang menggema dan keluarga Nainggolan di sisi, tapi Allah SWT memberikan teman-teman yang rela menghabiskan malam bersama dalam senda gurau, sembari sesekali mendengarkan kumandang takbir dari alat pengeras suara. Sekecil apapun hangat yang mengalir dalam hati mu, itu rejeki yang harus disyukuri.

Ada cerita dan pengalaman lain yang akan menjadi bekal kisah di masa mendatang. Bahwa beruntung dan bersyukur lah siapapun yang menghabiskan malam jelang Idul Fitri dalam balutan gema takbir yang tak putus dari masjid sebelah rumah. Terlebih, saat masih berkesempatan sungkem dan memohon maaf langsung dengan bersimpuh di bawah kaki kedua orang tua mu. Karena nikmat-nikmat yang mungkin selama ini sudah terasa seperti ritual itu akan meninggalkan ruang hampa saat tak sempat dilakukan karena terhalang jarak, ruang dan waktu.

Mohon maaf lahir batin atas segala salah dan khilaf yang sengaja maupun tidak. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439H bagi teman-teman yang merayakan. Selamat berkumpul dengan keluarga dan menikmati lontong nikmat. Selamat liburan semuanya! Semoga kita diberikan kesehatan dan umur yang panjang untuk bertemu dengan Ramadhan di tahun depan. Aamiin. – NDN.

2018-06-14 22_23_26.084

Malam Takbiran Menyambut Idul Fitri 1439H, Leeds, 14 Juni 2018.

Bagi Para Pejuang LDR di Luar Sana

Suatu sore yang cukup terang benderang di Leeds, ada seorang teman dekat yang mengirimkan sebuah tulisan. “Tiba-tiba gue kebayang para pejuang kece LDR dan jadi nulis ini sambil mikirin perjuangan keras Nami dan Emir yang kece juga,” katanya waktu itu melalui pesan singkat.

Tergugah dengan barisan kata-kata indah yang ia hasilkan dari buah pikirannya kala itu, saya pun mengucap janji untuk menayangkannya di blog ini.

Karena sungguh, jauh itu bukan perihal jarak.
Jauh ialah waktu.

Jauh adalah untuk seluruh waktu yang tidak sempat kita habiskan bersama.
Jauh adalah untuk seluruh waktu ketika kamu bersinar bersama rembulan dan aku tersengat matahari yang malu-malu.
Jauh adalah saat-saat kamu letih dan berpeluh karena hidup, sementara aku terbuai di masa lelap yang pekat.

Waktu adalah pudar
Dan jauh itu kamu

Lantas kita menjadi nanar yang pendar
Dan perlahan hilang bersama waktu

Leeds, 1 May 2018
Daina.

Tulisan ini pantas disebarkan, tidak hanya bagi saya, tapi bagi siapapun di luar sana yang sedang menerjang perbedaan waktu dan jarak. Karena mungkin ruang tak lagi kita bagi bersama, tapi tak lantas hati berhak mengalah.

Terima kasih, Daina! 🙂

IMG_9367

Manisnya Coklat dan Kota York

York. Sebuah kota yang terletak di bagian Timur Laut Inggris ini merupakan salah satu destinasi favorit pelajar Leeds. Selain jaraknya yang terbilang dekat, tiket kereta ke York terhitung ramah di kantong mahasiswa. Sedikit gambaran, dari Leeds Train Station ke York Train Station berdasarkan keterangan Google berjarak 383,02 km atau sekitar 23,8 miles.

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.00 (1)

Pemandangan saat berjalan dari York Station ke York Minster

Biasanya mahasiswa dengan keanggotan railcard hanya perlu membayar kisaran £3 – £5 untuk sekali perjalanan (semua bergantung waktu keberangkatan). Bahkan ketika perjalanan ke kota lain harus dibeli jauh hari untuk mendapatkan harga yang lebih murah, ke York hal tersebut nyaris tidak perlu dilakukan. Walau bukan tidak mungkin terjadi hal-hal anomali seperti saat harga tiket berada di atas kisaran £7 untuk sekali jalannya atau ketika tiket kereta nyaris penuh di setiap keberangkatan.

Ditambah lagi, perjalanan ke York hanya memakan waktu kurang lebih 30 menit. Sehingga tidak perlu bangun terlalu pagi untuk bisa menikmati hari di York.

Meski tidak bisa dipungkiri, ada nilai lain yang harus dibayar dengan mudah dan murahnya perjalanan ke York. Tempat-tempat menarik untuk dikunjungi seperti York Minster, York Castle, Yorkshire Museum, York’s Chocolate Factory dan Jorvik Viking Centre memiliki tarif tiket masuk yang biasanya mayoritas museum di UK free of charge. Sehingga biasanya dijadikan alternatif adalah mengunjungi tempat-tempat tersebut dan hanya berfoto di bagian luarnya.

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.03

York Castle

Untuk Yorkshire Museum memiliki area taman yang cukup luas di bagian depannya, jika sudah sampai di sana tidak ada ruginya berhenti sesaat, membeli kopi atau coklat hangat dan bersantai di sudut taman. Pemandangannya menenangkan khas taman dan bangunan-bangunan Britania Raya.

Satu yang terngiang pasti saat berkunjung ke York, wangi coklat yang menguar di udara dengan mudahnya tercecap oleh indera penciuman. Hal ini terhitung wajar karena disepanjang city centre York, mata kita akan dimanjakan dengan deretan toko-toko yang menjual coklat dan makanan manis lainnya.

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.01

Jika menilik dari keterangan yang dimuat di laman York’s Chocolate Factory, disampaikan bahwa jika mayoritas kota-kota bagian Utara Inggris dikenal sebagai penghasil wol, kapas dan baja maka York menjadi satu-satunya kota yang menjadikan coklat sebagai tulang punggung perekonomiannya (York’s Chocolate Story).

Salah satu merk coklat no. 1 di York adalah Rowntree’s yang berjaya di awal tahun 1920-an. Setahun setelahnya dikenal sebagai masa kejayaan coklat di York dengan hadirnya beberapa merk coklat terkenal di bawah Rowntree’s seperti Black Magic Blackbox (1934), KitKat (1935), Aero (1935), Dairy Box (1937), dan Smarties (1937) yang waktu itu membawa coklat menjadi icon penting kota York (YorkMix, 2014). Beberapa nama coklat tersebut tentu tidak lagi asing di telinga kita hingga saat ini.

Pastikan, ketika berkunjung ke York untuk membeli coklat atau setidaknya membeli makanan manis untuk menuntaskan selera yang sudah terusik sejak melangkah keluar dari stasiun kereta York. Salah satu daerah yang banyak memberikan pilihan coklat di York adalah Shambles.

Selain membeli coklat, bagi pecinta Harry Potter mungkin akan menemukan surga kecil di beberapa toko di ujung jalan Shambles yang menjual aksesoris beratribut sang penyihir kebanggaan UK tersebut. Salah satu toko yang menjadi incaran turis yang berkunjung ke York adalah The Shop That Must Not Be Named. Konon berdasarkan penuturan seorang teman yang menyukai Harry Potter nama ini mengingatkan ia pada Lord Voldemort yang dikenal sebagai He Who Must Not Be Named. (Sebagai disclaimer, saya bukan lah penggemar Harry Potter bahkan belum pernah sekali pun menonton film atau membaca buku Harry Potter hingga tuntas).

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.01.59 (1)

The Shop That Must Not Be Named, Shambles York

Biasanya ketika berkunjung ke toko tersebut, saya selalu menyempatkan melirik toko teh disebrangnya. “Hebden Tea Company” namanya. Setiap harinya mereka menawarkan dua hingga tiga rasa teh yang bisa dicicip secara gratis. Jika ingin membeli segelas pun harganya cukup terjangkau yakni sekitar £1,20 – £1,50. Bagi pecinta teh juga bisa membeli dalam ukuran lebih banyak dengan hitungan per gram.

Informasi lainnya yang banyak disampaikan oleh teman-teman penggemar Harry Potter, Shambles adalah kawasan yang menjadi inspirasi dari terciptanya Diagon Alley yang tersohor (BBC UK, 2017). Jadi, jangan heran kawasan sempit sarat toko ini akan semakin penuh sesak dengan jejeran orang-orang yang berlomba foto di lorongnya yang mirip Diagon Alley ini.

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.01.59

Shambles, York

Bagi mereka yang mungkin seperti saya (walau kemungkinannya begitu kecil), bukan penggemar Harry Potter, tempat ini sangat cantik dan menarik untuk dikunjungi. Ditambah lagi, kita bisa melanjutkan perjalanan ke Shambles Market York. Kawasan pasar ini menjajakan mulai dari buah, sayur, kue, kopi, sandwich hingga pernak pernik unik yang sayang untuk dilewatkan. Pasar ini buka setiap hari dari pukul 7 am – 5 pm (Shamblesmarket.com).

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.01.58

Shambles Market, York

Alternatif lain, kita bisa berkunjung ke salah satu museum yang menjadi andalan York namun kali ini tanpa biaya masuk alias gratis yakni National Railway Museum. Awalnya, saya berpikir tidak akan banyak waktu yang bisa dihabiskan di sana, namun nyatanya alokasi waktu sejam terhitung kurang.

Banyak hal menarik untuk dilihat selain juga area museum yang cukup luas membuat kita membutuhkan waktu untuk berpindah dari satu area ke area lainnya. Bagian yang paling menarik minat saya selain area Great Hall adalah Station Hall. Dengan tampilan khas stasiun-stasiun kereta api di UK, koleksi gerbong yang pernah digunakan keluarga dan staff kerajaan hingga tersedianya area kafetaria di bagian tengahnya. Suasana yang kental dengan nuansa Britania Raya membuat ruangan ini langsung menjadi favorit saya dari keseluruhan area museum.

 

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.04

Station Hall, National Railway Museum, York

 

Karena pusat kotanya yang terhitung kecil maka akan banyak waktu untuk bersantai dan menikmati keindahan kota dengan duduk santai disalah satu coffee shop. Saran saya, jika berkunjung di musim semi atau panas, sebaiknya manfaatkan cuaca yang cukup hangat (meski tentu tidak ada yang menjamin suhu udara di UK), untuk menyesap segelas kopi atau teh atau hanya duduk di sepanjang kanal yang membentang di tengah kota York.

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.02 (1)

Saya pribadi sangat menikmati momen tersebut. Ada titik di mana riuh rendah kota berpadu dengan ketenangan pemandangan yang indah membawa kesenangan yang tidak terkatakan. Relaksasi sederhana dan tidak menuntut banyak energi. Bahkan bisa dilakukan seorang diri.

 

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.00

York Minster

 

Jika saya memang hanya akan berkunjung ke York biasanya sampai di York pukul 11.00 am dan kembali ke Leeds pukul 17.00 pm sudah lebih dari cukup.

Namun, ada satu tempat lagi yang menjadi incaran para mahasiswa ketika berkunjung ke York yakni York Designer Outlet. Tempat ini menawarkan pilihan brand ternama dengan harga miring sebut saja Fossil, Marks & Spencer, GAP, Next dan Ted Baker. Untuk mencapai York DO maka sebaiknya lakukan saat sampai di York.

Hal tersebut bisa ditempuh dengan menggunakan bus dari halte disebrang stasiun. Bus bernomor 7 dengan tujuan York Designer Outlet adalah pilihan utama. Apabila mengunjungi York saat akhir pekan dan bersama teman-teman, maka sebaiknya membeli tiket bus group seharga £5 untuk 5 orang dan sudah bisa digunakan sebagai tiket pergi-pulang. Namun jika berkunjung seorang diri atau di hari kerja maka tiket pp sekitar £3,10. Harga tiket ini khusus pp ke DO, sebab jika harga tiket harian pp yang berlaku untuk sekitar kota York sekitar £4,20 (getdown.org.uk).

Namun jika hanya ingin menikmati cantiknya kota York, biasanya saya berjalan kaki sepanjang hari. Hal ini karena semua tempat menarik berada dalam jarak yang berdekatan dan tentunya bisa menghemat biaya transportasi.

Saran saya, jika ingin berkunjung ke DO maka sebaiknya sampai di York lebih pagi mungkin sekitar pukul 9.00 – 10.00 am lalu habiskan waktu hingga pukul 3.00 – 4.00 pm di DO dan kembali ke York untuk jalan-jalan di dalam kota sebelum kembali dengan kereta pukul 8.00 – 9.00 pm. Tapi apabila memiliki banyak waktu untuk kembali ke York lagi, ada baiknya memisahkan hari berkunjung ke DO dan mengitari kota York demi menghindari ketergesaan.

Pesan penting: Bagi siapapun yang menikmati coklat sebagaimana saya menikmatinya, maka berkunjunglah ke York dan beli coklatnya!

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.02.02

References:

BBC UK. 2017. York’s Real Life Diagon Alley Popular with Potter Fans. [Online]. [Accessed 2nd May 2018]. Available from: http://www.bbc.co.uk/news/av/uk-england-york-north-yorkshire-42240392/york-s-real-life-diagon-alley-popular-with-potter-fans.

Get Down. Bus Services in York. [Online]. [Accessed 2nd May 2018]. Available from: http://getdown.org.uk/bus/bus/7.htm.

Shambles Market. Shambles Market About. [Online]. [Accessed 2nd May 2018]. Available from: http://www.shamblesmarket.com.

YorkMix. 2014. 14 Tooth-Achingly Sweet Facts about York and Chocolate. [Online]. [Accessed 2nd May 2018]. Available from: https://www.yorkmix.com/food-drink/fourteen-york-chocolate-facts/.

York’s Chocolate Story. York – The Chocolate City. [Online]. [Accessed 2nd May 2018]. Available from: https://www.yorkschocolatestory.com/the-story/york-the-chocolate-city/.