Menyusuri pusat kota Leeds

Hi, it’s been a while…

Setelah memasuki empat minggu masa perkuliahan ternyata waktu yang tersisa untuk mengumpulkan niat dan menulis tidak sebanyak sebelumnya.

Kalau kemarin udah ngomongin soalnya Leeds University Union, sekarang mari melangkah ke luar dari gedung kampus. Melongok ke jalan raya dan menikmati Leeds dari sudut pandang yang berbeda.

WhatsApp Image 2017-10-18 at 15.13.02

Hyde Park, Leeds

Selain kuliah biasanya keseharian diisi oleh jalan-jalan keliling city centre. Di sini biasa disebut city centre, pusat kota yang menjadi titik tengah aktivitas utama hiburan di Leeds berlangsung.

Mulai dari belanja sayur dan buah, fashion item, stasiun kereta dan halte bus utama hingga club dan bar pun tersedia. Bagi yang biasa tinggal di Jakarta mungkin Leeds nyaris nggak ada istimewanya sebagai tempat hiburan. Ya gimana nggak, di sini kalau Minggu – Kamis mayoritas shopping centre di Leeds udah tutup. Kerasa ramainya cuma Jumat-Sabtu yang mana mall  buka sampai jam 8 pm dan sepanjang jalan ramai anak muda yang sedang bar hopping.

Lantas, Leeds jadi nggak menarik? Nggak juga sih. Setelah tinggal di Jakarta yang sumpek, kadang jalan-jalan sore sendirian di Leeds menyusuri pusat kotanya cukup menenangkan. Suasana baru, kepadatan yang berbeda, minimnya bau polusi dan sejuknya udara di bulan Oktober adalah perpaduan yang pas.

Apa yang biasanya dilakukan mahasiswa di Leeds selain di kampus? Jawabannya tergantung sih, cuma yang paling sering gue lakukan adalah groceries shopping. Nggak ada alasan tertentu sih, tapi dengan menyusuri lorong-lorong supermarket secara nggak langsung itu menyenangkan dan cara melepas penat yang manjur.

 

WhatsApp Image 2017-10-18 at 15.13.04 (1)

Leeds Kirkgate Market

Banyak pilihan groceries shopping di Leeds yang bisa menyebabkan “kecanduan”. Sebut saja morrisons, ASDA, ALDI, atau Sainsbury’s dan TESCO. Kalau memang nggak bisa jauh dari cita rasa tanah air ya wajib mampir ke Sing Kee atau Hang Sing Hong, chinese store yang menjual mulai dari kangkung sampai ikan teri. Atau kalau memang pengen sekalian main ke pasar ya wajib mampir ke Kirkgate Market.

WhatsApp Image 2017-10-18 at 15.13.05

Leeds Kirkgate Market

(Nanti untuk beberapa tempat akan gue buat tulisan sendiri kali ya, mengingat banyaknya yang harus diceritakan dari tempat-tempat itu hehehe. Biar ada bahan tulisan yang mendorong nulis terus juga, jadi biar berasa ditagih-tagih sama diri sendiri).

Selain itu kadang di Jumat malam juga keluar nyobain bar atau club yang ada di tengah kota. Mengintip kegiatan anak muda di sudut barat wilayah Yorkshire ini. Mencoba beragam makanan dari mancanegara seperti hummus-nya Lebanon, felafel-nya Timur Tengah, thai foodpho-nya Vietnam, baklava-nya Turki, sapo tahu-nya China, atau yang pasti Fish & Chips yang merupakan makanan asliny Britania.

Sisanya ngapain? Jalan sih keliling kota-kota di West Yorkshire sekitar Leeds. Untuk itu gue udah pernah mampir ke Otley dan Castleford. Biasanya bisa ditempuh dengan bus sekitar 20-45 menit kok, jadi kalau lagi nggak ada kegiatan di dalam kota, bisa melirik kota-kota lainnya yang jaraknya deket dan transportasinya masih terjangkau di kantong.

WhatsApp Image 2017-10-18 at 15.13.08 (1)

Leeds City Square

Di sini nggak susah untuk jalan-jalan dan nggak perlu bingung mau menggunakan transportasi apa karena google maps udah lebih dari cukup untuk membimbing kita ke jalan yang benar.

Kalau main ke Leeds atau berencana tinggal di sini perlu diingat Leeds itu semacam kota party karena setiap malam pasti ada acara di club atau bar dengan tiket masuk yang sangat terjangkau atau bahkan nggak jarang free. Kalau demen party dan bar hopping, Leeds udah pasti harus jadi salah satu destinasi.

Bagi yang suka ketenangan, Leeds juga juaranya. Jarang terjadi keramaian yang besar, kalaupun ada hanya berpusat di city centre. Sementara wilayah-wilayah lainnya yang memang khusus untuk hunian hanya diisi oleh beberapa cafe dan bar kecil. Cenderungnya sangat tenang.

WhatsApp Image 2017-10-18 at 15.13.08

St. John’s Centre

Di Leeds semua terbagi dengan jelas, mana wilayah untuk mencari keramaian, bagian mana yang pas buat bersantai cuma dengan duduk anteng di taman, jalan kaki di tengah sejuknya angin atau makan gelato sambil mengamati jalanan sekitar.

Sepanjang September-November, Leeds itu biasanya memasuki musim gugur atau autumn. Gimana autumn? Kalau ditanya ke gue, jawabannya luar biasa buat jatuh cinta. Pernah nggak sih berharap Jakarta ademan, mendung gloomy, berangin sejuk tapi nggak ujan dan nggak bermatahari yang terik sampai buat keringetan mengguyur? Nah kalau pernah menyelipkan harapan seperti gue, maka autumn adalah jawaban dari semua harapan dan mimpi itu.

WhatsApp Image 2017-10-18 at 15.13.06

Leeds Queen’s Arcade

Terkadang hujan terjadi memang tapi ya hujan biasa aja. Rintik yang kadang bisa buat basah juga tapi nggak pernah dengan intensitas yang tinggi. Suhu udara selama ini sih hanya berkisar di 9 – 21 derajat. Bahkan setelah nyaris dua bulan di sini, gue bisa sampai di tahap 17 derajat ke atas merasakan gerah dan berani pake kaos doang jalan-jalan.

Tapi, kalau ngomongin soal angin, Leeds juaranya sih. Berkali-kali gue sulit jalan atau malah terdorong karena tekanan angin yang terlampau keras. Kalau udah gitu mending anteng aja di dalam ruangan atau nanti riskan masuk angin atau mampet flu yang nanggung gitu.

Oh, jangan berharap pada transportasi yang beragam macam di Leeds. Transportasi yang bisa dipilih di sini hanya bus untuk harga tiket harian 4,20 poundsterling seharian ke mana aja di dalam kota Leeds, atau 2,30 poundsterling untuk tiket sekali jalan atau 1 poundsterling untuk mahasiswa sekali jalan dengan menunjukkan student card.

WhatsApp Image 2017-10-18 at 15.13.04

Leeds Victoria Arcade Shopping Centre

Selain itu di sini juga ada uber mobil dan amber car kok (salah satu brand taksi online di Leeds, tapi pilihan taksi di sini cukup banyak). Harganya juga kalau lagi bareng-bareng nggak mahal kok karena memang jarak di Leeds nggak terlalu jauh-jauh banget juga.

Apa yang biasanya gue gunakan? Kalau ke kampus bahkan ke city centre biasanya gue jalan kaki hehehe. Lebih hemat dan udaranya itu buat nagih. Gue nggak mau menyia-nyiakan autumn yang sedang berlangsung dan tak mungkin terulang lagi ini. Mengingat masa indah gue di Leeds hanya untuk setahun, maka selagi bisa jalan gue akan pergunakan untuk jalan.

Jauh nggak? Ya lumayan lah. Pertama kali ke Leeds dan jalan kaki rasanya mau nyerah aja. Karena Leeds itu hilly. Semua jalannya itu berbukit dan menanjak naik turun. Tapi lama-lama nanti juga biasa kok. Gue jalan dari rumah ke kampus tiap harinya sekitar 20-25 menit, kalau dari rumah ke city centre itu sekitar 35-45 menit (untuk setiap kali jalannya ya bukan pp), tapi karena nggak ada polusi dan udara dingin itu sih jadi ya enak aja jalan selama itu.

Satu yang juga nggak kalah penting, kalau yang ke toilet sebaiknya setiap ketemu toilet langsung dimanfaatkan. Karena di Leeds agak susah mencari toilet di tempat umum. Bahkan di shopping centre nya yang besar-besar pun hanya ditemukan satu – dua toilet. Lebih baik siaga daripada pas kebelet bingung harus ke mana. Ya, kalau mepet banget langsung cari McD terdekat ya.

Gimana rasanya nyaris dua bulan ini? Jawabannya satu, Leeds itu menyenangkan dan autumn membuat semuanya terasa lebih indah.

WhatsApp Image 2017-10-18 at 15.13.03

Leeds Trinity Centre

Penting nih, Leeds itu murah kok. Inflasi UK yang memang nggak setinggi Indonesia juga salah satu alasannya sih. Terakhir dari data Office for National Statistics UK yang rilis Kamis (17/10), inflasi Inggris September 2017 menyentuh level tertingginya dalam lebih dari 5 tahun terakhir yakni 3,0% atau naik dari September 2016 yang hanya 2,9%.

Kembali ke pembicaraan awal, di sini makan fish and chips lengkap porsi gede masih bisa di bawah 5 poundsterling sementara kalau di London paling murah itu kisaran 8 poundsterling. Kalau sewa rumah per kamarnya per orang masih banyak banget yang di kisaran 350 – 550 poundsterling per bulannya sementara di London paling murah itu kisaran 700 poundsterling. Kebayang kan perbandingannya?

Jadi, di sini biaya hidup sebulan yang standar dengan tingkat jajan sehari 5-10 poundsterling dengan shopping fashion item sekali-kali, plus langganan bus dan sewa rumah masih bisa di kisaran 750 – 1000 poundsterling. Itu gaya hidupnya udah bisa oke banget kok, tanpa kekurangan sama sekali.

Cuma kalau memang pecinta keramaian yang super sih Leeds harus dipertimbangkan. Takutnya malah jadi bosen. Karena kadang kalau lagi musim libur jangan heran kalau mendadak kotanya bakal sangat sepi dan nyaris tak berpenghuni.

Selain itu, Leeds udah tepat untuk jadi pilihan kalau mau kuliah di Inggris kok. – NDN

WhatsApp Image 2017-10-18 at 15.13.09

Leeds City Centre

Advertisements

LUU, Tempat Favoritnya Para Mahasiswa

25 September 2017,

Jauh melompat melewati hari. Akibat banyaknya kegiatan yang harus diselesaikan sebelum memasuki minggu pertama perkuliahan, janji untuk menulis lebih rutin pun sempat terbengkalai.

Akan ada masanya aku akan bercerita mengenai bagaimana mencari tempat tinggal di Leeds, membeli jajanan dan bahan makanan yang halal di sekitar kampus dan tempat tinggal hingga transportasi dan bagaimana keseharian di Leeds terlewati.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.16

Salah satu tangga di LUU

Karena ini hari pertama perkuliahan di mulai. Maka sebagai pembuka,

“Selamat datang di Week 1”, begitu kalau kata mereka-mereka yang sudah memasuki week 52 atau akhir dari perkuliahan dan bersiap menyandang titel S2 di pundaknya.

Namun posting-an ini tidak akan bercerita mengenai kegiatan perkuliahan itu sendiri. Ada satu gedung yang menarik dan pasti akan menjadi pusat perhatian saat kalian berkunjung ke University of Leeds, yakni Leeds University Union (LUU).

 

Secara sederhana, gedung ini berlantai 4 dan menjadi tempat terbuka bagi siapa saja mahasiswa/i Leeds yang hendak sekadar bersantai, makan siang hingga bergabung dan melaksanakan aktivitasnya sebagai bagian dari suatu komunitas.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.10

Area makan di depan Wok & Go, LUU

LUU tidak hanya gedung tapi juga pusat kegiatan mahasiswa/i Leeds. Membawahi sekitar 380 komunitas dan memilliki beragam kafe, restoran, coffee shop, ruang serba guna hingga ruangan musholla bagi muslim.

Area bawah LUU adalah bagian terfavorit buat aku sendiri. Selain banyaknya sofa dan kursi serta bean bag yang bebas digunakan kapan saja, di sini juga terdapat sebuah restoran bernama Wok & Go yang menjual “Chinese and Asia Food”. Tentunya memanjakan lidah walau tak selalu ramah di kantong mengingat harga untuk seporsi makanannya berkisar 4,5 – 6,5 poundsterling. Tapi ya untuk sesekali jika malas masak dan membawa bekal ini bisa jadi alternatif.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.12

Sebagai catatan satu porsi makanan di Wok & Go sangat padat dan besar sehingga bisa untuk dua kali makan (buat saya sih) hehehe.

Tidak hanya ada Wok & Go, di sisi lain lantai ini juga terdapat Common Ground Coffee Shop dengan beragam menu minuman mulai dari kopi, susu dan teh yang bisa dijadikan andalan. Begitu juga dengan kue, yogurt atau buburnya. Menu andalan aku adalah chococino (susu coklat yang sebenarnya adalah children menu tapi siapa saja bebas pesan plus sebagai bonus porsinya besar kok). Selain enak, harganya juga sangat murah yakni hanya 50p. Bandingkan dengan rata-rata minuman di Common Ground ukuran dewasa yang berkisara 1 poundsterling (untuk teh) dan 3 poundsterling (untuk kopi dan susu).

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.14

Area tempat duduk Common Ground

Tidak hanya itu, masih di lantai yang sama kita juga bisa menemukan supermarket yang menjual beragam makanan dengan harga murah seperti sandwich dan makanan cepat saji lainnya yang bisa dihangatkan di student kitchen.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.14 (1)

Area student kitchen sendiri terdapat di lantai yang sama. Di sana kita bisa menemukan microwave, tap water dan juga air panas. Jika membeli sesuatu di supermarket (bernama essentials) kita juga bisa meminta sendok atau garpu, jika memang lupa membawanya.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.30.53

Essentials Supermarket LUU

Jika ingin berburu aksesoris khas kampus juga ada di lantai ini. Toko bernama Gear siap menawarkan beragam produk mulai dari kaos, jaket, gelas, hingga pin berlogo University of Leeds. Bagi yang menggemari salad ataupun vegetarian ada toko bernama Salad Box.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.30.51

Gear Store

Mencari kacamata? Silahkan mampir ke toko bernama Bayfields. Selain juga ada cabang bank Santander yang memang merupakan bank resmi kampus serta toko perawatan kuku, rambut dan wajah bagi perempuan bernama Pamper Me. Di bagian lainnya pun terdapat Old Bar yang terkesan klasik namun menarik perhatian untuk sekadar menghabiskan waktu minum kopi. Atau jika memang pecinta makanan Lebanon seperti Humus, ada juga loh Humpit Bar di sebelah Wok & Go.

Puas menjelajah area ini, kita bisa turun lagi dan menemukan Riley Smith Theatre dan Pyramid Theatre yang merupakan tempat diselenggarakannya beberapa acara termasuk konser dan pemutaran film di kampus.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.15

Area menuju Pyramid dan Riley Smith Theatre

Bagian atas adalah lobby dengan beragam sofa warna warni yang tersebar di seluruh ruangan. Di lobby ini juga kita bisa menemukan staff LUU dan menanyakan hal-hal dasar mengenai kampus seperti lokasi gedung perkuliahan hingga acara terbaru yang diselenggarakan komunitas dan membeli tiket acara tersebut secara langsung.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.19

Lobby LUU

Pada lantai yang sama juga ada beberapa restoran dan coffee shop yang bisa dijadikan alternatif seperti Terrace Bar dan Refectory.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.17 (1)

Terrace Bar LUU

Di bagian atas gedung LUU akan ditemukan banyak ruangan kelas dan serba guna yang biasa digunakan komunitas untuk mengadakan pertemuan rutinnya. oh jangan lupa, ada ruangan bernama Rooted, di mana mahasiswa/i bisa ikut aktif bercocok tanam dan aktivitas tersebut sifatnya volunteering loh.

Maka jangan heran jika berkunjung ke LUU maka akan ditemukan ratusan mahasiswa baik yang sedang bersantai maupun mengerjakan tugas, individual dan berkelompok. LUU tidak pernah sepi dari mahasiswa hingga malam menjemput.

Walau sulit mendapatkan tempat yang nyaman di jam ramai, namun kaki ini tetap memilih melangkah ke LUU karena memang lebih nyaman menunggu dan bersantai di sini daripada di sudut-sudut taman kampus yang sedang dingin-dinginnya.. (NDN)

WhatsApp Image 2017-09-25 at 13.31.18

Menginjakkan Kaki di Tanah Britania

Hari pertama di Leeds, 31 Agustus 2017.

Kamis siang, sesampainya di Manchester International Airport, saya masih harus melanjutkan perjalanan ke Leeds. Salah satu moda transportasi yang ringkas dan memungkinkan saya dengan barang bawaan yang sedemikian besar untuk masuk adalah kereta.

Tapi sebelum mencari petunjuk arah menuju stasiun kereta, saya dan teman-teman terlebih dahulu mencari kartu telefon. Berdasarkan diskusi sebelumnya dengan teman-teman dan senior di Leeds maka kami sudah mengantongi beberapa nama provider telfon yang bisa dijadikan pilihan.

WhatsApp Image 2017-09-10 at 19.04.09

Hanya saja di MAN, hanya tersedia 3 pilihan provider telefon yakni 3 (Three), EE dan Lebara. Pilihan pun jatuh pada EE karena pertimbangan saran senior PPI yang mengatakan sinyalnya cukup bagus di Leeds. Walau sebenarnya sejak awal saya mengincar Vodafone karena katanya memiliki kualitas seperti Telkomsel di Indonesia tapi keinginan untuk segera mengabari keluarga dan pacar membuat saya menjatuhkan pilihan ringkas pada EE.

WhatsApp Image 2017-09-10 at 19.04.10

Kartu Telefon EE seharga 20 pounds

Harganya saat itu 20 poundsterling untuk 2GB dengan bonus 10GB untuk sebulan pertama. Pemasangan dan aktivasi pun dibantu oleh si mbak penjaga toko. Oh iya, kartu telefon dijual di dekat pintu keluar bandara MAN, persis di sisi kiri di dalam sebuah supermarket.

Selesai mengurus kartu telefon, kami pun melanjutkan perjalanan ke stasiun kereta. Diarahkan untuk naik satu lantai dan setelahnya menyebrang di skywalk bandara. Lewat skywalk kami pun diarahkan turun dan langsung menemukan counter penjualan tiket. Setelah itu kembali disarankan untuk turun 1 lantai menuju peron kereta.

WhatsApp Image 2017-09-10 at 19.04.08

Keluar dari bandara MAN, di sisi kanan ada lift menuju stasiun

Sebenarnya untuk tiket kereta sendiri bisa dibeli via online sejak jauh hari misal melalui (Virgin Trains) http://www.virgintrains.co.uk. Jika mendarat di Manchester maka ambil rute Manchester Airport ke Leeds Station (LDS). Hanya saja sayangnya saya tidak memiliki dan menggunakan kartu kredit. Padahal jika membeli jauh hari dari Virgin Trains harga tiket kereta dari MAN ke Leeds Station hanya berkisar 11-12 poundsterling, berbeda jauh dengan membeli tiket on the spot yang menghabiskan 26,60 poundsterling.

Tapi karena memang sudah dipersiapkan, saya pun membayar dan langsung menuju peron yang dituju. Sulit untuk menemukan peron mana yang akan membawa kita ke Leeds. Tersedia 8 peron yang berjejer horizontal dan tidak ada petunjuk yang jelas. Di depan saya sudah tersedia sebuah kereta dengan tujuan tertulis “Newcastle”, di sisi kanannya terdapat kereta dengan tujuan “Edinburgh” dengan dua kereta lain masih tanpa tujuan.

WhatsApp Image 2017-09-10 at 19.02.00

Peron-peron di stasiun kereta bandara Manchester

Mengingat barang bawaan yang cukup banyak, maka saya dan teman-teman memutuskan untuk mencari tempat menunggu dan meletakkan koper-koper di sana. Tersedia ruang tunggu berpintu kaca lengkap dengan coffee shop dan supermarket di tengah stasiun.

Namun karena minimnya petunjuk, saya dan seorang teman memutuskan untuk mencari information center. Di depan ruang tunggu kebetulan sedang ada seorang petugas stasiun dan ternyata setelah bertanya, kereta bertujuan “Newcastle” itu lah yang seharusnya akan membawa kami ke Leeds.

WhatsApp Image 2017-09-10 at 19.04.07

Tiket kereta MAN – LDS

Tiket yang dibeli membebaskan kami untuk duduk di peron manapun, maka mengingat barang bawaan yang banyak, saya dan teman-teman mencari peron yang cukup sepi untuk meletakkan koper di ujung pintu. Perjalanan sendiri memakan waktu sekitar 1 jam 5 menit.

Pemandangan yang tersaji pun memanjakan mata. Jejeran rumah bata merah khas Negeri Ratu Elizabeth menyapa, belum lagi hamparan bukit hijau dan suasana mendung memberi pernyataan tegas bahwa kini saya sudah sampai di Britania Raya. Suhu udara pun menunjukkan 16 derajat celcius dengan beberapa daerah yang diguyur hujan tipis.

Sesampainya di Leeds, alhamdulillah kami sudah dijemput oleh perwakilan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Leeds. Setelah berkenalan dan berfoto bersama tanda sudah sampai dan dijemput dengan selamat, kami ikut dengan salah satu kenalan teman, Bang Aswin, untuk diantarkan ke rumah sementara selama di Leeds.

WhatsApp Image 2017-09-10 at 19.01.58

Di depan pintu Leeds Station, dijemput Mas Adi ketua PPI Leeds 2016-2017

Memang di Leeds kami menumpang di akomodasi sementara. Setelah diantar kami diajak makan siang bersama di rumah Bang Aswin.

Perasaan langsung membuncah setelah melihat apa yang terhidang di meja makan. Mbak Lia, istri bang Aswin, sudah memasak sop daging lengkap dengan teri dan telor balado. Rasanya ingin menangis haru, setelah perjuangan 22 jam di perjalanan dengan makanan yang tak pas di lidah.

WhatsApp Image 2017-09-10 at 19.01.22

Makanan pertama di Leeds yang disajikan di rumah Bang Aswin

Sesaat terbayang wajah mama di rumah yang selalu menyajikan makanan serupa sebagai penawar lelah setiap kali pulang kerja. Tak dianya, meski sudah terpisah 11.758 km, kata Distance Calculator nemu di Google, hangat rumah itu masih terasa jelas.

Terbersit satu pelajaran jelas dalam ingatan bahwa ke mana pun kaki melangkah akan selalu ada keluarga yang menanti. Meski keluarga di sini tidak lah berkaitan hubungan darah, namun kebersamaannya tak perlu diragukan.

Setidaknya untuk berpegangan, perjalanan ini tidak ditempuh seorang diri. Ada orang-orang yang berjuang bersama kita dengan tujuan yang sama, bertahan dan berhasil di negeri orang, untuk nantinya menyelipkan kebanggaan pada keluarga di rumah yang senantiasa berdoa untuk keselamatan, kebahagiaan dan keberhasilan kita.

Setelah waktu menunjukkan pukul 16.00 kami memutuskan pulang. Imbas dari jetlag yang masih menguasai, ketika waktu menunjukkan pukul 16.30 di Leeds atau pukul 22.30 di Jakarta maka seketika kami pun tertidur lelap.

Hari pertama di Leeds pun berjalan manis, cuaca dingin sekitar 17-18 derajat celcius berhasil membuat kami tidur dengan sweater dan kaos kaki lengkap. Meski heater ruangan sudah menyala. Badan butuh beradaptasi dengan lebih keras, belum lagi rindu akan keluarga dan pacar sudah menyerang. Namun tak ada waktu untuk bermuram diri, kantuk menyerang dan mata tak lagi berkompromi untuk terus melanjutkan aktivitas lebih panjang dari ini.

Tak berhenti di sana, pukul 03.00 waktu Leeds atau 09.00 waktu Jakarta kami pun terbangun segar dan menghabiskan waktu mengobrol hingga pagi menjemput. Saatnya bergegas karena urusan administrasi sudah menanti dan bersiap menjadi warga Indonesia baru di Leeds.

WhatsApp Image 2017-09-10 at 19.02.01

Di salah satu peron stasiun Manchester sesaat sebelum berangkat ke Leeds, Kamis, 31 Agustus 2017

Masjid di Sudut Bandara Ataturk

31 Agustus 2017,

Masih kisah tentang transit di Ataturk International Airport, Istanbul, Turki. Sampai di bandara sekitar pukul 4.30 subuh, setelah mendapat tempat menunggu, kami memutuskan untuk melaksanakan sholat subuh.

Mencari prayer room atau yang di Turki disebut Mescit di Ataturk tidak lah sulit. Di sepanjang papan pengumuman tertulis arah menuju Masjid.

Di areal masjid ditemukan 3 ruangan berbeda yang bisa digunakan untuk menunaikan semua kewajiban sebelum sholat. Jangan lupa ikuti arah petunjuk untuk perempuan atau tertulis Bayan dalam bahasa Turki dan Women dalam bahasa Inggris. Tidak perlu khawatir karena ini bandara internasional, semua informasi disertakan simbol dan bahasa Inggris untuk memudahkan para turis.

Pertama area toilet yang berdiri persis di sebelah ruang wudhu. Terdiri dari 3 toilet cukup bersih namun sebagai catatan, layaknya negara Eropa lainnya, jangan harap untuk menemukan keran atau air. Jadi sebaiknya sedia tisu basah bagi yang tidak biasa membasuh tanpa air.

 

WhatsApp Image 2017-09-07 at 11.14.10

Pintu masuk area wudhu di Ataturk

Memasuki ruang wudhu, pemandangannya sedikit berbeda dengan di Indonesia. Ada bangku-bangku keramik yang berjejer rapi di depan setiap kran air. Sehingga di Turki biasanya mereka duduk sembari wudhu. Agak sedikit kikuk saat pertama kali mencoba, namun ternyata enak juga hahahaa.

WhatsApp Image 2017-09-07 at 11.14.08

Tempat wudhu lengkap dengan kursi dan sabun cuci tangan

Area wudhu pun sangat bersih. Dibelakang tempat duduk berdiri sebuah rak untuk menaruh tas, sepatu, jaket dan barang-barang yang kita miliki. Selain juga mereka menyediakan sabun cuci tangan di samping kran, sehingga kita bisa bebersih dulu sebelum mengambil wudhu.

WhatsApp Image 2017-09-07 at 11.14.08 (1)

Rak sepatu dan barang-barang di tempat wudhu

Memasuki area masjid khusus wanita, maka akan disambut ruangan tidak terlalu besar yang dingin karena AC dan dilengkapi sajadah di seluruh ruangan. Namun berbeda dengan masjid atau musholla di Indonesia, sedikit sulit untuk menemukan mukena yang dipinjamkan masjid. Jadi ada baiknya membawa mukena sendiri.

WhatsApp Image 2017-09-07 at 11.14.09

Pintu masuk area masjid khusus perempuan di Ataturk

Dari apa yang aku perhatikan banyak warga muslim di Eropa sholat tanpa mengenakan mukena. Tidak ada yang salah dengan itu, semua kembali pada kepercayaan dan ajaran masing-masing, namun karena kita di Indonesia terbiasa dengan mukena, ada baiknya membawa mukena sendiri agar lebih nyaman.

Di sisi area masjid pun disediakan rak sepatu sebelah kanan pintu masuk. Sedangkan untuk koper dan ransel kabin bisa dibawa masuk ke area masjid. Namun sebaiknya diletakkan di area yang terjangkau mata.

Bagi yang sedang bepergian dan transit di Turki pasti tidak akan mengalami kendala untuk melaksanakan sholat. Fasilitas di sini sangat membantu dan memudahkan kita melakukan kewajiban sebagai seorang muslim. – ND

Mencari Koneksi Internet di Ataturk

31 Agustus 2017, Ataturk International Airport, Turki.

Menapaki lorong-lorong bandara ini menimbulkan rasa nostalgia yang membuncah. Teringat pertama kali menginjakkan kaki di sini pada tahun 2013 lalu. Saat itu kunjungan ke Turki berusia 15 hari untuk sebuah misi budaya tari tradisional dengan grup Kultura Indonesia Star Society.

WhatsApp Image 2017-09-04 at 08.24.57

Ataturk International Airport, Istanbul, Turki

Kembali pada perjalanan kali ini, aku memiliki sekitar 4 jam untuk bernostalgia dan menganggumi Ataturk sebelum harus kembali take off menuju Manchester.

Sembari menanti yang pertama kami lakukan (aku berangkat dari Indonesia bersama tiga orang sejawat dengan tujuan sama, yakni menempuh studi master di Leeds), mencari papan pengumuman penerbangan dan melihat di gate berapa nantinya pesawat kami akan berlabuh.

Namun karena masih terlalu jauh dari jam boarding yang tertera di layar hanya “waiting for the gate”. Lalu kami bergeser ke bagian informasi dan menanyakan di mana kami bisa mengakses internet gratis untuk segera mengabarkan keluarga di Indonesia bahwa kami sudah tiba di Turki dengan selamat.

Petugas informasi mengatakan bahwa di ujung lorong ada Starbucks yang memiliki free wifi dengan hanya menunjukkan boarding pass. Saat itu kami belum menyadari bahwa yang dimaksud adalah sebuah alat bernama Wispotter.

Sesampainya di Starbucks kami memutuskan untuk membeli minuman dan menanyakan wifi. Tapi ternyata Starbucks tidak menyediakan wifi. Sembari memutar otak, daftar free wifi yang terbuka di koneksi handphone salah satunya dari bandara Ataturk hanya saja koneksinya tidak stabil.

Pasca berhasil mendapatkan koneksi dan mengabari keluarga, sinyal pun menghilang. Untuk terhubung ke layanan ini sangat mudah kok, tinggal pilih layanan gratis koneksi untuk 2 jam, masukkan nomer telfon (saat itu nomer telfon Simpati milikku yang memang masih terhubung di HP) lalu sesaat akan dikirimkan nomer verifikasi melalui SMS. Tinggal masukin nomer verifikasi dan connect deh.

Jangan lupa untuk menyalakan roaming data terlebih dahulu ya di setting HP. Kalau tidak ingin terpotong pulsanya mobile data sebaiknya di off kan dulu.

Salah seorang teman memutuskan mencoba jaringan Wispotter dengan melakukan koneksi via Facebook. Ia pun berhasil. Namun hal tersebut tidak berjalan sama di handphone ku.

WhatsApp Image 2017-09-04 at 08.24.58

Mesin EDC Wispotter dan Internet PIN

Tidak ada yang bisa aku lakukan saat itu selain menikmati Java Chip Frappucino yang ku pesan dan mengamati lingkungan sekitar. Oh, sebagai informasi kita bisa berbelanja di sebagian besar shop tenant di Ataturk dengan menggunakan US Dollar dan Euro jika tidak mengantongi Lira Turki. Hanya saja mereka tidak menerima pecahan besar seperti US$ 50 atau US$ 100.

Ketika itu lah mata tertuju pada sebuah alat seperti mesin EDC (electronic data capture) untuk debit ATM. Kaki pun melangkah ke meja di pojok belakang tenant Starbucks tersebut. Tertera informasi yang harus dilakukan untuk dapat kode mengakses internet.

 

 

Baru lah sadar bahwa ini yang tadi dibicarakan oleh petugas informasi bandara. Yang perlu kita lakukan adalah :

  1. Klik tulisan “get the wifi PIN” yang ada di layar EDC.
  2. Setelahnya pilih scan boarding pass.
  3. Kemudian dekatkan barcode boarding pass ke bagian scan.
  4. Maka dalam beberapa saat di mesin EDC akan muncul deretan angka yang akan menjadi kode untuk free wifi.
  5. Buka jaringan wifi di handphone kemudian pilih Wispotfree.
  6. Setelah terhubung maka ada tiga pilihan, connect via Facebook, masukkan kode, atau verifikasi via nomer telfon.
  7. Pilih masukkan kode, muncul layar selanjutnya, tulis ulang kode yang tertera di layar EDC.
  8. Agree pada terms and condition dan connect.
  9. Sebelum beranjak pergi jangan lupa klik finish pada layar EDC agar kode kita tidak digunakan oleh pengguna selanjutnya.

Sebagai informasi tambahan, koneksi free wifi ini hanya terhubung di sekitar area restoran dan kafe. Sementara saat melangkah ke pintu boarding, maka sinyal wifi akan menghilang.

Meski hanya bertahan sekitar 1 jam, setidaknya orang rumah dan kerabat terdekat sudah mendapat kabar bahwa kita baik-baik saja. Itu sudah lebih dari cukup kan?

WhatsApp Image 2017-09-04 at 08.24.56

Turkish Ice Cream US$ 7 atau 8 Euro atau 15 Lira Turki

Plus sebagai bonus, sempat lah melakukan update sedikit di sosial media, seperti yang aku lakukan hahahhaa. Jadi, jangan ragu untuk transit di Ataturk tanpa mengaktifkan paket data internasional dari tanah air.

Tanpa terasa, 3 jam lebih telah berlalu. Pintu gate 21 sudah terbuka, saatnya melanjutkan penerbangan ke Manchester International Airport dan menghadapi kenyataan!

Sebuah Perjalanan dimulai

30 Agustus 2017,

WhatsApp Image 2017-09-02 at 10.42.23

Leeds Station, 31 Agustus 2017

Menapaki sebuah cerita baru yang akan menjadi langkah awal dari suatu perjalanan panjang. Kesempatan memiliki kehidupan yang berawal dari mimpi.

Bermodal sebuah tiket pesawat berlabel Turkish Airline, langkah bermula ketika kaki memasuki Gate 1 terminal 2D Bandara International Soekarno Hatta, Tangerang, Banten.

19.45 adalah waktu boarding time yang menyeret kaki meninggalkan tanah air. Kaki itu tak lagi terjejak pada tanah negeri yang dicinta. Maka pada detik itu, tugas dan mimpi mengambil alih beban di pundak. Ada kewajiban pulang membawa nilai tambah dari apa yang sudah dipertaruhkan sebelumnya.

Dalam 12 jam perjalanan menuju Istanbul, ibukota negara Turki, dada masih terasa lapang. Penantian lebih kurang 4 jam pun tak berarti banyak.

07.25 waktu boarding yang tertera di kertas. Dengan nomor penerbangan TK 1993, pesawat pun membawa diri membelah lautan ke Manchester, United Kingdom. Tempat yang menjadi objek mimpi sejak belasan tahun silam.

Udara dingin menerpa di pintu keluar Manchester International Airport (MAN). Saat itu suhu udara bertengger di 18 derajat celcius. Cukup ramah dan sesuai harapan seorang anak tropis yang memimpikan hari dengan udara sejuk.

Meski tak pelak, tangan pun bergerak refleks merekatkan jaket yang seadanya. Hati riang tak menjamin tubuh terbiasa dengan kesejukan yang diharap.

Saat melangkah keluar MAN, arah mata langsung mencari tulisan rail station. Bermodal tiket 26,60 poundsterling, kaki menapak kereta tujuan akhir Newcastle.

“Leeds Station” tertera jelas di tengah stasiun bertingkat dua. Bukan pemberhentian akhir bagi sang kereta, tapi jelas ini tempat yang menjadi perhentian ku.

Ketika itu pula lah kenyataan mengetuk pintu hati dan pikiran. Bahwa kini, mimpi itu sudah terganti dengan kenyataan yang harus segera dituntaskan. Karena ada tanggung jawab dan kewajiban yang sudah menanti.

Momen yang tepat untuk segera bergegas dan bersiap diri….

karena kini perjalanan itu sudah dimulai! Selamat datang.

WhatsApp Image 2017-09-02 at 10.42.23 (1)

Jawaban Keteguhan

Suatu waktu kala senja siap menjemput, aku terpaku pada sebuah cerminan diri di depan gedung pencakar langit yang berdiri menjulang. Persis di sudut paling kiri, aku menatap nanar gambaran diri seorang pekerja yang baru menyelesaikan sebagian dari tugasnya hari ini. Sebagian. Perjalanan menuju kata usai masih panjang, bahkan ketika hari sudah berlalu lebih dari setengahnya.

Gedung tinggi ini jelas bukan kantor ku bernaung. Aku hanyalah satu dari puluhan orang yang berlalu lalang dengan beragam kepentingan pada si empu pemilik gedung berlapis kaca ini.

Pikiran seketika melayang pada pertanyaan mengapa aku sedianya bertahan dan hanya menjadi pengunjung jejeran gedung bertingkat? Keluar masuk silih berganti, memilih jadi tamu daripada penghuninya.

Kalau kalian lihat dari penampilan juga jelas terpapar perbedaan yang mencolok. Aku hanya bermodal ransel, kemeja, jeans dan sepasang sneakers. Pakaian paling rapi yang terlintas di kepala tadi pagi.

Sementara perempuan-perempuan hilir mudik ini mengenakan blazer dengan sepatu hak tinggi. Tidak ketinggalan pulasan wajah dan tatanan rambut yang sempurna. Boro-boro menyiapkan riasan seperti mereka, tadi pagi aku bangun terlambat setelah malamnya berkutat dengan materi yang ku siapkan untuk kunjungan hari ini.

Jelas itu sebuah alibi. Aku bisa saja menyiapkan alarm lebih pagi dan bersiap diri seperti mereka. Tapi aku memang tidak terbiasa, lagipula tidak ada tuntutan demikian. Aku bebas berekspresi selayaknya yang aku anggap pantas. Dan aku tanpa riasan adalah aku yang sudah pantas.

Percuma membandingkan sejuta alasan, aku dan mereka memang terpatri berbeda.

Lantas, apa aku tak merasa tergiur? Bohong jika aku menjawab tidak. Pernah tiba suatu masa aku mempertanyakan alasan mengapa aku mempertahankan profesi ini. Bukan karena kantor ku tidak mengizinkan aku bersepatu hak tinggi atau menggunakan make up tapi mobilitas ku yang tidak memungkinkan.

Dari ratusan pertanyaan yang hilir mudik dalam 3 tahun terakhir, terselip segelintir jawaban yang membawa ku pada keteguhan hati melanjutkan profesi ini.

Aku dan menulis sudah ditakdirkan beriringan, aku dan profesi ini adalah mimpi yang akhirnya berubah wujud menjadi nyata, aku dan kantor ini saling melengkapi dalam hubungan yang penuh kehangatan. Untuk saat ini, tidak ada rasanya yang bisa mendesak ku untuk segera beranjak.

Mungkin nanti ada kalanya “aku” meminta diri ku sendiri melangkah ke arah yang berbeda. Menuntut perubahan dan kebaruan. Yang mungkin saja jawabannya adalah hengkang. Tapi itu mungkin aku dalam masa depan.

Jelas bukan aku yang terpatri dalam bayangan di kaca sore ini. Karena perempuan dengan ransel kuning ini masih bersedia untuk tinggal, menanti ojek online yang siap menjemputnya. Lalu bergegas kembali ke “rumah”nya. Sebab, seindah apapun “rumah” orang, kita hadir hanya untuk bertandang bukan untuk menetap di bawahnya. Atau mungkin hanya sekadar numpang mematut diri.

img_2885

#TBPMonthly #Stay #TheBlogProject